kerja Sama

Kirim Tulisan

Home

ic_fluent_news_28_regular Created with Sketch.

Berita

ic_fluent_phone_desktop_28_regular Created with Sketch.

Teknologi

Wisata

Pendidikan

Bisnis

Keislaman

ic_fluent_incognito_24_regular Created with Sketch.

Gaya Hidup

Sosial Media

Mahasiswa KKN 04 UTM Dorong Kemandirian Pangan, Warga Desa Klapayan Kembangkan Hidroponik dan Pembuatan Kompos

Bangkalan, 5 Juli 2025 – Semangat inovasi di Desa Klapayan, Kecamatan Sepuluh, Kabupaten Bangkalan, semakin tumbuh dengan hadirnya program budidaya tanaman berbasis hidroponik dan pengolahan sampah organik menjadi pupuk dan pestisida bagi tanaman. Program ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga serta mengurangi ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia.

Salah satu aspek penting dari keberhasilan program ini adalah pemberdayaan kelompok perempuan dan generasi muda. Mahasiswa KKN menyadari bahwa ibu rumah tangga memiliki peran besar dalam menjaga ketahanan pangan keluarga. Oleh karena itu, pelatihan difokuskan pada praktik sederhana namun aplikatif yang bisa langsung diterapkan di rumah.

Ibu-ibu dilatih untuk membuat larutan nutrisi hidroponik sendiri dari bahan alami seperti abu sekam, kulit pisang, dan air cucian beras. Pendekatan ini membuat mereka tidak bergantung pada produk pabrikan yang mahal. Dalam proses pembuatan kompos, mereka juga dilatih mengenali jenis sampah organik dan cara memilahnya agar proses fermentasi berjalan optimal.

Dengan mengedepankan prinsip ekonomi sirkular di mana limbah satu kegiatan menjadi sumber daya bagi kegiatan lain program ini telah menciptakan siklus produktif di lingkungan masyarakat. Sampah organik yang dulunya mencemari lingkungan kini menjadi bahan baku pupuk, sementara hasil sayur dari hidroponik dapat dikonsumsi sendiri maupun dijual ke pasar lokal.

Kegiatan yang digagas oleh mahasiswa KKN 04 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) tidak hanya menjadi solusi jangka pendek untuk kebutuhan pangan rumah tangga, tetapi juga membawa dampak jangka panjang terhadap pola pikir masyarakat dalam memanfaatkan potensi lokal secara optimal. Salah satu dampak positif yang mulai terlihat adalah meningkatnya kesadaran warga akan pentingnya pemanfaatan sampah organik dan efisiensi ruang dalam bertani.

Melalui kolaborasi antara lembaga pendidikan swasta dengan mahasiswa mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM), warga diberikan pelatihan intensif mengenai teknik budidaya tanaman sayur menggunakan sistem hidroponik sederhana. Sistem ini memungkinkan warga menanam sayuran seperti kangkung, bayam, dan selada di lahan sempit, cukup menggunakan baki dan keranjang sederhana serta larutan nutrisi.

Program hidroponik yang dikembangkan tidak memerlukan lahan luas, sehingga sangat cocok diterapkan di lingkungan perdesaan dengan keterbatasan lahan pekarangan. Melalui pelatihan praktis, warga diajarkan cara membuat instalasi hidroponik sederhana menggunakan bahan-bahan bekas seperti botol plastik dan keranjang sayur. Cara ini tidak hanya menghemat biaya tetapi juga menjadi solusi dalam pengurangan sampah plastik. “Program hidroponik ini sangat cocok untuk kondisi pekarangan rumah warga yang terbatas. Selain hemat air, hasilnya juga lebih bersih dan cepat panen,” ungkap Ayu Manunggal, salah satu anggota KKN UTM yang membina program hidroponik.

Tak hanya itu, kegiatan ini juga disandingkan dengan pembuatan kompos, pupuk organik cair (POC) serta pestisida dari sampah organik dengan memanfaatkan limbah rumah tangga dan pertanian. Warga diajak mengolah sisa dapur, daun kering, dan kotoran ternak menjadi pupuk alami yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman pekarangan rumah atau pertanian konvensional.

Selain hidroponik, pembuatan kompos organik menjadi kegiatan pendamping yang sangat efektif. Limbah dapur seperti kulit sayur, sisa nasi, dan dedaunan yang sebelumnya dibuang begitu saja kini diolah menjadi pupuk kompos yang kaya unsur hara. Proses fermentasi pun diperkenalkan agar pembuatan kompos lebih cepat dan efisien. Mahasiswa KKN juga memperkenalkan metode takakura dan EM4 sebagai teknologi tepat guna dalam pengolahan sampah.

Pembuatan pupuk kompos menggunakan bahan-bahan sisa dapur yang sudah tidak terpakai, seperti sisa sayuran, kulit bawang, kulit buah, daun kering hingga bahan tambahan seperti serbuk kayu. Pembuatan pestisida dan pupuk organik cair (POC) menggunakan kulit bawang merah yang direndam. Perendaman kulit bawang merah untuk POC menggunakan air cucian beras selama 1 minggu, sedangkan pembuatan pestisida direndam menggunakan air biasa selama 2 hari.

Baca juga : Mahasiswa UTM Latih Warga Desa Bicabbi Pemasaran Digital dan Sistem Pembayaran Online

Menurut Bapak Syaihuddin, selaku pengasuh Pondok Pesantren Darul Hadits, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi ibu rumah tangga. “Kami ingin masyarakat atau ibu-ibu dapat produktif dalam memproduksi pangan sendiri, sekaligus menjaga lingkungan dengan memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.

Program ini disambut antusias oleh santri di pondok tersebut, terutama ibu-ibu rumah tangga. Dengan adanya program hidroponik dan pembuatan pupuk organik ini, Desa Klapayan menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan desa mandiri pangan, ramah lingkungan, dan berdaya secara ekonomi melalui inovasi sederhana berbasis potensi lokal.

Ke depan, mahasiswa KKN berharap program ini dapat direplikasi oleh dusun-dusun lain di desa Klapayan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, bahkan menjadi program unggulan desa. Mereka juga mendorong terbentuknya kelompok tani hidroponik dan bank kompos sebagai bentuk kelembagaan yang dapat menjaga keberlanjutan program.

Dengan semangat gotong royong dan pendampingan yang berkelanjutan, Desa Klapayan perlahan-lahan mulai membangun fondasi sebagai desa mandiri pangan. Mahasiswa KKN 04 UTM tidak hanya menjadi fasilitator perubahan, tetapi juga pemantik semangat inovasi yang tumbuh dari masyarakat sendiri.

Inovasi ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat dan keterlibatan masyarakat, ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan dapat diwujudkan bersamaan. Desa Klapayan kini tidak hanya dikenal sebagai desa agraris, tetapi juga sebagai pelopor desa hijau mandiri di Kabupaten Bangkalan. Program ini diharapkan menjadi contoh inspiratif bagi desa-desa lain di Kecamatan Sepulu khususnya bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal kecil, dari pekarangan rumah, dari limbah sehari-hari, dan dari semangat bersama untuk hidup yang lebih berdaya dan berkelanjutan.

“Harapan kami, setelah KKN berakhir, masyarakat tetap menjalankan kegiatan ini secara mandiri, bahkan mampu mengembangkan produk olahan dari hasil panen hidroponik seperti sayur segar kemasan atau pupuk kompos dalam kantong siap jual,” ujar Ayu Manunggal, koordinator program.

Artikel Terkait :

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Postigan Populer

spot_img