Selain dikenal dengan Karapan Sapi, Pulau Madura juga memiliki kekayaan budaya lainnya yang masih dijaga dengan baik hingga kini. Salah satu warisan budaya yang unik dan penuh makna adalah Tradisi Toron Tana, sebuah ritual adat bayi Madura yang dijalankan saat bayi menginjak usia 7 bulan.
Upacara ini tidak hanya menjadi momen penting dalam kehidupan seorang anak, tapi juga merupakan wujud dari nilai-nilai spiritual dan sosial masyarakat Madura yang begitu kuat terhadap adat dan kebiasaan leluhur.
Makna dan Filosofi di Balik Tradisi Toron Tana

Secara bahasa, Toron Tana berasal dari bahasa Madura; toron berarti “turun”, dan tana berarti “tanah”. Maka secara harfiah, Toron Tana dapat diartikan sebagai momen pertama kali seorang bayi diperbolehkan menyentuh tanah, sebagai tanda kesiapan untuk belajar berjalan.
Namun lebih dari sekadar prosesi menyentuh tanah, ritual Toron Tana menyimpan filosofi mendalam. Bagi masyarakat Madura, saat seorang anak menyentuh bumi, itu berarti dia mulai memasuki dunia nyata yang menuntut tanggung jawab dan perjuangan. Oleh karena itu, tidak sedikit orang tua yang melarang bayi mereka menyentuh tanah sebelum upacara ini dilakukan.
Pelaksanaan dan Penentuan Hari Baik
Tidak sembarang hari bisa dipilih untuk melaksanakan upacara Toron Tana. Orang tua biasanya akan berkonsultasi dengan sesepuh kampung atau tokoh adat untuk menentukan hari baik demi menghindari hal-hal buruk yang tidak diinginkan.
Ada keluarga yang melaksanakan acara ini secara sederhana di rumah dengan mengundang tetangga sekitar. Ada pula yang memilih lokasi sakral seperti makam ulama besar, seperti Syaikhona Kholil di Bangkalan atau makam para Wali sebagai tempat pelaksanaan ritual, menambahkan dimensi spiritual dalam tradisi ini.
Persiapan dan Perlengkapan yang Digunakan
Sebelum prosesi dimulai, beberapa perlengkapan penting perlu disiapkan. Di antaranya:
- Bubur yang dibungkus daun pisang (disebut taker) untuk diinjak bayi
- Nampan berisi benda-benda simbolis, seperti:
- Al-Qur’an
- Tasbih
- Pulpen
- Sikat rambut
- Uang kertas
- Hasil bumi seperti jagung, beras, atau bahan pokok lainnya
Perlengkapan ini bukan hanya pajangan semata, melainkan simbol dari harapan dan doa yang disematkan keluarga untuk masa depan si anak.
Rangkaian Prosesi Toron Tana
Acara dimulai dengan pembacaan doa bersama oleh keluarga dan para tamu undangan, biasanya berupa Tahlil dan Surat Yasin. Si bayi akan berada di pangkuan anggota keluarga selama doa dibacakan.
Setelah pembacaan doa selesai, si bayi diarahkan untuk menginjak tanah dan bubur di atas taker. Ini menjadi momen simbolis pertama kalinya ia menyentuh bumi.
Kemudian, bayi dibawa ke hadapan nampan yang telah disusun dengan benda-benda simbolis. Bayi akan diarahkan untuk memilih salah satu benda, yang dipercaya sebagai petunjuk arah masa depan sang anak.
Makna di Balik Benda yang Dipilih Bayi
Setiap benda yang tersedia di atas nampan memiliki makna tersendiri:
- Al-Qur’an: diharapkan anak menjadi pecinta Al-Qur’an atau seorang hafidz
- Pulpen: melambangkan masa depan sebagai pelajar yang rajin dan sukses
- Uang: simbol harapan agar anak menjadi pribadi yang makmur dan terpandang
- Hasil panen: menggambarkan masa depan sebagai petani yang sukses dan mandiri
Menurut kepercayaan masyarakat, benda pertama yang diambil si anak akan mencerminkan profesi atau jalan hidupnya kelak. Meski tidak semua percaya sepenuhnya, namun ritual ini tetap dijalankan sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya dan leluhur.
Penutup Upacara dan Makna Sosialnya
Setelah prosesi selesai, bubur yang digunakan dalam acara biasanya dibawa ke padengdeng, yaitu pertigaan jalan yang dahulu sering dijadikan tempat sesajen. Sementara itu, barang-barang di nampan dibagikan kepada tamu undangan sebagai simbol keberkahan.
Secara keseluruhan, Tradisi Toron Tana bukan hanya tentang bayi menyentuh tanah untuk pertama kalinya. Lebih dari itu, ia adalah doa bersama, harapan kolektif, dan simbol penyambutan kehidupan baru yang penuh tanggung jawab. Ritual ini menjadi bukti betapa masyarakat Madura sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, keluarga, dan spiritualitas.
Kesimpulan
Upacara adat Toron Tana merupakan salah satu tradisi paling sakral dan menyentuh dalam kehidupan masyarakat Madura. Ia mengajarkan bahwa setiap langkah awal dalam hidup adalah bagian dari proses menuju kedewasaan dan tanggung jawab yang lebih besar.
Dengan menjaga dan melestarikan Tradisi Toron Tana, kita tidak hanya melindungi warisan budaya lokal, tetapi juga ikut meneruskan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para leluhur.


