kerja Sama

Kirim Tulisan

Home

ic_fluent_news_28_regular Created with Sketch.

Berita

ic_fluent_phone_desktop_28_regular Created with Sketch.

Teknologi

Wisata

Pendidikan

Bisnis

Keislaman

ic_fluent_incognito_24_regular Created with Sketch.

Gaya Hidup

Sosial Media

Biografi Cak Nun: Seniman, Budayawan, dan Intelektual Muslim Asal Jombang

Nama Panggilan : Cak Nun / Mbah Nun

Biografi Cak Nun atau nama lengkapnya Emha Ainun Nadjib merupakan potret dari seorang tokoh yang menyatukan unsur seni, agama, pemikiran, dan kemanusiaan dalam satu napas perjuangan. Lahir di Menturo, Sumobito, Jombang, Jawa Timur, pada 27 Mei 1953, beliau tumbuh sebagai anak keempat dari 15 bersaudara dalam keluarga petani.

Masa Muda dan Pendidikan

Dalam biografi Cak Nun, diketahui bahwa pendidikan formalnya tak selesai secara utuh. Setelah lulus dari SMP Muhammadiyah di Yogyakarta, ia melanjutkan ke Pondok Modern Darussalam Gontor. Namun, pada tahun ketiga, Cak Nun dikeluarkan karena memimpin demonstrasi melawan kebijakan pemerintah. Ia kemudian menyelesaikan SMA di Muhammadiyah I Yogyakarta dan sempat kuliah di Fakultas Ekonomi UGM, meski hanya bertahan satu semester.

Tahun-Tahun Pengembaraan di Malioboro

Antara tahun 1970 hingga 1975, biografi Cak Nun mencatat bahwa ia menjalani kehidupan “menggelandang” di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Di sinilah ia belajar sastra secara informal kepada Umbu Landu Paranggi, sosok misterius yang dikenal sebagai “sufi sastra”. Pengalaman inilah yang membentuk dasar pemikiran dan karya-karya spiritual Cak Nun di kemudian hari.

Perjalanan Karier dan Aktivisme Kultural Cak Nun

Perjalanan Karier dan Aktivisme Kultural
Perjalanan Karier dan Aktivisme Kultural

Perjalanan biografi Cak Nun mencakup kiprahnya sebagai pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, lalu menjadi wartawan, kolumnis, penulis, dan seniman teater. Ia mendirikan Teater Dinasti dan Grup Musik Kiai Kanjeng yang hingga kini masih aktif berkeliling nusantara, membawakan pesan-pesan damai melalui musik dan dialog terbuka.

Ia juga aktif menggelar Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki sejak 1990-an — sebuah forum kebudayaan yang terbuka bagi semua kalangan, menyajikan shalawat, diskusi, dan seni lintas disiplin.

Gagasan Dakwah dan Pluralisme

Biografi Cak Nun mencatat pendekatan dakwahnya yang unik. Baginya, dakwah bukan sekadar ceramah, tetapi perilaku. Ia menolak penggunaan label dan lebih menekankan pada nilai keislaman yang inklusif. Salah satu kutipannya yang terkenal: “Dakwah utama bukan dengan kata-kata, tapi perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah.”

Tentang pluralisme, Cak Nun menegaskan bahwa Indonesia sejak dulu sudah plural dan hidup rukun. Ia menyebut pluralisme sebagai manajemen keberagaman, bukan penyamaan agama.


Kiprah Seni dan Karya Sastra

Dalam biografi Cak Nun, disebutkan bahwa beliau sangat produktif sebagai seniman. Ia menulis 16 buku puisi seperti Nyanyian Gelandangan, 99 Untuk Tuhanku, dan Seribu Masjid Satu Jumlahnya. Ia juga menghasilkan lebih dari 30 buku esai termasuk Markesot Bertutur, Slilit Sang Kiai, dan Tuhanpun Berpuasa.

Di bidang teater, karyanya meliputi drama seperti Geger Wong Ngoyak Macan, Mas Dukun, Santri-Santri Khidhir, dan Perahu Retak yang menggambarkan dinamika sosial-politik Indonesia secara alegoris.


Kehidupan Pribadi dan Keluarga

Biografi Cak Nun juga menyinggung tentang kehidupan rumah tangganya. Ia menikah dengan Novia Kolopaking, seorang aktris dan penyanyi terkenal. Dari dua pernikahannya, Cak Nun memiliki lima anak. Bersama Novia dan Kiai Kanjeng, ia menggelar pertunjukan seni yang menggabungkan unsur spiritual, sosial, dan budaya.


Warisan Pemikiran dan Pengaruh

Pengaruh Cak Nun tidak hanya terbatas pada kalangan pesantren atau seniman. Ia menjadi oase pemikiran alternatif bagi banyak orang yang jenuh dengan polarisasi politik atau tafsir agama yang kaku. Biografi Cak Nun menyiratkan pentingnya membangun ruang diskusi terbuka di tengah masyarakat.


Penutup

Melalui biografi Cak Nun, kita menyaksikan sosok multidimensi: penyair, pemikir, budayawan, sekaligus aktivis sosial. Karya-karyanya tetap relevan hingga kini, meneguhkan pentingnya kemanusiaan, toleransi, dan spiritualitas dalam kehidupan berbangsa dan beragama.

Artikel Terkait :

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Postigan Populer

spot_img