Home Esai Belajar Filsafat, Semakin Cerdas dan Produktif

Belajar Filsafat, Semakin Cerdas dan Produktif

SHARE
Sigit Dwi Saputro, Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Trunojoyo Madura (foto: istimewa)

Belajar Filsafat, Semakin Cerdas dan Produktif

Oleh: Sigit Dwi Saputro (Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan)

Berfilsafat merupakan bagian yang tidak terlepas dari kehidupan manusia. Contoh saja anak yang masih kecil ketika dilarang kedua orang tuanya untuk tidak jajan es. Maka anak tersebut akan bertanya balik, “kenapa tidak boleh  ma?”.  Apa yang telah dilakukan oleh anak kecil tersebut merupakan bagian dari langkah awal berfilsafat, yaitu mencari jawaban kebenaran atas sesuatu yang ada dalam benak pikiranya. Jika kita ulas bagaimana masyarakat Jawa dengan desain Rumah Joglonya, di bagian depan untuk teras, tiang rumah yang tinggi, dan genteng dari tanah. Hal itu,  jika kita kaji merupakan cara efektif untuk mengurangi rasa panas. Contoh lain yakni rumah adat masyarakat Minahasa yang dibuat dari kayu dengan mengkosongkan bagian bawah. Saya yakini  masih banyak desain rumah adat lainnya yang orang-orang terdahulu sudah menerapkan langkah filosofis dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Apalagi mahasiswa yang sebagai kaum terdidik, sudah seyogyanya menerapkan prinsip dasar dalam berfilsafat itu sendiri. Jangan sampai tindakan-tindakan mahasiswa tidak mencerminkan konsepsi nilai filosofis. Contoh sederhana misalkan perkuliahan dimulai pukul 07.00, dengan jarak tempuh dari rumah sejauh 30 Km, namun berangkat dari rumah pukul 06.45. Hal itu bagian tindakan yang tidak filosofis, karena untuk mencapai jarak 30 Km dengan waktu 15 menit, maka mahasiswa membutuhkan kecepatan 120 Km/jam. Kecepatan yang mustahil dilakukan untuk jenis kendaraan motor dengan tenaga rendah, kondisi jalan raya yang masih ada lobang dan seling berbelok.

Baca Juga:  Baca Buku dari Rumah, GO-Read Aja!

Hal-hal seperti itulah yang sebenarnya ingin saya sampaikan kepada mahasiswa, untuk memulai membiasakan bertindak secara filosofis. Berpikir secara filosofis telah melahirkan pemikiran-pemikiran yang jernih dan bisa diterima oleh masyarakat. Contoh misalkan Sokrates pernah menyampaikan bahwa ilmu itu ibarat udara, yang bisa kita peroleh dimana saja dan kapan saja. Tanpa sengaja membaca ataupun mendengar ucapan itu akan membuat pikiran kita bertanya apakah benar atau tidaknya pernyataan tersebut. Maka jika kita menggunakan akal dan hati kita, maka benar apa yang disampaikan oleh Socrates. Anak kecilpun bisa memberikan ilmu kepada kita betapa pentingnya untuk optimisme, tidak pernah putus asa ketika masih belajar berjalan.

Bagaimana kita bisa berfilsafat, setidaknya ada 3 cabang filsafat yang bisa kita jadikan acukan ketika sedang berfilsafat. Pertama Ontologi, yaitu apakah suatu pemikiran yang berdasarkan pada hakikat dasar sesungguhnya. Sederhananya misal dalam konteks sejarah bentuk rumah bermacam-macam, mulai dari perbedaan untuk masing-masing daerah dan juga konsep rumah modern. Orang berpikir filosofis pada ranah ontology tidak berpikir melihat bentuk rumahnya, yang dipikirkan adalah hakikat rumah itu sendiri yaitu tempat untuk istirahat. Apapun modelnya bahkan dengan tingkat kecanggihan tinggi masih dikatakan rumah jika digunakan untuk istirahat. Tapi kalau ada rumah, digunakan untuk memelihara hewan, itu jangan dikatakan rumah namun lebih mengarah ke “kandang” saja. Mencari hakikat menjadi pekerjaan rumah (PR) mahasiswa, karena membutuhkan pemikiran yang kritis dan tajam ditengah fenomena.

Kedua Epistemologi, yaitu menjawab pertanyaan dengan berdasarkan ilmu pengetahuan. Jika ada orang yang menyatakan bumi itu kotak, dalam kondisi modern sekarang ini jika yang mengatakan orang dewasa kemungkinan besar orang tersebut dalam keadaan mabuk atau belum tersentuh pendidikan. Atau jawaban tersebut bukanlah jawaban yang mencerminkan epistemology. Sudah sepantasnya pernyataan mahasiswa penuh dengan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu perbanyak membaca agar memiliki literasi informasi yang maksimal. Dapat disimpulkan cabang filsafat kedua, seorang mahasiswa berpikir secara epistemology berdasarkan pada literature ilmu pengetahuan.

Baca Juga:  Kisah Perjalanan Sang Ahlul Qur'an, Syehc Ali Jaber

Ketiga adalah aksiologi, yaitu cabang filsafat yang bersandar pada nilai moralitas. Misalkan ketika ada seseorang berdiri diatas bangku saat guru sedang berdiri, semua bersepakat untuk tidak setuju hal ini menunjukkan jawaban filosofis aksiologi. Kepantasan dan kepatutan menjadi dasar seseorang dalam bertindak pada konteks tertentu.

Hal yang paling mendasar pesan dari kajian filsafat adalah, bagaimana kita bisa menjadi bagian masyarakat yang mampu berkontribusi terhadap permasalah yang ada pada sekitar. Dalam konteks pendidikan semisal hasil pengamatan siswa hanya sebagai objek pembelajaran atau ke sekolah hanya disuruh menulis saja sehingga berdampak pada kondisi siswa yang kurang antusias. Dengan tetap memperhatikan hakikat belajar yaitu untuk mengembangkan proses berpikir pada ranah pengetahuan sikap maupun keterampilah bisa mengembangkan media tertentu. Jika mahasiswa terbiasa untuk berpikir secara filosofis, tentunya akan lebih produktif dan dapat dioptimalkan dalam even-even lomba seperti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), dan semua jenis lomba yang berorientasi pada  ide  atau gagasan seperti pembuatan media dan lain-lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here