Pemuda bernama Muhammad Agung Hidayatullah asal Madiun, Jawa Timur, diamankan oleh aparat kepolisian pada Rabu sore, 15 September. Agung dituding sebagai dalang di balik nama Bjorka, namun keluarganya membantah keras tuduhan tersebut.
Menurut sang ibu, Agung hanyalah seorang lulusan Madrasah Aliyah tahun 2020 dan tidak memiliki kemampuan dalam dunia peretasan. Bahkan, di rumahnya tidak ada perangkat komputer atau laptop yang bisa digunakan untuk melakukan aktivitas hacking. Yang ia miliki hanya sebuah ponsel biasa.
Menanggapi kasus ini, pakar keamanan siber, I Made Wiryana, memberikan pandangan yang cukup mengejutkan. Ia menilai bahwa Bjorka sebenarnya bukan seorang peretas dalam arti teknis. Bisa jadi, sosok ini hanya seorang kolektor atau penyebar informasi dari hasil kebocoran data yang sudah tersebar di forum-forum gelap.
Dalam banyak kasus serupa, seseorang bisa saja disebut peretas hanya karena membagikan hasil curian data, padahal ia bukan pelaku utama yang membobol sistem. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Agung bisa saja menjadi korban salah identifikasi, atau hanya dijadikan kambing hitam dalam kasus yang lebih kompleks.
Setelah informasi penangkapan beredar luas di publik, akun Bjorka kembali membuat heboh dengan mengunggah komentar yang menyinggung langsung soal penangkapan pemuda Madiun tersebut. Hal ini memicu spekulasi bahwa pelaku aslinya masih bebas dan aktif di dunia maya.
Netizen pun kembali mempertanyakan kemampuan investigasi digital yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. Apakah benar pelaku utama berhasil diidentifikasi, atau justru hanya menangkap seseorang yang tidak berkaitan langsung?
Kasus ini kembali membuka diskusi serius tentang pentingnya perlindungan data pribadi di Indonesia. Sejumlah pihak menganggap bahwa pengejaran terhadap pelaku pembocoran data memang perlu dilakukan. Namun yang lebih penting dan mendesak adalah penyelesaian Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (RUU PDP) yang hingga kini masih belum tuntas dibahas di DPR.
Selama belum ada payung hukum yang kuat, maka potensi kebocoran data, penyalahgunaan informasi, hingga praktik jual beli data pribadi di internet akan terus terjadi.
Penangkapan yang diklaim sebagai upaya membungkam aksi Bjorka justru memunculkan pertanyaan baru. Apakah benar aparat berhasil menangkap pelaku sebenarnya? Ataukah ini hanya sekadar manuver untuk menenangkan kegelisahan publik?
Yang jelas, masyarakat kini semakin sadar akan pentingnya keamanan data pribadi. Pemerintah perlu lebih fokus menyusun kebijakan yang melindungi hak digital warga, bukan hanya sibuk mengejar nama-nama yang viral.


