Dalam sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa, nama Sunan Kudus memiliki tempat yang istimewa. Sosok yang bernama asli Ja’far Shadiq ini dikenal sebagai salah satu tokoh dari Wali Songo yang menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan budaya dan kearifan lokal. Ia lahir dari keluarga bangsawan dan memiliki garis keturunan langsung hingga ke Nabi Muhammad SAW melalui jalur Sayyidina Husain bin Ali.
Ayah beliau bernama Sayyid Usman Haji bin Ali Murtadha, yang merupakan saudara kandung dari Sunan Ampel, sedangkan ibunya adalah Siti Syari’ah. Dari latar belakang ini, biografi Sunan Kudus tidak hanya menggambarkan sosok ulama, namun juga seorang pemimpin militer dan tokoh intelektual dalam kerajaan Demak.
Perjalanan Dakwah dan Peninggalan Sunan Kudus
Salah satu warisan monumental yang ditinggalkan oleh Sunan Kudus adalah pembangunan Masjid Menara Kudus pada tahun 1530 di daerah Kerjasan, yang kini menjadi pusat kota Kudus. Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol akulturasi budaya yang berhasil disinergikan oleh sang wali. Dalam biografi Sunan Kudus, keberadaan masjid ini merupakan bukti pendekatan dakwah yang mengedepankan harmoni antarbudaya.
Yang menarik, Sunan Kudus dikenal sebagai ulama yang sangat menghormati keyakinan masyarakat sekitar. Beliau menganjurkan masyarakat untuk tidak menyembelih sapi saat Idul Adha, demi menghormati umat Hindu yang menganggap sapi sebagai hewan suci. Sebagai gantinya, masyarakat diajak untuk menyembelih kerbau. Hingga saat ini, tradisi tersebut masih dilestarikan di wilayah Kudus.
Kiprah Politik dan Spiritualitas Sunan Kudus
Dalam biografi Sunan Kudus, kita juga mengetahui bahwa sebelum menjadi tokoh spiritual, Ja’far Shadiq sempat menjabat sebagai panglima perang atau senopati di Kerajaan Demak menggantikan ayahnya yang wafat. Melalui posisi strategis ini, beliau memiliki peran besar dalam memperluas pengaruh Islam di kawasan pesisir utara Jawa.
Namun, ketika konflik internal mulai mengguncang kerajaan Demak, Ja’far Shadiq memilih untuk meninggalkan jabatan politiknya dan menetap di wilayah Tajug. Di sinilah ia kemudian fokus menyebarkan dakwah secara damai melalui seni dan budaya, tanpa paksaan atau kekerasan. Pendekatan ini menjadi salah satu nilai penting dalam biografi Sunan Kudus yang patut dicontoh hingga sekarang.
Transformasi Tajug Menjadi Kudus
Nama “Kudus” berasal dari istilah “Al-Quds” yang berarti suci, merujuk pada kota Yerusalem. Transformasi nama wilayah Tajug menjadi Kudus tidak lepas dari pengaruh Ja’far Shadiq yang berhasil membangun simpati masyarakat lokal. Dalam naskah biografi Sunan Kudus, disebutkan bahwa masyarakat setempat akhirnya menyebut daerah itu sebagai Kudus untuk menghormati perjuangannya dalam menanamkan nilai-nilai Islam yang luhur.
Bangunan Masjid Menara Kudus sendiri adalah bentuk nyata keberhasilan dakwah berbasis budaya. Menara masjid yang menyerupai candi adalah bukti nyata bahwa Sunan Kudus mampu menyatukan unsur arsitektur Islam, Hindu-Buddha, dan budaya lokal lainnya. Pendekatan ini menjadi ciri khas yang membuat biografi Sunan Kudus begitu menarik untuk dipelajari.
Guru dan Perjalanan Spiritual Sunan Kudus
Sunan Kudus menimba ilmu dari berbagai ulama besar pada masanya, termasuk ayahnya sendiri, Usman Haji, serta Kiai Telingsing, seorang ulama Tionghoa bernama asli The Ling Sing. Ia juga belajar di pesantren Ampeldenta milik Sunan Ampel dan sempat mengembara hingga ke Hindustan dan Makkah untuk memperdalam ilmu agama.
Dalam biografi Sunan Kudus, perjalanan spiritual ini menjadi salah satu pondasi utama yang menguatkan keilmuan serta visi dakwah beliau. Selain itu, ia juga menikah dengan Dewi Rukhil, putri dari Sunan Bonang, dan dikaruniai seorang putra bernama Amir Hasan.
Wafatnya Sunan Kudus
Sunan Kudus wafat pada tahun 1550 saat menjadi imam sholat subuh. Ia meninggal dalam keadaan sujud di Masjid Menara Kudus. Kini makam beliau berada di area belakang masjid tersebut dan menjadi salah satu destinasi ziarah penting di Jawa Tengah. Meskipun telah wafat, pengaruh dan warisan dakwahnya masih terasa hingga kini, sebagaimana tercermin dalam setiap catatan biografi Sunan Kudus.


