Home Budaya Cerita Pengrajin Keris di Sumenep Bertahan Ditengah Pandemi

Cerita Pengrajin Keris di Sumenep Bertahan Ditengah Pandemi

SHARE
Toni, salah satu pengrajin keris di Sumenep, Foto:Istimewa

POJOKSURAMADU.COM, Sumenep – Kabupaten Sumenep merupakan daerah yang berada di ujung timur pulau Madura dengan potensi wisatanya yang memukau.

Tak hanya itu, di Sumenep juga banyak budaya yang hingga kini masih dilestarikan, salah satunya yakni keris hingga daerah tersebut dijuluki sebagai Kota Keris lantaran banyaknya pengrajin keris di daerah tersebut.

Jumlah empu keris di Kabupaten Sumenep telah diakui oleh UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural) sebagai Kabupaten dengan jumlah empu terbanyak di Indonesia, dan pada 9 November 2014 lalu.

Bahkan, Bupati Sumenep telah mendeklarasikan Sumenep sebagai Kota Keris yang ditandai dengan penandatanganan Prasasti dan Peresmian tugu keris yang saat ini ada di Desa Pandian, Kecamatan Kota, Sumenep.

Seiring berjalannya waktu lahirlah empu-empu muda yang mengikuti jejak para empu terdahulu untuk tetap bisa melestarikan dan mengembangkan warisan budaya leluhur.

Salah satu diantaranya yakni Toni, pemuda yang masih berusia 23 tahun ini menceritakan, bahwa membuat keris memang sudah tradisi turun temurun di keluarganya.

Baca Juga:  Ini Pesan Bupati Bangkalan di Hari Jadi ke 488

Sebelum menjadi empu, ia pernah bekerja di sebuah perusahaan swasta setelah ia lulus dari kuliah. Namun tak lama kemudian, ia harus pulang kampung diminta keluarganya menjadi pembuat keris atau empu.

“Menjadi empu atau pengrajin keris itu memang sudah menjadi pekerjaan turun-temurun di keluarga saya. Sebelumnya, saya sempat bekerja di salah satu perusahaan swasta.

“Namun seiring berjalannya waktu, saya berhenti dan memilih untuk kembali menjadi empu ataupun pengrajin keris, karena menjadi seorang empu atau pengrajin keris adalah bagian dari sumpah saya untuk ibu pertiwi,” kata Toni.

Toni mengaku, selain dia dan keluarganya, mayoritas masyarakat di Desa Palongan, Kecamatan Bluto, Sumenep berprofesi sebagai pengrajin keris. Harga yang dipatok pun bervariasi tergantung dari tingkat kerumitan keris tersebut.

“Mayoritas masyarakat disini juga berprofesi sebagai pengrajin keris, kalau untuk harganya ya tergantung tingkat kerumitan dalam proses pembuatan kerisnya, kalau saya harga paling rendahnya itu sekitar satu juta rupiah,” paparnya.

Baca Juga:  Gelar Pemilihan Chong Kene' Bhing Ana', Ini Harapan Bupati Bangkalan

Menurut Toni, menjadi pengrajin keris bukan hanya tuntutan pekerjaan, tapi profesi itu ia tekuni untuk menjaga tradisi keluarga dan keberlangsungan budaya Sumenep meski kadang tidak menjanjikan secara ekonomi.

“Ini bukan perkara penghasilan tapi demi keberlangsungan nilai nilai sejarah dan meneruskan tradisi keluarga,” ungkap Toni.

Saat ini, penjualan keris menurun drastis akibat dampak covid-19. Saat masa normal satu bulan bisa membuat 5 hingga 7 keris pada saat pandemi seperti saat ini ia hanya membuat 2 hingga 3 keris.

“Sejak pandemi covid-19, penjualan keris lebih sedikit, ekonomi nasional sedang tidak membaik, ya saya rasa pandemi ini sangat berdampak sekali bagi pengrajin keris disini, penjualannya itu menurun drastis,” katanya.

Bahkan, demi tetap eksis ditengah pandemi covid-19, para pengrajin keris di Sumenep harus rela menurunkan harga hingga 50 persen.

“Kami terpaksa harus menurunkan harga kerisnya,”tandasnya. (Ris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here