POJOKSURAMADU.COM – Seringkali muncul pernyataan bahwa kemajuan teknologi bak pisau bermata dua atau simalakama bagi penggunanya. Di sisi lain sangat bermanfaat karena memudahkan urusan dalam kehidupan. Namun di sisi lain, berdampak negatif ketika tak bijak penggunaannya.
Namun bagi digital native, generasi yang sejak lahir sudah hidup bersama majunya teknologi sangatlah tipis perbedaannya. Dunia maya bak dunia nyata begitu sebaliknya, dunia nyata bak dunia maya, saat mereka belajar, bersosialisasi, aktualisasi hingga nilai-nilai religius mereka amat sangat dipengaruhi dunia digital.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan data yang cukup meresahkan, yaitu setidaknya 720 ribu generasi muda kehilangan nyawa karena bunuh diri setiap tahun. Dan secara global, bunuh diri menjadi penyebab tertinggi ketiga kematian anak usia 15-29 tahun (health.detik.com, 10-9-2025).
Faktor risiko bunuh diri menurut WHO meliputi kondisi kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi, rasa kehilangan, kesepian, diskriminasi, perselisihan hubungan, masalah keuangan, nyeri dan penyakit kronis, kekerasan, pelecehan, serta konflik atau keadaan darurat kemanusiaan lainnya.
Dan, semua faktor penyebab bunuh diri tak tumbuh dengan sendirinya, melainkan terbentuk dari cara seseorang mencari jati diri dan memahami realitas hidup di sekelilingnya, contoh termudah dan terbanyak adalah interaksi mereka dengan media sosial.
Jumlah pengguna internet di Indonesia kembali mencatat rekor baru. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bertajuk “Profil Internet Indonesia 2025”, pada semester pertama tahun ini menyebutkan jumlah pengguna internet di Tanah Air telah mencapai 229.428.417 jiwa. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, menandakan internet kian menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat (cloudcomputing.id,12-8-2025).
Ada kenaikan secara signifikan setiap tahunnya, pada 2023 pengguna internet di Indonesia berjumlah 215 juta jiwa. Naik 6 juta menjadi 221,5 juta jiwa pada 2024, kemudian naik lagi 229,4 juta pada 2025. Peningkatan ini mencerminkan penetrasi teknologi digital yang semakin luas sekaligus menunjukkan transformasi perilaku masyarakat yang semakin mengandalkan internet untuk beragam aktivitas, mulai dari komunikasi hingga aktivitas ekonomi, dari mulai media sosial, berita/informasi terkini, Transaksi online, hiburan.
Internet juga dimanfaatkan untuk mengakses layanan publik dan keuangan, berkirim email, belajar dan bekerja dari rumah, serta memesan transportasi daring. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai 284,43 juta jiwa tahun ini, capaian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa teknologi digital telah merambah hampir seluruh lapisan masyarakat dan berbagai kepentingan.
Survei APJII juga mengungkap komposisi pengguna internet yang didominasi Generasi Z (lahir 1997–2012, usia 12–27 tahun) dengan kontribusi 25,54 persen dari total pengguna. Kemudian Generasi Milenial (lahir 1981–1996, usia 28–43 tahun) dengan 25,17 persen, dan Generasi Alpha (lahir 2013 ke atas) sebesar 23,19 persen.
Tak ayal, hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan dalam menjaga produktivitas masyarakat, dilihat dari lamanya durasi mereka menggunakan internet, pengguna lebih dari 10 jam per hari mencapai jumlah 7, 66 persen. Sedangkan 4-6 jam perhari ada peningkatan 31, 34 persen di tahun 2024 menjadi 35,75 persen di tahun 2025.
Ruang Digital Tidak Netral
Fakta-fakta inilah yang kemudian melabeli Gen Z sebagai generasi lemah, susah diatur, tidak bisa kompromi, tapi di satu sisi memiliki potensi kritis dan mampu menginisiasi perubahan melalui sosmed. Padahal yang harus kita pahami adalah ruang digital itu tidak netral, hari ini tentu karena didominasi nilai sekuler kapitalistik. Tak ada halal haram.
Di sisi lain ada nilai positifnya semisal activism glocal yaitu aktifitas menyuarakan terjadi peristiwa atau ketidakadilan hanya melalui pergerakan media sosial, semisal tagar Indonesia gelap yang begitu membahana ke seluruh negeri, belajar era hari ini lebih mudah dan sebagainya, namun sisi negatifnya, memunculkan problem mental, inklisif-progresif, mempertanyakan agama-otentik dan memiliki nilai sendiri yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Sayangnya juga, meski satu suara perubahan yang muncul, dan mampu menggerakkan manusia di belahan bumi yang lain, namun pergerakan itu cenderung pragmatis, hanya mencari validasi dan inilah yang kemudian menjadi karakteristik digital native.
Islam Solusi Wujudkan Perubahan Hakiki
Perubahan adalah sesuatu yang tak terhindarkan, ia ada sepanjang kehidupan ini ada. Masalahnya, sistem aturan hidup yang hari ini melingkupi manusia bukanlah aturan hidup yang sahih, yang bisa mewujudkan kesejahteraan.
Bahkan lebih buruk lagi menjadikan kaum muslim terjebak dalam penjajahan pemikiran. Menjauhkannya dari membentuk kepribadian unggul sebagaimana yang Allah kehendaki dalam firmanNya yang artinya, ” Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (TQS Ali-Imran :110).
Menjadi perkara penting untuk menyelamatkan generasi dari pengaruh hegemoni ruang digital yang sekuler kapitalistik. Dengan cara mengubah paradigma berpikir sekuler menjadi paradigma berpikir Islam. Kreatifitas dan kemahiran bermedsos gen Z harus diarahkan untuk memberikan solusi sistemis dan ideologis berdasarkan paradigma Islam. Mereka harus sadar bahwa ruang lingkup mereka adalah masyarakat yang hidup dan senantiasa berkembang, membutuhkan kepekaan dan kepedulian untuk menggirig perubahan.
Upaya ini membutuhkan sinergi yang kuat dan berkelanjutan antara keluarga, masyarakat dan negara , untuk satu misi utama yaitu menyelamatkan generasi dan mengarahkan pada pergerakan yang sahih. Bukan sekadar target Indonesia Emas 2045 melainkan hingga akhirat. Wallahualam bissawab.


