kerja Sama

Kirim Tulisan

Home

ic_fluent_news_28_regular Created with Sketch.

Berita

ic_fluent_phone_desktop_28_regular Created with Sketch.

Teknologi

Wisata

Pendidikan

Bisnis

Keislaman

ic_fluent_incognito_24_regular Created with Sketch.

Gaya Hidup

Sosial Media

Persatuan Umat Kunci Hapuskan Penjajahan

Apa yang akhir-akhir ini seharusnya membuat kita malu? Yaitu even March to Gaza,  memperlihatkan  aksi jalan kaki massal atau konvoi solidaritas yang dilakukan oleh aktivis kemanusiaan dari berbagai negara untuk menunjukkan dukungan terhadap rakyat Palestina. Para peserta aksi berjalan kaki dari Kairo sampai ke perbatasan Rafah, sekitar 50 Km sambil membawa bendera, poster untuk menyerukan kebebasan bagi masyarakat Palestina (rumahzakat.org, 13-6-2025). 

Long March to Gaza ini  terdiri dari serikat-serikat pekerja, gerakan solidaritas, dan lembaga hak asasi manusia internasional dari lebih dari 32 negara, yang bertujuan memasuki Jalur Gaza dengan berjalan kaki sebagai respons atas krisis kemanusiaan akut yang melanda wilayah itu akibat blokade Israel selama hampir 20 bulan.

Ketua Koalisi Internasional Melawan Pendudukan Israel, Seif Abu Khashk, menyatakan bahwa inisiatif ini secara langsung bertujuan menghentikan genosida terhadap rakyat Palestina. Dan kini lebih dari 10.000 orang sudah menyatakan minat untuk bergabung (gazamedia.net, 26-5-2025). 

Pengacara asal Jerman, Melanie Schweitzer, menyatakan “Long March to Gaza” ini  ingin mewakili suara masyarakat sipil dari negara-negara asal para peserta. Mereka berasal dari serikat pekerja, organisasi kemanusiaan, sektor kesehatan, hingga warga biasa dari berbagai usia dan latar belakang.

Gerakan ini juga menekankan bahwa seluruh peserta adalah relawan yang membiayai sendiri keikutsertaan mereka, tanpa dukungan dari pemerintah mana pun. Penyelenggara aksi pun menegaskan bahwa aksi ini bersifat damai sepenuhnya dan terinspirasi dari gerakan-gerakan solidaritas bersejarah.

Dan benar saja, para pemimpin negeri muslim yang seharusnya membantu para peserta aksi malah sibuk mendeportasi puluhan aktivis kemanusiaan itu, sebagaimana yang dilakukan oleh Otoritas Mesir.  (khazanah.republika.co.id, 13-6-2025). 

Kepada AFP, seorang pejabat Mesir yang enggan disebutkan namanya mengatakan, otoritas telah mendeportasi lebih dari 30 orang aktivis. Sebagian besar mereka berpaspor Eropa. Pengusiran dilakukan relatif cepat, yakni hanya berjarak dua hari sejak mereka mendarat di Bandara Internasional Kairo.

Juru bicara Global March to Gaza Saif Abukeshek mengatakan, lebih dari 200 aktivis telah ditahan di Bandara Kairo. Sebagian mereka juga diinterogasi di hotel-hotel tempatnya menginap di kota tersebut. Petugas yang berpakaian sipil mendatangi mereka sembari membawa daftar nama dan menyita ponsel. Di antara mereka yang ditahan, terdapat warga negara dari Amerika Serikat, Australia, Belanda, Prancis, Spanyol, Aljazair, dan Maroko.

Bagaimana dengan Persatuan muslim?

Begitu ringannya langkah peserta aksi Long March to Gaza, hanya atas nama kemanusiaan. Berbagai ras, suku, bahasa, negara dan agama berkumpul menyuarakan yang sama yaitu bebaskan Palestina, hentikan genosida. Di sisi lain, kaum muslimin sendiri masih sulit disatukan. Hal itu tampak dari perbedaan penentuan perayaan Iduladha 1446 Hijriah tahun ini. 

Menyoal perbedaan penetapan tanggal Indonesia tidak hanya mengalami sekali namun sudah berkali-kali, dan tetap masyarakat diimbau untuk saling menghormati tanpa pernah ada upaya mencari pangkal persoalannya. Perbedaan penetapan hari raya  Indonesia, disebabkan oleh perbedaan metode penentuan awal bulan Dzulhijjah antara hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal).

Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, mengungkapkan bahwa berdasarkan analisis garis tanggal, saat matahari terbenam (Maghrib) pada 27 Mei 2025, posisi bulan telah memenuhi kriteria penetapan awal bulan yang digunakan oleh negara-negara anggota MABIMS (Majelis Ulama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), khususnya di wilayah Aceh (beritanasional.com,16-5-2025). 

Di sisi lain, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan Idul Adha 1446 H pada Jumat, 6 Juni 2025. Keputusan ini berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1446 H. 

Dalam maklumat tersebut, 1 Zulhijah 1446 H jatuh pada Rabu, 28 Mei 2025, sehingga 10 Zulhijah atau Idul Adha bertepatan dengan Jumat, 6 Juni 2025. Sementara, Nahdlatul Ulama (NU) belum menetapkan secara resmi tanggal Idul Adha 1446 H. NU mengandalkan metode rukyatul hilal, yaitu pemantauan langsung terhadap hilal pada akhir bulan Zulqaidah. 

Ibadah Haji Identik dengan Persatuan

Jelas ada perbedaan cara pandang terkait penetapan tanggal hari raya. Alasan beda negara selalu mengemuka. Meski kedua cara adalah benar, baik hisab maupun rukyat namun ada yang lebih penting untuk dilihat dan sekaligus diingat bagaimana ketentuan syariat mengatur urusan ini. Yaitu pengakuan meneladani Rasulullah itu sendiri sebagai manifestasi ketaatan.

Saat kita  melihat jutaan muslim dari berbagai bangsa berkumpul di Tanah Suci untuk berhaji, hal itu menunjukkan persatuan yang melampaui sekat bangsa, ras, dan bahasa. Persatuan umat Islam yang juga  tidak didasari kesamaan budaya atau etnis, melainkan disatukan oleh akidah Islam yang menghapus segala perbedaan duniawi. Dari fakta inilah semestinya kita mengambil pelajaran, kita yang seakidah sebenarnya pun bisa melampaui apa yang orang-orang lakukan di Long March to Gaza. 

Umat Islam yang berjumlah hampir 2 miliar akan menjadi kekuatan dunia yang disegani jika bersatu, bukan tercerai karena sekat Nasionalisme dan golongan. Kita sekali lagi bisa melihat dari fenomena ibadah haji yang setiap tahun dilakukan oleh kaum muslimin. 

Sayangnya, persatuan saat Iduladha seringkali hanya sesaat; selepas itu, umat kembali tercerai dan bahkan saling bermusuhan, melupakan penderitaan saudara seiman di berbagai penjuru dunia. Kembali kepada kepentingan sendiri, terutama dari sisi pemimpin negara-negara muslim hari ini yang begitu takut kehilangan perlindungan dari kafir penjajah. 

Kita bisa lebih kuat, tapi tentara kita bukan untuk bela kezaliman, sumber daya alam kita kaya tapi bukan untuk kemaslahatan kaum muslim, demikian pun kemerdekaan dan kedaulatan negeri-negeri muslim ternyata hanya untuk melayani semua kepentingan kafir barat. Kita bisa melihat bagaimana Mesir begitu keras menghalangi para aktifis perdamaian masuk lebih jauh menuju Gaza. 

Kita juga melihat bagaimana Yordania memberi serangan balasan kepada Iran karena menyerang Israel, sangat jelas letak keberpihakannya justru pada bangsa kafir. Begitu pun negeri muslim lainnya, hanya sebatas mengecam dan mengusulkan solusi asal. Bukan fundamental. 

baca juga : 6 Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua Dalam Islam

Khilafah Satu-Satunya Harapan Dunia Bisa Damai

Persatuan sejati hanya dapat terwujud dalam institusi politik Islam global (Khilafah), satu institusi pemerintahan berdasarkan syariat yang menyatukan umat dalam satu tubuh dan tujuan. Kita bisa melihat pada semua perbuatan sahabat, begitu Rasulullah Saw. wafat, tidak ada yang mereka lakukan selain berkumpul untuk memilih pemimpin selanjutnya setelah Rasul. Sebab semua yakin, kaum muslim tak boleh kosong dari kepemimpinan barang satu hari pun, bahkan mereka menunda pemakanan Rasûlullâh. 

Idul Adha mengajarkan ketaatan mutlak kepada Allah, dan seharusnya mendorong umat untuk patuh sepenuhnya pada syariat Islam, bukan hanya pada aspek ritual, tapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sebab, itulah adanya agama Islam, bukan sekadar pengatur akidah tapi juga syariat yang menjadi solusi bagi setiap persoalan umat. Wallahualam bissawab.

Artikel Terkait :

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Postigan Populer

spot_img