Bangkalan, 24 Mei 2025 – Suasana hangat namun penuh debat strategis mewarnai rapat koordinasi antara Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, dan Badan Silaturahmi Ulama se-Madura (BASRA) di Kampus Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Acara ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan geliat nyata upaya mewujudkan Provinsi Madura—sebuah wacana yang terus bergulir seperti karapan sapi: kadang melesat, kadang terhenti di tengah jalan.
Ulama, Birokrat, dan Akademisi: Satu Visi untuk Madura?
Rakor ini dihadiri oleh seluruh Bupati se-Madura, para tokoh ulama kharismatik, Rektor UTM, serta sejumlah pakar. Yang menarik, tidak semua pihak sepakat tentang langkah percepatan pemekaran. Beberapa mengkhawatirkan konflik kepentingan antar-kabupaten, sementara yang lain bersemangat membahas potensi ekonomi lokal, mulai dari garam Sumenep hingga kerajinan tulang sapi Bangkalan.
Lukman Hakim menekankan, “Kolaborasi, bukan kompetisi!” Ia menggambarkan Madura sebagai satu tubuh: jika satu kabupaten maju, yang lain harus ikut merasakan dampaknya. “Kita punya budaya sama, tapi sering kebijakan kita terpisah-pisah. Ini saatnya bersatu,” tegasnya.
Baca juga : IAIN Madura Kini Resmi Menjadi UIN Madura: Tonggak Baru Pendidikan Islam di Pulau Garam
Provinsi Madura: Impian Rakyat atau Proyek Politik?
BASRA, sebagai representasi suara ulama, mendorong pemerintahan yang lebih mandiri agar pembangunan lebih terfokus. Namun, beberapa akademisi UTM mengingatkan: “Jangan sampai pemekaran hanya jadi jargon politik tanpa perencanaan matang.”
Sorotan tajam juga muncul soal anggaran. Jika jadi provinsi, apakah APBD masing-masing kabupaten akan terdampak? Atau justru peluang investasi semakin terbuka? “Kita butuh kajian mendalam, bukan hanya emosi kedaerahan,” ujar salah satu dosen UTM.
Dukungan atau Sekadar Retorika?
Di tengah panasnya diskusi, Lukman Hakim menyatakan dukungan penuh pada aspirasi ulama dan masyarakat. “Kami siap memimpin kolaborasi ini,” katanya. Tapi, apakah komitmen ini akan bertahan setelah rakoor usai? Ataukah Provinsi Madura tetap jadi wacana yang digulirkan setiap pilkada?
Satu hal yang pasti: Madura sedang berbisik, dan mungkin sebentar lagi akan berteriak. Akankah Jakarta mendengar?


