Home Pendidikan Ahli Bidang Ilmu Pangan, Guru Besar UTM Lahirkan Segudang Penelitian

Ahli Bidang Ilmu Pangan, Guru Besar UTM Lahirkan Segudang Penelitian

SHARE
Guru besar Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura (UTM)Prof, Ir. Umi Purwandari, M,App.Sc.PhD, Foto: Pojoksuramadu.com

POJOKSURAMADU.COM, Bangkalan – Guru besar Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura (UTM)Prof, Ir. Umi Purwandari, M,App.Sc.PhD sukses menyelesaikan banyak penelitian di bidang ilmu pangan.

Kurang lebih 25 hasil penelitian yang sudah diselesaikan. Tak sedikit dari penelitiannya meraih penghargaan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan predikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) serta mendapatkan luaran lainnya dari hasil penelitian.

Wanita kelahiran Kebumen 26 Agustus 1964 itu memperoleh gelar S1 di bidang teknologi pertanian dan pengolahan hasil pertanian di Universitas Gajah Mada (UGM), S2 department aplied biology (Faculty of biomedical and health sciences) di Royal Melbourne Institute Of Technology University Australia, S3 Food Science (Faculty of Biomedical and Health Sciences) di Victoria University, Melbourne, Australia.

Dalam karir penelitiannya, Umi selalu memfokuskan pada penelitian pangan di pulau jawa. Dari makanan tradisional yang bahannya dari aneka umbi-umbian serta sayur sayuran seperti singkong dan daun kelor.

Sedikitnya 6 dari penelitiannya sudah memperoleh reward HKI salah satunya yaitu proses pembuatan mie bebas gluten dari tepung singkong terfermentasi oleh jamur botryodiplodia theobromae pat. Serta 5 penelitian mendapatkan pengalaman luaran lainnya dari hasil penelitian salah satunya mie bebas terigu dari tepung talas.

Baca Juga:  Pansel Sebut, Gelar Ph.D Belum Tentu Lulus Uji Tes Dewan Pendidikan

Tak hanya itu, ia juga pernah melakukan penelitian pada gatot “makanan tradisional jawa” terbuat dari singkong yang fermentasi secara tradisional.

“Orang jawa bikinnya dengan cara singkong dikupas lalu ditaruh diatas genteng beberapa minggu, kalau terlalu kering disiram supaya nanti ditumbuhi jamur,” papar Umi.

Jamur tersebut kata Umi, merupakan jamur tanah yang membuat singkong yang difermentasi (gatot-red) berwarna hitam dan nantinya memiliki tekstur kenyal dan rasa sedikit manis dan asam.

“Dulu ini dilaporkan ke PBB tahun 70an bahwa dia mengandung racun yang mengganggu kerja hati dan mengarah kanker hati namanya racun aflatoksin B1,” imbuh Umi.

Dari adanya dugaan kandungan racun tersebut, dirinya sewaktu kuliah di Australia melakukan penelitian pada gatot untuk memastikan kebenaran adanya kandungan racun dalam makanan tradisional tersebut.

Pada waktu penelitiannya, sampel yang diambil dari Jawa Tengah dan Jawa Timur dari 15 tempat yang berbeda. Dalam setiap tempat Umi mengulang penelitiannya hinga dua kali demi memastikan kandungan racun di jamur singkong.

Baca Juga:  Pertahankan Budaya Lokal, UTM Gelar Seminar Kebudayaan "Asemo Tor Aselah"

“Ternyata setelah dilakukan penelitian tidak ada satupun kandungan racun aflatoksin B1. Kenapa di PBB dulu dilaporkan ada kandungan racun? Kemungkinan karena alat deteksinya yang istilahnya fost positif. Akhirnya saya bisa melihat bahwa ini aman,” ungkap Umi.

Tak cukup disitu, pada gatot tersebut ia melakukan pengkajian dan mengolahnya menjadi mie tanpa menggunakan tambahan bahan kimia melainkan mempertahankan kemurniannya.

“Pengawet gak ada pengenyal gak ada, cuman warnanya hitam. Setelah saya kaji dia mempunyai kadar anti oksidan senyawa yang bisa menangkap radikal bebas atau komponen yang bisa merusak sel-sel tubuh,” kata Umi.

Kandungan mie hasil kajiannya tersebut erat hubungannya dengan penyakit seperti diabetes, struk. Sebab kandungan anti oksidan yang tinggi.

“Kalau menyembuhkan mungkin tidak, tapi kalau mencegah diabetes dan struk iya. Makanan ini juga bagus bagi orang yang mau menurunkan berat badan, karena cepat bikin kenyang dan menambah energi,” pungkasnya. (Fathur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here