Bangkalan – Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 10 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali menorehkan prestasi gemilang dengan program kerja inovatifnya di Desa Planggiran, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. Dalam upaya nyata mendukung perekonomian lokal, kelompok ini berhasil menciptakan dan menghibahkan satu unit mesin pemarut singkong otomatis kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) desa, khususnya bagi para pengrajin kerupuk singkong. Program ini diharapkan mampu menjadi katalisator peningkatan produktivitas dan kualitas produk olahan singkong di Desa Planggiran.
Desa Planggiran dikenal memiliki potensi besar dalam sektor pertanian, dengan singkong sebagai salah satu komoditas utama. Banyak warga desa menggantungkan hidupnya pada pengolahan singkong menjadi berbagai produk, salah satunya adalah kerupuk singkong yang telah lama menjadi ikon kuliner lokal. Namun, proses produksi kerupuk singkong, terutama pada tahapan pemarutan, masih banyak dilakukan secara manual. Metode tradisional ini memakan waktu, tenaga, dan seringkali menghasilkan kualitas parutan yang kurang seragam, berdampak pada efisiensi produksi dan daya saing produk.
Menyadari tantangan tersebut, KKN Kelompok 10 UTM yang beranggotakan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu seperti Teknik Mesin, Teknik Elektro, Agribisnis, Sosiologi, Sastra Inggris, Teknologi Industri Pertanian, Manajemen Sumberdaya Perairan dan Psikologi, berinisiatif merancang solusi teknologi tepat guna. Penanggung jawab dalam program kerja ini adalah Mahendra Adi Pratama, seorang mahasiswa Teknik Elektro UTM dan Muhammad Imam Nasruddin, seorang mahasiswa teknik Mesin. Di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan, mereka melakukan survei mendalam untuk memahami kebutuhan riil para pelaku UMKM kerupuk singkong di Desa Planggiran. Dari hasil survei, terungkap bahwa mesin pemarut singkong merupakan prioritas utama yang dapat secara signifikan mempercepat proses produksi.
“Kami melihat langsung bagaimana ibu-ibu di sini memarut singkong berkarung-karung dengan tangan. Itu sangat melelahkan dan memakan banyak waktu,” ujar Mahendra Adi Pratama, selaku penanggung jawab dalam program kerja ini. “Dari situlah muncul ide untuk membuat mesin pemarut singkong yang sederhana namun efektif, agar beban mereka berkurang dan produksi bisa meningkat.”
Setelah beberapa minggu melakukan riset, perancangan, dan uji coba, mesin pemarut singkong otomatis buatan KKN Kelompok 10 UTM akhirnya rampung. Mesin ini dirancang dengan mempertimbangkan aspek efisiensi, keamanan, dan kemudahan penggunaan. Dengan dimensi yang tidak terlalu besar, mesin ini mudah ditempatkan di area produksi UMKM desa. Material yang digunakan juga dipilih yang kuat dan tahan lama, serta mudah dibersihkan, menjamin higienitas produk olahan.
Keunggulan utama mesin ini terletak pada kemampuannya memarut singkong dalam jumlah besar dengan waktu yang relatif singkat. Jika sebelumnya pemarutan manual untuk sejumlah besar singkong bisa memakan waktu berjam-jam, kini dengan mesin ini proses tersebut dapat diselesaikan dalam hitungan menit. Hasil parutan yang dihasilkan pun lebih halus dan seragam, berdampak langsung pada kualitas tekstur dan rasa kerupuk singkong yang lebih baik.
Prosesi penyerahan mesin pemarut singkong ini dilakukan pada hari Jumat, 19 Juli 2025, bertempat di rumah kepala Desa Planggiran dan dihadiri oleh Kepala Desa dan perangkat desa. Kepala Desa Planggiran, Bapak Ghufron Wibowo, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada KKN Kelompok 10 UTM. “Kami sangat berterima kasih atas inovasi dan kepedulian mahasiswa UTM. Mesin pemarut singkong ini bukan hanya sekadar alat, tetapi merupakan investasi berharga yang akan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat kami, khususnya para pelaku UMKM kerupuk,” ujarnya penuh semangat. “Ini adalah bukti nyata bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan desa dapat menghasilkan dampak positif yang luar biasa.”
Dengan adanya mesin pemarut singkong ini, diharapkan UMKM kerupuk singkong di Desa Planggiran dapat meningkatkan kapasitas produksinya, memenuhi permintaan pasar yang lebih luas, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan mereka. Inisiatif KKN Kelompok 10 UTM ini menjadi contoh inspiratif bagaimana pendidikan tinggi dapat berkontribusi langsung pada pembangunan masyarakat dan pemberdayaan ekonomi lokal melalui aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Program ini diharapkan dapat memicu semangat inovasi dan kemandirian bagi UMKM di desa-desa lainnya.


