kerja Sama

Kirim Tulisan

Home

ic_fluent_news_28_regular Created with Sketch.

Berita

ic_fluent_phone_desktop_28_regular Created with Sketch.

Teknologi

Wisata

Pendidikan

Bisnis

Keislaman

ic_fluent_incognito_24_regular Created with Sketch.

Gaya Hidup

Sosial Media

Sejarah Haji Pertama Kali, Jejak Ibadah dari Nabi Ibrahim

Sejarah haji pertama kali adalah kisah yang panjang dan penuh makna. Ibadah ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan simbol ketaatan, pengorbanan, dan penyatuan umat dari berbagai penjuru dunia. Dalam sejarah Islam, ibadah haji telah melewati berbagai fase dan transformasi—dimulai dari zaman Nabi Ibrahim a.s., diteruskan oleh Nabi Ismail a.s., hingga disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam bukunya Tarikh Tasyri’ Al-Islami, seorang cendekiawan besar Mesir, Syekh Muhammad Khudari Bek (1872–1927 M), menjelaskan secara rinci bagaimana ibadah haji berkembang dan disyariatkan. Beliau menyampaikan bahwa hampir semua umat beragama memiliki tempat ibadah suci yang menjadi pusat ritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Baitullah: Rumah Pertama untuk Ibadah Manusia

Baitullah
Baitullah

Bangsa Arab memiliki tempat suci yang sangat dihormati, yakni Baitul Haram di Makkah. Tempat ini diyakini sebagai rumah ibadah pertama yang dibangun oleh manusia, yaitu oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:

“Sungguh, rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”
(Surat Ali Imran ayat 96)

Bangunan suci ini menjadi titik awal dalam sejarah awal haji, tempat syiar Islam ditegakkan dan tempat seluruh umat berkumpul untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Ketika Syariat Haji Diselewengkan Bangsa Arab

Dalam perjalanannya, tradisi haji sempat mengalami penyimpangan. Menurut Khudari Bek, pada masa pra-Islam, bangsa Arab tetap melaksanakan ritual haji, tetapi banyak ajaran Nabi Ibrahim yang telah mereka ubah.

Mereka menaruh berhala di sekitar Ka’bah, menyekutukan Allah, bahkan menyembelih hewan kurban bukan atas nama Allah. Bukit Shafa dan Marwah pun mereka isi dengan keyakinan jahiliyah.

Penyimpangan ini berlangsung hingga datangnya cahaya Islam melalui Nabi Muhammad SAW, yang diutus Allah untuk meluruskan kembali ajaran tauhid dan menyempurnakan manasik haji sesuai dengan syariat yang sebenarnya.

Nabi Muhammad SAW Menyempurnakan Rukun Haji

Nabi Muhammad SAW Menyempurnakan Rukun Haji
Nabi Muhammad SAW Menyempurnakan Rukun Haji

Pengutusan Nabi Muhammad SAW menjadi titik balik dalam perkembangan sejarah haji dalam Islam. Beliau diamanahkan untuk membersihkan kembali Ka’bah dari berhala dan menetapkan tata cara haji yang benar.

Allah SWT berfirman:

“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau mengendarai unta yang kurus, dari segenap penjuru yang jauh.”
(Surat Al-Hajj ayat 27)

Pada tahun ke-6 Hijriyah, Rasulullah berangkat dari Madinah menuju Makkah untuk menunaikan umrah. Namun, beliau dihalangi oleh kaum musyrik. Peristiwa ini dikenal sebagai Perjanjian Hudaibiyah.

Umrah baru berhasil beliau laksanakan pada tahun berikutnya, yaitu tahun ke-7 Hijriyah. Sedangkan ibadah haji secara langsung baru beliau tunaikan pada tahun 10 Hijriyah, yang dikenal dengan sebutan Haji Wada’ atau haji perpisahan.

Tata Cara Haji dan Hukum Syariatnya

Dalam pelaksanaan haji pertama Rasulullah SAW, beliau menjelaskan secara rinci tata cara atau manasik haji kepada para sahabat. Sabda beliau yang terkenal:

“Ambillah dariku tata cara pelaksanaan haji kalian.”

Mulai dari niat ihram, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melempar jumrah, hingga thawaf ifadah—semua diperintahkan dengan penuh ketelitian dan keteladanan. Rasulullah tidak hanya menjelaskan syarat sah haji, tetapi juga nilai-nilai ketakwaan, kesabaran, dan kepasrahan yang harus menjadi jiwa dari ibadah ini.

Waktu, Tempat, dan Adab dalam Berhaji

Al-Qur’an secara gamblang menjelaskan waktu-waktu pelaksanaan ibadah haji, tempat-tempat yang dimuliakan, serta adab yang harus dijaga:

“Musim haji itu pada bulan-bulan yang telah dimaklumi. Maka siapa yang berniat haji, jangan berkata jorok, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam haji.”
(Surat Al-Baqarah ayat 197)

Tempat-tempat seperti Safa, Marwah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina menjadi bagian dari syiar Allah, dan umat Islam diperintahkan untuk mengagungkan syiar-syiar tersebut sebagai tanda ketakwaan hati (Surat Al-Hajj ayat 32).

Peraturan Seputar Haji: Kurban, Fidyah, dan Larangan Ihram

Haji juga memiliki aturan khusus terkait kurban, fidyah (denda), serta larangan-larangan dalam ihram seperti berburu hewan:

“Janganlah kalian membunuh binatang buruan saat sedang ihram. Jika melanggar, maka dendanya ialah mengganti dengan hewan ternak yang setara.”
(Surat Al-Maidah ayat 95)

Allah juga menetapkan aturan fidyah bagi yang terhalang haji atau melanggar nazar, serta menetapkan aturan haji tamattu’, di mana jemaah melakukan umrah terlebih dahulu sebelum haji.

Makkah: Tanah Haram yang Dijaga Kesuciannya

Allah menjadikan Makkah sebagai kota yang aman dan diberkahi, tempat berkumpulnya umat manusia untuk beribadah dengan damai:

“Tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah menjadikan (negeri) itu tanah suci yang aman, padahal manusia di sekitarnya saling merampok?”
(Surat Al-Ankabut ayat 67)

Keamanan dan kesucian Tanah Haram ini menjadi bagian dari kemuliaan ibadah haji yang harus dijaga oleh setiap Muslim.

Misi Haji Rasulullah: Abu Bakar sebagai Amirul Hajj

Pada tahun ke-9 Hijriyah, Rasulullah mengirimkan misi haji yang dipimpin oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai amirul hajj. Tahun berikutnya, Rasulullah sendiri memimpin langsung haji umat Islam sebagai momentum terakhir penyampaian risalah secara lengkap.

Pada haji ini, Rasulullah menyampaikan khutbah perpisahan yang sarat makna, menekankan persamaan manusia, hak-hak perempuan, dan pentingnya berpegang pada Al-Qur’an dan sunah.

Penutup: Jejak Ibadah Haji sebagai Warisan Tauhid

Dari sejarah haji pertama kali yang dimulai sejak Nabi Ibrahim hingga Rasulullah SAW, terlihat jelas bahwa haji bukan hanya tentang rukun Islam, tetapi perjalanan spiritual yang mengandung pesan tauhid dan kemanusiaan.

Haji adalah momentum persatuan, kesabaran, dan ketaatan yang telah diwariskan turun-temurun. Inilah ibadah yang Allah tetapkan untuk menanamkan keikhlasan dalam hati setiap Muslim.

Artikel Terkait :

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Postigan Populer

spot_img