kerja Sama

Kirim Tulisan

Home

ic_fluent_news_28_regular Created with Sketch.

Berita

ic_fluent_phone_desktop_28_regular Created with Sketch.

Teknologi

Wisata

Pendidikan

Bisnis

Keislaman

ic_fluent_incognito_24_regular Created with Sketch.

Gaya Hidup

Sosial Media

Generasi Muda dan Tantangan Informasi Digital

Sejak akhir abad ke-19, masyarakat dunia menghadapi arus informasi digital yang semakin deras. Generasi muda dari awal kelahirannya hingga kini sudah mengenalnya dan tidak bisa lepas dari media digital. Semakin aktif berselancar di dunia digital, semakin terhanyut dalam algoritma yang melenakan, entah itu memang dibutuhkan atau sebenarnya itu justru membahayakan.

Sebagaimana data yang dilansir oleh laman jejakpersepsi.com, 27/11/2025, generasi muda bisa menghabiskan 7,5 jam bersama dengan dunia digital setiap harinya. Screen time yang intens ini tentu saja dapat menjadikan generasi muda lalai terhadap perannya di kehidupan yang nyata. Yang awalnya berniat berselancar hanya untuk mencari informasi untuk kepentingan tugas, berlanjut hingga scrolling hal-hal yang diluar niat awal, akibatnya waktu habis untuk kegiatan yang tidak bermanfaat.

Memang tidak semua generasi muda menghabiskan waktunya dengan hal demikian. Ada yang menggunakannya untuk menyuarakan kebenaran. Mereka menjadi konten kreator yang fokus pada membongkar segala sisi tindak kezhaliman penguasa. Ide-ide pembaharuan muncul dari mereka. Di satu sisi ini adalah kebaikan tersendiri dan sangat perlu untuk kita support. Di sisi lain apa yang disurakan oleh generasi muda ini harus terarah dengan benar dan tepat karena bisa jadi banyak yang akan terinspirasi.

Sejatinya, generasi muda merupakan sasaran dari pasar produk digital yang ditumbuh kembangkan oleh para pengusaha kapitalis. Banyak aplikasi yang dirancang untuk menarik minat generasi muda untuk menyelam didalamnya. Banyak badai informasi yang diterima oleh generasi muda dari konten-konten digital yang ada.

Seluruh konten tersebut ibaratnya menjadi tabungan informasi. Suatu waktu tabungan itu yang akan menjadi pengendali cara berpikir generasi muda. Lebih jauh, generasi muda akan menilai seluruh kehidupan ini dengan arah pandang sesuai tabungan informasi yang didapat dari algoritma semata.

Kita tidak bisa menjamin semua informasi yang diterima generasi muda itu baik. Kita juga tidak bisa memastikan semua informasi yang diterima generasi muda itu menguatkan identitas keislaman mereka atau tidak. Adapun ide-ide sekuler dan liberal sangatlah mudah ditemui di media sosial bahkan tanpa sengaja dicari, tiba-tiba muncul dalam bentuk iklan misalnya. Tentulah ini menjadi tantangan besar bagai generasi muda, khususnya generasi muda muslim.

Oleh karenanya, mutlak butuh dibangun benteng yang kuat dalam menghadapi tantangan derasnya arus informasi digital tersebut. Setidaknya ada beberapa hal yang harus kita lakukan.

Pertama, membangun benteng cara pandang yang shahih terhadap kehidupan. Jelas bahwa cara pandang ini adalah Aqidah Islam yang bersumber dari Allah sebagai pencipta alam semesta dan pengatur kehidupan ini.

Kedua, mengambil solusi dari Islam untuk menyelesaikan masalah kehidupan ini. Aktivis muda khususnya harus waspada dengan gerakan yang prematur atau sekedar mendapatkan simpati kemudian diberikan jabatan. Aktivis Islam sejati akan menjadikan Islam sebagai mualajah musykilah di setiap fakta masalah yang ia temui. Selain itu, akan tegas menolak segala bentuk solusi diluar Islam yang ditawarkan pihak-pihak yang ingin melemahkan mereka.

Ketiga, menguatkan perjuangan perubahan oleh para generasi muda aktivis Islam dengan jalan Islam saja. Jangan sampai terpengaruh dengan mencontoh cara-cara aktivis liberal didalam memandang permasalahan. Jika itu terjadi, yang ada aktivis Islam akan menjadi bemper dari kerusakan kapitalisme saja tanpa membawa perubahan hakiki.

Generasi muda semestinya memiliki kesadaran bahwa Allah telah membekali mereka dengan segenap potensi. Diantaranya mencakup naluri-naluri untuk menuruti keinginan nafsunya yang disebut ghorizah, dorongan memenuhi kebutuhan untuk tetap hidup yang disebut hajatul udhowiyah, dan yang utama adalah potensi akal untuk berpikir.

Agar mereka dapat menggunakan potensi tersebut dengan optimal, maka dibutuhkan lingkungan yang kondusif. Suasana keimanan dan sinergi semua elemen yang berada di sekitar generasi muda sangat menentukan kuat tidaknya generasi muda ini dalam menghadapi tantangan digital.

Sinergi semua elemen melibatkan keluarga, masyarakat, partai politik ideologis, dan negara. Adapun partai ini bagaikan tulang punggung pembinaan semua generasi, termasuk generasi muda karena partailah yang memiliki peran penting dalam mengoreksi penguasa, yakni muhasabah lil hukam. Partai politik Islam ideologis yang akan mencerdaskan, dan memberi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan suara kritisnya.[Naila]

Artikel Terkait :

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Postigan Populer

spot_img