Epistemologi sering dianggap sebagai milik dunia akademik penuh teori, rumit, dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, jika kita melihat ke arah timur pulau Jawa. Yaitu madura, kita akan menemukan bentuk epistemologi yang hidup pengetahuan lokal yang dibangun dan diwariskan melalui tradisi.
Masyarakat Madura tidak selalu belajar dari buku maupun melewati teori saja, melainkan mereka belajar dari wejangan orang tua, dari cerita rakyat, dari adat istiadat, seperti carok atau sistem keluarga tanean lanjang.
Nilai seperti kehormatan (kehormatan diri atau kehormatan keluarga), solidaritas, dan kejujuran bukan hanya sekedar norma, tapi bagian dari pengetahuan yang ditanamkan sejak kecil melalui praktik kebudayaan masyarakat.
Bahkan, sebagian masyarakat menganggap carok bagian dari tradisi Madura, terutama dalam menyelesaikan konflik atau masalah. Padahal, carok sejatinya bukanlah warisan budaya atau tradisi yang patut dipertahankan.
Tindakan ini merupakan bentuk kekerasan yang keliru namun seringkali dianggap sebagai solusi dalam menyelesaikan permasalahan oleh sebagian kalangan masyarakat. Sudah saatnya masyarakat memahami bahwa penyelesaian masalah tidak harus dilakukan dengan kekerasan, melainkan melalui musyawarah dan pendekatan yang lebih beradab.
Berbeda halnya dengan Tanean Lanjhang, yang memang diakui sebagai tradisi sekaligus budaya masyarakat Madura. Yang di dalamnya terkandung berbagai nilai dan manfaat yang nyata, salah satunya adalah mempererat tali kekeluargaan.
Dengan pola hunian yang saling berdekatan, sehingga anggota keluarga lebih mudah untuk saling membantu, menjaga, dan melindungi satu sama lain.
Tanean Lanjhang juga memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya. Melalui pelestariannya, sehingga budaya Madura dapat diperkenalkan kepada dunia luar sekaligus berkontribusi pada peningkatan perekonomian masyarakat setempat.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan di era modern, nilai-nilai yang terkandung dalam Tanean Lanjhang tetap relevan. Tradisi ini dapat menjadi contoh konkret tentang bagaimana menjaga keharmonisan, kebersamaan, dan solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat.
Namun, dalam melihat dua sisi budaya Madura seperti carok dan Tanean Lanjhang, kita bisa lebih bijak dalam memahami apa yang disebut sebagai “warisan budaya”. Tidak semua yang tumbuh dalam masyarakat patut dilestarikan, dan tidak semua yang sederhana bisa dipandang remeh.
Dalam konteks epistemologi, kita perlu memilih mana pengetahuan lokal yang membangun nilai kemanusiaan, dan mana yang justru melanggengkan kekerasan (melenceng dari nilai kemanusiaan).
Carok, meski kerap dianggap bagian dari identitas Madura, sejatinya adalah bentuk penyimpangan dari nilai-nilai kemasyarakatan yang menjunjung tinggi kehormatan serta kedamaian. Yang tentunya hal ini sudah meleset dari nilai kemasyarakatan tersebut.
Dalam konteks budaya lokal, epistemologi berperan penting sebagai alat untuk memilih dan menilai mana tradisi yang perlu dilestarikan dan mana yang perlu ditinggalkan.
Dalam epistemologi tidak hanya berbicara tentang bagaimana pengetahuan diperoleh, akan tetapi juga menuntut adanya sikap kritis terhadap segala bentuk informasi dan praktik yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Dalam keseharian masyarakatnya.
Di Madura, epistemologi tidak hanya berwujud di dalam teori di ruang kuliah saja, melainkan terwujud nyata dalam tradisi-tradisi lokal yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu contohnya adalah tradisi Tanean Lanjhang, pola pemukiman khas Madura yang merefleksikan sistem pengetahuan tentang relasi sosial, struktur keluarga, serta nilai-nilai kolektif masyarakat.
Tradisi seperti Carok, meskipun sering dipandang negatif karena kekerasan yang melekat, juga tidak lepas dari dimensi epistemologi.
Carok bukan sekedar bentuk pertikaian, tetapi mengandung pengetahuan lokal tentang harga diri, kehormatan, dan penyelesaian konflik yang diwariskan secara kultural. Ini menunjukkan bahwa epistemologi di Madura bersumber dari pengalaman hidup, nilai-nilai adat, dan praktik sosial yang mengakar kuat.
Dengan demikian, menyelami epistemologi Madura berarti menyelami cara orang Madura memahami dunia, membangun nilai, serta menata kehidupan sosial mereka.
Tradisi-tradisi ini menjadi bukti bahwa pengetahuan tidak selalu bersifat tekstual dan akademis, tetapi juga bisa bersifat lisan, simbolik, dan praktis yang lahir dari konteks lokal.
Pendekatan ini membuka mata kita bahwa epistemologi tidak harus selalu lahir dari filsafat Barat yang rasional dan sistematis.Pengetahuan lokal yang berkembang di Madura memperkaya khazanah epistemologi dengan perspektif kontekstual dan berbasis pengalaman kolektif.
Epistemologi Madura menawarkan kearifan yang mengintegrasikan akal, hati, dan budaya, sehingga menciptakan pemahaman yang holistik dan mendalam.Lebih jauh, nilai-nilai seperti gotong royong, kehormatan keluarga, dan kesetiaan terhadap tradisi menjadi sumber utama dalam pembentukan pengetahuan masyarakat Madura.
Nilai-nilai ini tidak hanya diajarkan secara lisan, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari melalui pola hidup komunal, pengambilan keputusan kolektif, hingga tata cara bermasyarakat yang baik.
Oleh karena itu, penting bagi kita khususnya akademisi dan generasi muda untuk tidak memandang rendah pengetahuan tradisional.
Justru dengan memahami epistemologi lokal seperti yang ada di kehidupan Madura, kita dapat membangun jembatan antara ilmu pengetahuan modern dan warisan budaya, sehingga tercipta sinergi yang saling memperkaya dan tidak saling meniadakan.
Dalam dunia yang semakin global, pelestarian dan pengakuan terhadap epistemologi lokal menjadi langkah penting untuk menjaga identitas, sekaligus memperkuat posisi budaya dalam arus perubahan zaman.
Rodifatun Anisa


