kerja Sama

Kirim Tulisan

Home

ic_fluent_news_28_regular Created with Sketch.

Berita

ic_fluent_phone_desktop_28_regular Created with Sketch.

Teknologi

Wisata

Pendidikan

Bisnis

Keislaman

ic_fluent_incognito_24_regular Created with Sketch.

Gaya Hidup

Sosial Media

Ubah Limbah jadi Energi Alternatif: Mahasiswa KKN UTM 34 Gelar Pelatihan Pembuatan Arang Briket di Desa Banuaju Barat.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang tergabung dalam Kelompok 34 menciptakan gebrakan baru di Desa Banuaju Barat, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep. Inovasi tersebut berupa program pelatihan pembuatan arang briket dari limbah pohon siwalan, sebuah potensi lokal yang sebelumnya kurang dimanfaatkan secara optimal oleh warga.

Desa Banuaju Barat dikenal sebagai daerah yang memiliki banyak pohon siwalan, yang menghasilkan buah dan nira yang sering dijadikan minuman tradisional atau dijual sebagai komoditas lokal.

Namun, keberlimpahan ini juga menyisakan persoalan lingkungan. Setiap musim panen, limbah siwalan seperti batang kering, daun, dan terutama tempurung sering kali dibiarkan menumpuk atau dibakar sembarangan, menimbulkan polusi serta pemborosan potensi bahan baku.

Melihat kenyataan tersebut, mahasiswa KKN UTM Kelompok 34 berinisiatif memanfaatkan limbah tersebut menjadi arang briket, yakni bahan bakar padat alternatif yang murah, ramah lingkungan, dan memiliki nilai jual. Inisiatif ini tidak hanya menjawab permasalahan limbah organik, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.

“Selama ini limbah siwalan hanya jadi sampah. Padahal kalau diolah dengan tepat, bisa jadi produk yang berguna. Kami ingin membantu warga melihat potensi itu,” ungkap salah satu anggota KKN.

Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk memberikan keterampilan baru bagi masyarakat, namun juga sebagai bentuk edukasi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi desa. Dengan memanfaatkan bahan baku yang melimpah, arang briket dapat menjadi sumber energi alternatif yang cocok digunakan untuk memasak sehari-hari, sekaligus produk yang bisa dijual ke luar desa.

Beberapa manfaat yang ditargetkan antara lain adalah mengurangi volume limbah organik dari pohon siwalan, menciptakan alternatif bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dibandingkan kayu bakar atau gas elpiji, menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah, serta membuka peluang usaha kecil dan lapangan kerja berbasis potensi lokal.

Pelatihan ini dilaksanakan langsung di Balai Desa Banuaju Barat dan diikuti oleh warga, terutama para bapak-bapak yang memiliki lahan berisi pohon siwalan. Kegiatan ini melibatkan perangkat desa dan tokoh masyarakat agar mendukung kelanjutan program secara lokal.

Pelatihan berlangsung secara interaktif, dengan materi mencakup pengenalan bahan baku dan potensi limbah siwalan, proses karbonisasi (pembakaran tertutup) untuk menghasilkan arang dari limbah siwalan, penghalusan arang dan pencampuran dengan air serta perekat alami (tepung kanji), pencetakan briket menggunakan pipa bekas sebagai cetakan, proses penjemuran sebagai tahap akhir sebelum briket siap digunakan, serta simulasi pembakaran dan uji kualitas briket.

Proses ini sangat sederhana dan dapat dilakukan dengan alat-alat seadanya, sehingga bisa dengan mudah direplikasi oleh warga tanpa ketergantungan pada mesin industri. Misalnya, untuk karbonisasi, warga hanya membutuhkan kaleng bekas yang tertutup untuk membakar limbah agar menghasilkan arang tanpa asap berlebihan. “Kami menggunakan metode sederhana agar warga tidak kesulitan jika ingin mempraktekkannya di rumah. Intinya, bisa dilakukan siapa saja dan kapan saja dengan bahan yang tersedia,” jelas salah satu anggota divisi pelatihan.

Warga Desa Banuaju Barat tampak antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka tidak hanya menyimak teori, tetapi juga aktif mencoba proses pencetakan briket dan bertanya tentang peluang pemasaran. Beberapa warga bahkan sudah mulai membayangkan untuk membuat briket sendiri dan menjualnya di pasar tradisional terdekat. Salah satu warga, Bapak Nisman, mengaku senang dengan adanya pelatihan ini.

“Biasanya tempurung dan daun siwalan cuma dibakar atau dibuang, tapi ternyata bisa jadi bahan bakar yang bisa dijual. Ini ilmu baru yang sangat bermanfaat,” ujarnya. Antusiasme warga ini menjadi penyemangat tersendiri bagi tim KKN. Mereka merasa bahwa misi pengabdian yang dibawa tidak sia-sia, karena memberikan perubahan nyata di tengah masyarakat.

Meskipun masa KKN hanya berlangsung sekitar satu bulan, harapan tim KKN Kelompok 34 tidak berhenti di situ. Mereka ingin agar pelatihan ini menjadi langkah awal bagi warga untuk mengembangkan usaha berkelanjutan. Salah satu gagasan yang dibawa adalah membentuk kelompok usaha kecil (UKM) yang fokus pada pengolahan limbah siwalan menjadi briket, sehingga dapat menjadi produk unggulan desa.

“Kami hanya membuka jalan. Harapannya, warga bisa melanjutkan dan menjadikannya sebagai usaha berkelanjutan,” ujar salah satu perwakilan tim KKN.

Sebagai langkah lanjutan, tim juga menyerahkan dokumentasi pelatihan, panduan tertulis, serta kontak narahubung bagi warga yang ingin konsultasi setelah masa KKN selesai. Dengan demikian, proses pengembangan usaha ini tetap bisa didampingi meski tim mahasiswa sudah kembali ke kampus.

Program kerja pelatihan pembuatan arang briket dari limbah siwalan oleh mahasiswa KKN Universitas Trunojoyo Madura Kelompok 34 menjadi contoh nyata bahwa pemberdayaan masyarakat bisa dimulai dari hal sederhana, namun memiliki dampak besar.

Dari yang sebelumnya hanya dianggap sebagai sampah, limbah siwalan kini bertransformasi menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan, ekonomis, dan berpotensi meningkatkan pendapatan warga.

Melalui pendekatan edukatif, praktis, dan partisipatif, mahasiswa berhasil mengubah paradigma warga dari sekadar pengguna menjadi produsen energi ramah lingkungan. Harapannya, Desa Banuaju Barat kelak bisa dikenal tidak hanya sebagai desa penghasil siwalan, tetapi juga sebagai desa mandiri energi berbasis pengolahan limbah lokal

• Pengenalan bahan baku dan manfaat briket
• Proses pembuatan arang dari limbah organik
• Penghalusan dan pencampuran bahan (dengan perekat alami seperti tepung kanji)
• Pencetakan briket dan proses pengeringan
• Simulasi pembakaran dan uji coba kualitas briket

Proses pembuatan briket ini terbilang sederhana dan bisa dilakukan dengan alat seadanya. Pertama, limbah siwalan dikeringkan dan dibakar dalam kaleng tertutup untuk menghasilkan arang (proses ini disebut karbonisasi).

Setelah itu, arang dihancurkan menjadi serbuk, dicampur dengan air dan lem alami dari tepung kanji, lalu dicetak menggunakan pipa bekas hingga berbentuk bulat atau silinder. Setelah dicetak yaitu proses penjemuran, dimana proses ini dilakukan selama beberapa hingga briket pun kering merata dan siap digunakan. 

Tim KKN tak hanya mempraktikkan pembuatan briket, tapi juga mengadakan pelatihan langsung untuk warga. Warga terlihat antusias karena selain menambah pengetahuan baru, mereka juga melihat peluang usaha dari produk ini.

Harapan  dari Mahasiswa KKN dalam kegiatan ini tidak berhenti saat masa pengabdian berakhir. Namun berharap warga dapat meneruskan dan mengembangkan produksi briket, bahkan bisa membentuk kelompok usaha kecil yang fokus pada pengolahan limbah siwalan.

“Kami hanya membuka jalan. Harapannya, warga bisa melanjutkan dan menjadikannya sebagai usaha berkelanjutan,” ujar perwakilan tim KKN.

Artikel Terkait :

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Postigan Populer

spot_img