Tanjung Solok, Jambi — Selama 45 hari Hariz, mahasiswa KKN Mandiri 2025 MIS Mafatihul Huda Tanjung Solok, Kuala Jambi, Tanjung Jabung Timur, Jambi, menemukan pengalaman berharga yang tak hanya menambah pengetahuan akademik, tetapi juga mengasah keterampilan sosial dan emosional.
Melalui interaksi langsung dengan siswa, guru, dan masyarakat sekitar, ia belajar bahwa pendidikan bukan sekadar soal menyampaikan materi pelajaran, melainkan juga soal membangun kedekatan, menumbuhkan motivasi, serta memupuk rasa kebersamaan.
“45 hari terasa singkat, tapi setiap harinya penuh makna. Saya belajar banyak tentang dunia pendidikan dan tentang diri saya sendiri,” ungkap Hariz.
Minggu pertama menjadi momen penyesuaian. Hariz memulai hari-harinya dengan mengenal lingkungan madrasah, berbincang dengan kepala sekolah, dan berdiskusi bersama guru-guru mengenai program kerja yang akan dijalankan. Meskipun awalnya ada rasa canggung, sambutan hangat dari warga madrasah membuatnya cepat beradaptasi. “Sejak pertama kali datang, saya langsung merasa diterima,” kata Hariz. “Guru-guru dan siswa menyapa dengan ramah, membuat saya merasa seperti sudah menjadi bagian dari keluarga MIS Mafatihul Huda.”
Di fase awal ini, Hariz mulai memahami kultur madrasah, karakter siswa, dan kebiasaan belajar mereka. Menurutnya, mengenali ekosistem pendidikan adalah langkah penting agar program KKN berjalan efektif dan bermanfaat.
Salah satu program awal yang dijalankan adalah pengecatan ulang ruang kelas. Meski tampak sederhana, kegiatan ini membawa dampak besar. Ruang belajar menjadi lebih bersih, segar, dan nyaman. Bagi siswa, perubahan ini memunculkan semangat baru dalam mengikuti pelajaran. “Awalnya, saya kira mengecat hanya pekerjaan teknis. Tapi ketika melihat wajah ceria siswa saat masuk ke kelas baru, saya sadar bahwa hal-hal kecil bisa memberi dampak besar,” tutur Hariz sambil tersenyum.
Program ini juga melatih kerja sama tim dan gotong royong. Hariz bersama guru, dan beberapa siswa saling membantu agar proses pengecatan berjalan cepat. Bagi Hariz, pengalaman ini mengajarkan pentingnya rasa kepemilikan terhadap lingkungan belajar.
Memasuki minggu ketiga, Hariz mulai resmi mengajar sesuai jadwal. Ia mendampingi siswa belajar Iqra’, membaca Al-Qur’an, menulis, dan mempelajari materi Fiqih. Pada awalnya, ada rasa gugup ketika berdiri di depan kelas, tetapi perlahan kepercayaan diri tumbuh. “Berdiri di depan siswa itu berbeda dengan sekadar mempersiapkan materi. Kita harus benar-benar siap, bukan hanya soal isi pelajaran, tapi juga cara menyampaikan, mengatur kelas, dan memotivasi mereka,” ujar Hariz.

Setiap pertemuan memberikan pengalaman baru. Ada siswa yang tiba-tiba lebih lancar membaca, ada yang berani menjawab pertanyaan di depan kelas, bahkan ada yang tersenyum bangga setelah berhasil menyelesaikan latihan. Momen-momen sederhana ini, menurut Hariz, menjadi sumber energi yang membuatnya semakin bersemangat.
Hariz mengakui, tantangan terbesar selama mengajar adalah perbedaan kemampuan siswa. Ada yang sudah lancar membaca, ada pula yang masih perlu pendampingan intensif. Situasi ini menuntut kreativitas dan kesabaran dalam mengajar. “Awalnya saya bingung bagaimana menyeimbangkan materi agar semua siswa bisa mengikuti,” kata Hariz. “Tapi kemudian saya belajar menggunakan pendekatan fleksibel, menyesuaikan metode dengan kebutuhan masing-masing siswa.”
Selain itu, Hariz belajar bahwa menjadi guru bukan hanya soal pengetahuan akademik, tetapi juga kemampuan membangun relasi positif dengan siswa. Dengan memahami karakter masing-masing, ia menemukan cara terbaik untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Minggu keenam menjadi momen paling padat. Hariz terlibat dalam penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk program Madrasah Layak Belajar BAZNAS RI 2025. Proses ini memberinya wawasan baru tentang manajemen program pendidikan, mulai dari perencanaan kebutuhan, alokasi dana, hingga prioritas kegiatan.
Di waktu yang sama, madrasah juga sibuk mempersiapkan perayaan HUT RI ke-80. Hariz bersama para guru dan siswa berkoordinasi untuk menyiapkan konsep acara, lomba-lomba, serta hadiah menarik untuk para pemenang. “Melihat senyum anak-anak saat melihat hadiah membuat semua lelah terbayar,” kenang Hariz. “Momen ini mengingatkan saya bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di dalam kelas, tetapi juga melalui kegiatan bersama yang membangun semangat kebersamaan.”
45 hari di MIS Mafatihul Huda memberikan Hariz banyak pembelajaran hidup. Dari tawa polos siswa hingga semangat gotong royong warga sekolah, semuanya menjadi pengalaman yang tak ternilai. Menurut Hariz, KKN bukan sekadar tugas akademik, melainkan perjalanan menemukan makna pendidikan yang sebenarnya. “Saya belajar bahwa pendidikan bukan hanya soal buku dan teori. Pendidikan adalah tentang membangun karakter, menanamkan nilai, dan menciptakan pengalaman bermakna bagi siswa,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, interaksi dengan masyarakat sekitar membuka wawasan tentang pentingnya empati dan kebersamaan. Dari saling membantu mempersiapkan acara sekolah hingga berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari, semuanya membuatnya merasa lebih dekat dengan komunitas madrasah.
Bagi Hariz, pengalaman ini akan menjadi bekal berharga untuk masa depannya sebagai calon pendidik. Ia berharap ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama KKN dapat diaplikasikan ketika kembali ke dunia akademik maupun saat terjun ke masyarakat. “Saya ingin membawa semangat ini kemanapun saya melangkah,” ucap Hariz. “Semoga program seperti ini terus ada, karena memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari realitas pendidikan dan kehidupan sosial.”
Pengalaman KKN Hariz di MIS Mafatihul Huda adalah bukti bahwa pengabdian masyarakat dapat menjadi jembatan antara teori dan praktik pendidikan. Dari ruang kelas hingga persiapan perayaan kemerdekaan, setiap aktivitas membawa pesan tentang pentingnya gotong royong, empati, dan dedikasi.
KKN bukan hanya tentang melaksanakan program, melainkan tentang menemukan arti kebersamaan, kesabaran, dan ketulusan. Bagi Hariz, jejak 45 hari di madrasah ini akan selalu abadi.
Muhammad Hariz Majid, Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, UIN STS Jambi
Dosen Pembimbing Lapangan: Sri Rahma, M.E


