Home Opini Ghiroh Islam Tinggi, Pembuktian Cinta Umat Kepada Nabi

Ghiroh Islam Tinggi, Pembuktian Cinta Umat Kepada Nabi

SHARE
Gambar ilustrasi

Oleh: Dwi Indah Lestari, Pemerhati Persoalan Publik

Dunia sedang bergejolak. Bukan karena Covid, namun disebabkan oleh aksi penistaan terhadap Kanjeng Nabi Saw yang dilakukan sebuah majalah kontroversial Charlie Hebdo. Majalah yang terbit di Prancis ini begitu lancang menggambar sosok Muhammad Saw dalam bentuk karikatur. Sontak hal ini membuat umat Islam meradang marah.

Sudah kesekian kalinya majalah Charlie Hebdo melakukan hal tersebut, seakan tak takut terus memantik emosi umat Islam. Atas nama kebebasan berekspresi hal itu mereka lakukan. Bahkan ironisnya, aksi penistaan terhadap sosok Nabi yang sangat dicintai dan dihormati kaum muslimin ini, malah didukung oleh Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

Umat bangkit membela. Dimana-mana kecaman dan hujatan membahana. Tak cukup itu, aksi boikot produk-produk Prancispun kencang diperdengarkan pemimpin negeri-negeri muslim. Sayangnya, Prancis tetap tak bergeming untuk meminta maaf. Bahkan menuduh bahwa semua kisruh ini akibat serangan Islam teroris.

Para ulama turut bersuara, tak terkecuali di Indonesia. Dalam sebuah acara memperingati Maulid Nabi Saw 1442 H, bertajuk Cinta Nabi, Cinta Syariah, yang digelar secara online pada Kamis, 29 Oktober 2020, seorang tokoh ulama kharismatik dari Bangkalan Madura, KH. Thoha Cholil, Pengasuh Ponpes Al Muntaha Al Kholiliyah, Bangkalan, Madura ikut berpendapat akan hal ini. Beliau menyebutkan di bulan kelahiran Nabi Saw, mata umat Islam dibukakan oleh peristiwa yang membuat marah, yaitu penghinaan kepada Nabi Muhammad Saw.

Lebih lanjut beliau menyampaikan, umat Islam harus menunjukkan ghiroh Islam melihat hal ini. Supaya para penghina itu tahu bahwa kaum muslimin tidak akan diam ketika agamanya dihina. Untuk itu KH Thoha Cholil mengajak kaum muslimin agar menampakkan bahwa Islam adalah ideologi, jalan hidup, agar dapat menjadi hamba Allah seutuhnya, sebagaimana yang Nabi Saw contohkan.

Baca Juga:  Kesadaran Kaum Muda Di Era Milenial Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Ustadz Rokhmat S. Labib, dalam acara yang sama, menuturkan, Maulid Nabi merupakan peristiwa penting yang menjadi momen perubahan peradaban dunia, yaitu kelahiran Nabi Saw. Momen ini juga merupakan momen untuk mencintai Nabi. Sebab dalam akidah Islam, perkara kecintaan kepada Rasul Saw adalah perkara penting yang menyangkut aqidah. “Tidakkah engkau lihat orang yang menauhidkan Allah Swt, tetapi ia tidak beriman kepada Nabi Saw? Maka tidak bermanfaat tauhidnya, ia termasuk kafir” (HR Imam Tirmidzi).

Selanjutnya Ustadz Rokhmat menyampaikan, bahwa kecintaan kita kepada Nabi harus melebihi kecintaan pada diri sendiri. Sebagaimana dalam sabda Nabi Saw, “Salah seorang di antara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orangtuanya, bahkan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Lebih jauh beliau juga menggambarkan, bahwa siapapun yang mengaku mencintai Nabi Saw, maka ia harus meneladani Nabi, mengamalkan sunnahnya, mengikuti perbuatan dan adabnya, baik dalam hal yang disukai ataupun tidak. “Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian”. (QS. Ali Imron: 31).

Ayat ini menjelaskan siapa saja, mengaku cinta kepada Allah Swt tetapi tidak mengikuti syariat Nabi Saw, maka ia berdusta. Tentu saja syariat yang dimaksud adalah secara kaffah, baik berkaitan dengan aturan individu, bermasyarakat maupun bernegara.

Baca Juga:  Demokrasi Pamekasan Harus Berkedaulatan Hukum

Mengomentari peristiwa penghinaan Nabi Saw, beliau menyebut kemarahan umat Islam adalah bentuk cinta kaum muslimin kepada Baginda Nabi yang mulia. Sayangnya penguasa-penguasa Muslim tidak bisa bertindak tegas menanggapi hal ini. Beliau menggambarkan hal ini berbeda dengan yang pernah dilakukan oleh Khalifah Abdul Hamid II. Khalifah pada masa dinasti Utsmaniyah ini, pernah mengancam Prancis agar menghentikan untuk menggelar teater yang menghina Rasulullah. Dan Prancis gentar lalu menghentikan pada saat itu juga.

Begitulah seharusnya sikap seorang mukmin, menunjukkan ghiroh tinggi membela agamanya dari ulah penistaan orang-orang yang membenci Islam. Ulama besar Buya Hamka Rahimahullah juga mempertanyakan orang yang tidak muncul ghirahnya ketika agamanya dilecehkan. Beliau menyamakan orang-orang yang demikian seperti orang yang sudah mati. “Jika kamu diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan”.

Pada zaman Nabi Saw. ada seorang pria yang amat marah karena istrinya terus menerus menghina Nabi Saw. Kemudian sang suami membunuhnya. Ketika Nabi mengetahui hal ini, beliau bersabda; “Saksikanlah bahwa darah perempuan yang tertumpah itu sia-sia (tidak ada tuntutan)!” (HR Abu Dawud).

Demikianlah, Islam mengajarkan kepada kaum mukmin, agar membuktikan kecintaannya kepada Allah Swt dan RasulNya, melebihi kecintaan kepada siapapun dan apapun. Kecintaan itu harus ditunjukkan dengan ghiroh untuk mencintai seluruh syariat yang dibawa Rasulullah Saw, mengamalkannya, membela dan memperjuangkan agar terterapkan secara kaffah dalam kehidupan umat. Dengan begitu, umat Islam akan tampil menjadi umat terbaik dan Islam mampu diwujudkan sebagai rahmatan lil’alamiin. Wallahu’alam bisshowab.

*Semua isi dalam artikel ini tanggungjawab penulis. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here