Filsafat bukan hanya hadir dalam ruang akademik yang abstrak, melainkan juga sebagai cerminan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.termasuk dalam tradisi dan budaya lokal,salah satu bentuk filsafat yang tumbuh secara organik adalah epistemologi lokal yakni cara suatu komunitas membentuk, memperoleh, dan menyebarkan pengetahuan. Dalam konteks ini, epistemologi Madura dapat menjadi cermin untuk melihat bagaimana suatu masyarakat membangun pengetahuan berdasarkan nilai, pengalaman, dan warisan leluhur.epistemologi Madura dapat menjadi contoh yang menarik untuk mempelajari bagaimana pengetahuan dibentuk dan disebarkan dalam masyarakat lokal.
Dalam konteks epistemologi Madura dapat mencakup beberapa aspek seperti pengetahuan tentang alam dan lingkungan,nilai nilai sosial dan budaya. Dengan mempelajari epistemologi Madura kita dapat memahami bagaimana masyarakat Madura membangun pengetahuan dan memandang dunia. Hal ini dapat membantu kita memahami kompleksitas pengetahuan dan budaya lokal,serta bagaimana pengetahuan itu dibentuk dan disebarkan dalam masyarakat.
Epistemologi sebagai cabang filsafat, berurusan dengan pertanyaan mendasar dari mana pengetahuan berasal? bagaimana iya di validasi? dan bagaimana iya disampaikan? dalam kerangka barat epistemologi kerap didasarkan pada rasionalisme dan empirisme. Namun di Madura, pengetahuan tidak semata-mata berasal dari eksperimen ilmiah atau logika formal, tetapi pengetahuan tumbuh dari laku budaya, serta Pengalaman kolektif, dan petuah para sesepuh yang diwariskan secara turun-temurun.
Molodhen atau dikenal sebagai perayaan Maulid Nabi, adalah gambaran nyata dari epistemologi orang Madura. Selain sebagai ritual keagamaan, orang Madura memandang perayaan Maulid Nabi sebagai kesempatan untuk menegakkan norma-norma sosial, memperdalam ikatan spiritual, dan menanamkan pengetahuan Islam regional kepada generasi berikutnya. Pengajian, pembacaan barzanji, puisi yang memuji Nabi Muhammad, dan perayaan besar bersama penduduk desa biasanya menjadi bagian dari perayaan ini.
Dalam tradisi ini, kita dapat melihat bahwa pengetahuan keagamaan tidak ditransmisikan melalui buku semata, tetapi lewat suasana kolektif yang menghidupkan nilai-nilai Islam secara emosional dan sosial. Anak-anak belajar mencintai Rasulullah bukan dari ceramah formal, tetapi dari pengalaman melihat orang tua mereka membaca shalawat, dari lantunan syair-syair cinta Nabi, dan dari semangat gotong royong dalam menyiapkan makanan bersama.
Melalui tradisi Maulid Nabi, kita menyaksikan bagaimana epistemologi lokal masyarakat Madura menggabungkan pengetahuan agama, nilai-nilai sosial, dan pengalaman spiritual dalam satu peristiwa budaya yang sarat makna. Kebenaran di sini tidak dipisahkan dari rasa dan tradisi. Justru dari sinilah, filsafat menemukan bentuknya yang paling otentik, hidup dalam praktik, terjaga dalam budaya.
Berangkat dari sini, kita perlu membuka cara pandang yang lebih luas terhadap filsafat. Kita tidak lagi boleh memandang pengetahuan lokal sebagai sesuatu yang lebih rendah dari teori-teori Barat. Justru, dengan memahami epistemologi Madura, kita menyadari bahwa filsafat bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, dalam cara masyarakat menjaga harmoni, menyampaikan ilmu, dan memuliakan nilai-nilai.
Melalui cermin filsafat, tradisi Maulid Nabi masyarakat Madura menunjukkan bahwa warisan budaya bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan ruang hidup yang terus menghasilkan pengetahuan. Ini menjadi pengingat bahwa epistemologi tidak hanya dibentuk oleh ruang akademik, tetapi juga oleh kesalehan, kebersamaan, dan warisan tradisi yang dijalankan dengan cinta dan penghormatan.
Namun, seiring berjalannya waktu dan pesatnya arus globalisasi, epistemologi lokal seperti yang hidup dalam tradisi masyarakat Madura mulai menghadapi tantangan besar. Modernisasi yang dibarengi dengan hegemoni pengetahuan Barat secara perlahan menggeser cara pandang masyarakat terhadap sumber kebenaran dan nilai. Pengetahuan lokal yang sebelumnya dipelihara melalui tradisi, laku spiritual, dan petuah kultural, kini mulai dianggap ketinggalan zaman dan tidak relevan oleh sebagian kalangan muda.
Di sinilah pentingnya memahami epistemologi bukan hanya sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai kekuatan yang membentuk identitas dan jati diri suatu komunitas. Bagi masyarakat Madura, pengetahuan bukan semata soal rasionalitas, tetapi juga soal rasa, penghormatan, dan keberlanjutan tradisi. Ketika epistemologi lokal tergantikan oleh cara pandang seragam yang tidak kontekstual, maka bukan hanya pengetahuan yang terancam punah, tetapi juga identitas budaya itu sendiri.
Kita perlu menyadari bahwa epistemologi lokal seperti yang tercermin dalam Maulid Nabi,atau bahkan dalam cara masyarakat Madura menyelesaikan konflik dan membangun solidaritas, adalah bagian dari khazanah filsafat yang hidup. Ia bukan sekadar warisan, melainkan sistem berpikir yang mengakar, yang mampu menjawab kebutuhan zaman selama diberi ruang untuk berkembang.
Maka, penting bagi kita, terutama generasi muda dan kalangan akademisi, untuk membuka kembali ruang refleksi. Kita perlu meninjau ulang posisi pengetahuan lokal dalam sistem pendidikan dan kebudayaan kita. Bukan untuk menggantikan pengetahuan ilmiah modern, melainkan untuk membangun dialog yang saling memperkaya antara tradisi dan modernitas. Karena hanya dengan cara inilah, epistemologi lokal seperti yang tumbuh di Madura dapat terus hidup, relevan, dan menjadi sumber inspirasi bagi masa depan.
Hosi’in, Prodi HTN 2024


