Home Opini INDONESIA NEGERI KEBUN BINATANG

INDONESIA NEGERI KEBUN BINATANG

SHARE
Muhammad Hamsah Direktur Lembaga Kajian dan Literasi Jendela Ilmu { JELI }Yogyakarta

pojoksuramadu.com-Sebelum negara Indonesia merdeka, masyarakat memaknai kehidupan mengenai pentingnya kemerdekaan dan cita luhur itu terwujud pada 17 Agustus 1945 atas perjuangan panjang secara bersama. Pasca kemerdekaan, pemerintahan dan politik berubah orientasi yang politik dan kekuasaan semestinya bertujuan mengurusi kesejahteraan rakyat dan menatanya menuju kemajuan dan kemerdekaan di segala sektor. Mengingat di awal kemerdekaan Indonesia masih berada di pintu gerbang kemerdekaan, memberikan indikasi bahwa Indonesia baru memulai menatap kemerdekaan yang sesungguhnya.

Dimensi lain masih banyak yang harus diperjuangkan kemerdekaannya, baik di sektor ekonomi, politik, pendidikan, budaya, kesehatan, pangan, laut, pemikiran, hukum, kekuasaan, teknologi, dan lainnya. Semua dimensi tersebut masih terjajah dan dikuasai asing, kekuatan kapitalisme, neoliberal, materialisme, merubah cara pandangan bangsa Indonesia dari hidup untuk memberi makna kehidupan, ke orientasi hidup untuk makan.
Charles Darwin seorang ilmuwan yang teorinya terkenal bahwa manusia memiliki asal-muasal dari binatang, kemiripan manusia dan kehidupan binatang begitu banyak. Kehidupan binatang lebih pada mencari makanan untuk hidup, konsumtif, tidak mampu meproduksi, sehingga pola hidup harus nomaden, berpindah-pindah mencari makan untuk keberlangsungan hidup.

Tujuan hidup binatang adalah orientasi makan, nyaman. Salah satu hakikat manusia dari pespektif materialisme bahwa esensi manusia bersifat materi, fisik (Zainal Abidin, “Filsafat Manusia”, hlm. 25). Nampaknya pasca kemerdekaan Indonesia dari 1945, kebanyakan masyarakat dari kalangan bawah sampai kalangan atas menjadikan tujuan hidup adalah materi, yaitu mencari makan, kekuasaan , hidup nyaman. Fakta sejarah sejak awal perjalanan kemerdekaan Indonesia penuh dengan kisruh dan pergolakan, mulai kisruh ekonomi, kudeta, saling memangsa, perebutan partai politik, perebutan kekuasaan, pembunuhan.

Pembunuhan beberapa jendral hebat, pembunuhan rakyat kecil seperti buruh, rakyat miskin, busung lapar, perampasan hak, juga pembunuhan dan penyingkiran rakyat menengah kaum muda seperti mahasiswa, kaum cendekiawan, intelektual.

Tragedi ini mewarnai perjalanan bangsa Indonesia, yang mengindikasikan bahwa terjadi perebutan, kerusuhan sampai pembunuhan untuk mencapai tujuan hidup, yaitu mencari makan dan kelangsungan hidup. Fakta ini di mengindikasikan bahwa masyarakat Indonesia justru terbalik dari teori Darwin, yaitu dari kemanusiaan menuju kebinatangan.

Dari kemanusiaan yang berusaha memaknai hidup di setiap sektor, menuju kebinatangan yang di setiap sektor profesi tujuannya adalah uang, ekonomi, kekuasaan, makanan, konsumtif, semua itu adalah ciri-ciri makhluk binatang yang hidup untuk makan dan bersenang-senang. Eksistensi hidup di abad ini, masyarakat berlomba-lomba mencari makanan dan kemewahan dunia, hilangnya makna dan hakikat dari segala sektor. Keringnya filsafat membuat falsafah hidup kurang matang. Keringnya perenungan dan filsafat menjadikan segala profesi tidak dipahami makna dan tujuannya, sehingga berjalan semata-mata orientasi materi. Mari kita refleksi pergeseran cara pandang ini.

PolitiK

Politik pada fungsinya menurut David Easton yaitu “the authoritative allocation of values for society”, artinya alokasi nilai-nilai secara otoritatif, berdasarkan kewenangan, oleh karena itu mengikat untuk suatu masyarakat. Demikian bahwa politik memiliki makna publik, dengan membicarakan kebaikan bersama untuk semua warga negara. (Ramlan Surbakti, “Memahami Ilmu Politik”, hlm. 8.) Politik paling menyita waktu, tenaga, pikiran, ekonomi di Indonesia. Mengapa tidak, sejak terpilih jadi kepala desa, bupati, gubernur, presiden sekalipun, di hari pertama kerja sudah menyiapkan diri untuk maju lagi di 5 tahun mendatang.

Baca Juga:  Khofifah dan Hipokrasi Prokes

Sehingga pemberitaan yang mewarnai publik setiap hari melalui berbagai media adalah soal politik dan segala rangkaian kotornya yang melibatkan kekisruhan dari segala hal, mulai dari hukum, ekonomi, budaya, sosial, agama, pendidikan, dan sektor lainnya.
Sejak dari kemerdekaan 1945 sampai 2018 ini, politik kotor penuh drama, tipuan, hujatan, kekerasan, manipulasi, pencitraan, masih menu utama dalam wacana keindonesiaan kita. Dari 2014 sampai 2018 ini contoh paling segar di ingatan kita, setiap hari pembahasan hanyalah politik dan berbagai dramanya. Mari merefleksi singkat apa makna dan tujuan politik?, sudahkah politik kita berjuang sampai pada tujuannya?.

Bukan kah orang masuk ke politik saat ini tujuan utamanya adalah mencari uang ?. Meraih kekuasaan untuk memudahkan kebijakan dan kepenguasaan sumber-sumber ekonomi. Janji-janji kesejahteraan rakyat adalah omong kosong, hal demikian jauh melenceng dari hakikat tujuan politik.

Hukum
Hukum bisa mencapai tujuannya bila terdapat kekuasaan untuk menerapkan dalam masyarakat, tanpa kekuasaan hukum hanya tinggal sebagai keinginan dan ide saja. (E.A. Pamungkas, “Peradilan Sesat: Membongkar Kesesatan Hukum di Indonesia”, hlm. 17.) Hukum yang makna dan harapannya memberikan keadilan dan berdiri tegak melindungi hak-hak rakyat, independen, saat ini justru dipermainkan dan dikuasai oleh orang atau kelompok berduit, dan yang punya kekuasaan.

Hukum saat ini menjadi profesi yang bertujuan mencari makan. Menjadi bagian di dalamnya untuk mempermainkan hukum dalam menjerat korban demi menumpuk ekonomi. Tidak peduli dia bersalah, ketika mampu melayangkan pundi-pundi uang dengan gampangnya bisa berubah status menjadi benar. Yang benar tetapi tidak mampu memberikan sumber makanan dan kemewahan, akan tersungkur dan terlempar dari kebenaran dan tercelup dalam status kesalahan.

Pendidikan
Pendidikan bertujuan memperjuangkan cita-cita negara, (H. Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, “Ilmu Pendidikan”, hlm. 139.). Namun pendidikan saat ini di Indonesia dimanipulasi menjadi slogan-slogan. Pendidikan saat ini bergeser tujuannya untuk menjadi lahan mendapatkan makanan, ekonomi dan kemewahan. Biaya pendidikan makin mahal tetapi tidak satupun rancangan pendidikan yang menjawab persoalan masyarakat, tidak satupun pengarahan dalam mengembangkan Sumber Daya Alam (SDA) di negeri ini.

Output pendidikan justru diorientasikan menjadi kuli, karyawan, pekerja kasar, pada perusahaan dan industri yang dibangun asing secara kokoh di negeri ini. Pendidikan juga merupakan alat kampanye terbaik dalam janji-janji palsu pemimimpin di negeri ini di berbagai level. Semua adalah tipuan dan tidak ada bukti hasilnya.

Lembaga pendidikan dari level dasar sampai perguruan tinggi seperti barang dagangan yang dipromiosikan berlebihan oleh pemiliknya. Mulai dari “akreditasi nasional, sampai internasional, satu bulan lulus langsung dapat pekerjaan, unggul di setiap bidang, berdikari dari profesi yang dipilih, mampu membuka lapangan pekerjaan, penghargaan dan prestasi nasional dan internasioanal,” serta berbagai rayuan lainnya. Tetapi faktanya sampai hari ini, tidak ada yang mampu memecahkan persoalan masyarakat.

Pendidikan asyik sendiri dalam aktivitasnya, masyarakat sibuk sendiri dengan rutinitasnya. Persoalan-persoalan kecil saja masih terjadi kegagapan menghadapinya, apalagi skala nasional dan internasional. Promosi yang disampaikan tidak sebanding hasil yang ditoreh. Semuanya adalah kepalsuan, kepura-puraan, lembaga pendidikan mana di negeri ini yang tidak dijadikan ladang bisnis untuk memperoleh makanan, ekonomi, dan kemewahan.

Baca Juga:  Jalan Umum Kota Bangkalan Yang Masih Kurang Perhatian

Kesehatan
Kesehatan adalah alat kampanye paling ampuh dalam menaklukkan dan menghipnotis masyarakat untuk memilih kandidat. Bukan kah bayangan kita kesehatan bertujuan mengobati dan mencegah berbagai gangguan penyakit serta usaha mewujudkan kesehatan pada semua lapisan masyarakat secara menyeluruh. Tetapi mari jujur melihat kondisi kesehatan di negeri Indonesia ini, terjadinya perbedaan pelayanan kesehatan antara orang berduit dan orang miskin. Pendidika kesehatan mahal dan diterima yang mampu membayar.

Tidak peduli punya bakat kesehatan atau tidak, asalkan mampu membayar banyak, dia yang diterima. Sebaliknya, secerdas apapun dan sebaik apapun bakat dan kesenangan orang tentang kesehatan, namun tidak mampu menggelontorkan tumpukan-tumpukan uang, maka pendidikan kesehatan akan jauh dari impiannya. Maka muncullah malpraktek, ijazah berstatus ahli dalam bidang tertentu, tetapi membunuh orang karena kesalahan penanganan.

Nyawa begitu mudah melayang di negeri ini, oknum malpraktek dilindungi undang-undang dengan tidak bertanggungjawab atas kematian pasien. Pendidikan kesehatan yang ratusan juta, menjadikan alumninya lupa pada tujuan ilmu kesehatan, bergeser pada tujuan mengembalikan modal, mendapatkan makanan, serta menumpuk kemewahan secara cepat, melalui profesi kesehatan.

Mahasiswa
Mahasiswa telah terpisah dari rakyat, baik aktivitas maupun kreativitas, demikian uangkapan W.S.Rendra, (Ridwan Saidi, “Mahasiswa dan Lingkaran Politik”, hlm. 37.). Mahasiswa bertujuan menjadi generasi agen perubah, pengontrol, penyambung anspirasi dari berbagai problem masyarakat, persiapan menjadi cendekiawan, generasi terdidik, intelektual, pembentukan skil, untuk menjawab persoalan masyarakat.

Faktanya hari ini, mahasiswa mayoritas menjadikan tujuan utama kuliah untuk mendapat gelar, ijazah, nilai yang tinggi, lulus segera dan bekerja untuk memperoleh makanan, ekonomi, kesejahteraan. Tidak peduli di sekitar kampus atau wilayah kampus berapa banyak masyarakat miskin yang terzalimi, pedagang kaki lima yang terusir, tanah, rumah dan lahan yang digusur, perampasan hak-hak oleh orang maupun kelompok elit. Diam sejuta bahasa dan pura-pura tidak tau, padahal setiap hari memegang hp dengan puluhan jam yang bertebaran semua kejadian-kejadian, baik lokal, nasional, maupun internasioanal. Namun apa reaksi yang muncul, yang penting kuliah lancar, kehadiran terpenuhi, gelar dan ijazah cepat didapat, cepat bekerja, menikah, dan membangun kemewahan. Lupa pada tujuan, tugas dan tanggungjawab mahasiswa, bergeser pada orientasi makan, ekonomi, kenyamanan, individual.

Masih banyak profesi lain di negeri ini yang bergeser pada tujuan, hakikat dan maknanya, dengan menjadikan orientasi memperoleh makan, ekonomi dan kenyamanan. Sehingga aktivitas masyarakat Indonesia sejak kemerdekaan sampai 2018 ini, sama-sama tujuan prioritas hidupnya adalah mencari makan. Maka kehidupan masyarakat di Indonesia seperti kebun binatang, sama-sama mencari makan dan kenyamanan tempat tinggal. Di sinilah keterbalikan teori Charles Drwin, yaitu dari manusia menuju kebinatangan. Olehnya itu, mari banyak belajar filsafat, falsafah hidup, prinsip hidup, perenungan, pemikiran atas hakikat dan tujuan setiap sesuatu.

Demikian supaya kita menjadikan hidup ini bukan untuk makan, tetapi kita hidup untuk memberi makna pada setiap sektor kehidupan.

Oleh: Muhammad Hamsah
(Direktur Lembaga Kajian dan Literasi Jendela Ilmu { JELI }Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here