POJOKSURAMADU.COM – Asal usul Kota Bangkalan memiliki latar belakang sejarah yang panjang dan penuh warna, mulai dari legenda rakyat, pengaruh Kerajaan Majapahit, hingga peran penting penyebaran agama Islam di Madura. Semua ini berpadu membentuk identitas unik kota yang kini menjadi salah satu pusat budaya dan sejarah di Pulau Garam, Madura.
Makna Nama “Bangkalan”
Secara etimologis, kata Bangkalan berasal dari dua kata dalam bahasa Madura: “bangkah” yang berarti “mati” dan “la’an” yang berarti “sudah”. Nama ini merujuk pada legenda tewasnya seorang tokoh sakti bernama Ki Lesap di wilayah barat Madura. Konon, peristiwa tersebut menjadi penanda berakhirnya kekuatan pemberontakan yang besar di kawasan itu.
Namun demikian, asal usul Kota Bangkalan tidak hanya berdasarkan cerita legenda, melainkan juga berdasar pada fakta sejarah yang terkait erat dengan perkembangan Islam di wilayah tersebut.
Jejak Majapahit dan Keturunan Raja

Dalam catatan sejarah, disebutkan bahwa Raja Majapahit Brawijaya V adalah tokoh penting yang berpengaruh terhadap perkembangan wilayah Madura. Ia memiliki dua anak dari dua istri selir: Ario Damar, anak dari Endang Sasmito Wati, dan Lembu Peteng, anak dari Putri Cina yang dikenal sebagai Ratu Dworo Wati.
Garis keturunan dari Ario Damar inilah yang kelak menghubungkan sejarah Madura, khususnya Bangkalan. Anak Ario Damar yang bernama Menak Senojo melakukan perjalanan dari Palembang ke Madura dan memperistri seorang bidadari bernama Nyai Peri Tunjung Biru Bulan, yang kelak melahirkan keturunan penting dalam sejarah kerajaan kecil di Madura.
Awal Berdirinya Kerajaan Plakaran
Kyai Demang, keturunan dari Ario Damar dan Lembu Peteng, mendirikan Kerajaan Plakaran yang berpusat di Arosbaya. Ia menjadi cikal bakal pemimpin Islam pertama di Madura setelah menikah dengan Nyai Sumekar, dan melahirkan anak bernama Raden Pragalba.
Dari pernikahan Raden Pragalba dengan tiga istrinya, lahirlah Panembahan Pratanu, anak dari istri ketiga yang dipersiapkan sebagai penerus tahta. Pratanu kemudian dikenal sebagai raja Islam pertama di Madura, dan pemerintahan Islam inilah yang menjadi titik tolak perkembangan Bangkalan sebagai wilayah penting.
Penyebaran Islam di Bangkalan

Menurut cerita, Pratanu bermimpi bertemu seseorang yang menganjurkannya memeluk Islam. Setelah menceritakan mimpinya kepada sang ayah, Raja Pragalba, ia mengutus Empu Bageno ke Kudus untuk mempelajari Islam. Bageno masuk Islam dan belajar langsung dari Sunan Kudus sebelum kembali ke Madura.
Setelah Pangeran Pratanu sendiri memeluk Islam, ia mulai menyebarkan ajaran Islam ke wilayah Arosbaya dan sekitarnya. Meskipun Raja Pragalba tidak ikut memeluk Islam hingga wafat, tonggak pemerintahan Islam telah berdiri kokoh di Madura, khususnya di Bangkalan.
Keruntuhan Arosbaya dan Lahirnya Cakraningrat
Pada tahun 1624, Kerajaan Arosbaya mengalami keruntuhan setelah diserang oleh pasukan Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Demak. Meski menang, Mataram kehilangan banyak prajurit dalam pertempuran besar ini. Akibat kekalahan tersebut, Pangeran Mas melarikan diri, dan Prasena, cucu dari Pratanu, dibawa ke Mataram.
Di sana, Prasena diangkat anak oleh Sultan Agung dan diberi gelar Cakraningrat I, penguasa Madura yang bermarkas di Sampang. Dari sinilah lahir Dinasti Cakraningrat, yang kelak mengembangkan kekuasaan hingga ke wilayah Bangkalan.
Bangkalan sebagai Pusat Pemerintahan Madura
Perkembangan Bangkalan sebagai pusat kekuasaan Madura mulai terjadi pada masa pemerintahan Pangeran Cakraningrat II (1891). Ia dikenal berjasa membantu Belanda dan Inggris dalam mengembalikan kekuasaan mereka di beberapa wilayah Nusantara. Karena jasa-jasanya, Belanda memberi izin kepada Cakraningrat II untuk membentuk militer sendiri, yang disebut “Corps Barisan”.
Namun, kekuatan militer yang dibangun Cakraningrat justru membuat Belanda khawatir. Setelah wafatnya Cakraningrat II, Belanda memanfaatkan kekosongan kekuasaan untuk membubarkan sistem kerajaan, termasuk di Bangkalan.
Daftar Raja Bangkalan (1531–1882)
Berikut daftar para penguasa Bangkalan dari masa awal kerajaan Islam:
- 1531–1592: Kiai Pratanu (Panembahan Lemah Duwur)
- 1592–1620: Raden Koro (Pangeran Tengah)
- 1621–1624: Pangeran Mas
- 1624–1648: Pangeran Cakraningrat I
- 1648–1707: Pangeran Cakraningrat II
- 1707–1718: Pangeran Cakraningrat III
- 1718–1745: Pangeran Cakraningrat IV
- 1745–1770: Pangeran Cakraningrat V
- 1770–1780: Pangeran Cakraningrat VI
Penutup
Dari legenda hingga realitas sejarah, asal usul Kota Bangkalan merupakan kisah yang kaya dan penuh pelajaran. Kota ini tidak hanya lahir dari pertarungan kekuasaan dan pertalian darah kerajaan, tetapi juga tumbuh melalui proses dakwah dan penyebaran Islam yang kuat di Madura.
Kini, Bangkalan menjadi kota yang tidak hanya penting secara administratif, tetapi juga sebagai pusat kebudayaan, sejarah, dan spiritualitas masyarakat Madura.


