kerja Sama

Kirim Tulisan

Home

ic_fluent_news_28_regular Created with Sketch.

Berita

ic_fluent_phone_desktop_28_regular Created with Sketch.

Teknologi

Wisata

Pendidikan

Bisnis

Keislaman

ic_fluent_incognito_24_regular Created with Sketch.

Gaya Hidup

Sosial Media

Kisah Orang Ahli Tahajud Yang Tidak Dipedulikan Allah

Di suatu masa, hidup seorang ahli ibadah yang tak pernah absen menegakkan salat malam. Tahun demi tahun ia jalani hidup dengan penuh kekhusyukan, memanfaatkan sepertiga malam untuk bermunajat kepada Sang Pencipta. Baginya, salat tahajud adalah kebanggaan, bukti cinta dan kesungguhan seorang hamba kepada Allah SWT.

Namun, tak semua yang terlihat khusyuk di mata manusia adalah bentuk cinta sejati di hadapan Allah. Di balik semua ibadah yang ia lakukan, ternyata ada satu hal yang terlewat—dan inilah awal dari kisah yang menggetarkan hati.

Berjumpa Malaikat

Berjumpa Malaikat
Berjumpa Malaikat

Kisah ini dikisahkan dalam kitab Mukasyafatul Qulub karya Imam Al-Ghazali. Suatu malam, Abu bin Hasyim—sang ahli ibadah—berniat seperti biasa, menunaikan wudu sebagai persiapan tahajud. Saat ia mendekati sumur, pandangannya terpaku pada sosok tak dikenal yang berdiri di tepinya.

Dengan suara pelan namun penuh rasa ingin tahu, ia bertanya, “Siapakah engkau, wahai hamba Allah?”

Makhluk itu menjawab, “Aku adalah malaikat yang diutus oleh Allah SWT.”

Mendengar jawaban itu, hati Abu bin Hasyim diliputi rasa takjub sekaligus bangga. Malaikat? Di rumahnya? Pastilah karena ibadahnya yang luar biasa.

Ia pun bertanya, “Apa yang engkau cari di sini?”

Malaikat itu menjawab, “Aku ditugaskan untuk mencatat nama-nama hamba yang benar-benar mencintai Allah SWT.”

Abu bin Hasyim yang melihat malaikat membawa sebuah buku tebal, spontan bertanya, “Apa isi buku itu?”

“Ini adalah daftar para pecinta sejati Allah,” jawab malaikat.

Dengan penuh harap, Abu bin Hasyim bertanya lagi, “Apakah namaku tercantum di sana?”

Kekecewaan yang Menyayat Hati

Malaikat membuka buku itu dan mengecek satu per satu, namun setelah beberapa saat, ia menjawab, “Namamu tidak ada.”

Terkejut dan tak percaya, Abu bin Hasyim meminta agar dicek ulang. Namun hasilnya tetap sama: namanya tidak tercatat sebagai pecinta Allah.

Tubuhnya pun gemetar, ia jatuh bersimpuh, menangis pilu. “Ya Allah… Sia-sialah semua malamku… semua air wuduku… semua munajatku…,” ratapnya.

Penjelasan Sang Malaikat

Melihat Abu bin Hasyim larut dalam kesedihan, malaikat berkata,
“Wahai Abu bin Hasyim, aku tahu engkau bangun saat orang lain terlelap. Engkau rela kedinginan demi tahajud. Tapi aku tidak diizinkan Allah untuk menuliskan namamu.”

Dengan air mata yang masih menetes, Abu bin Hasyim bertanya, “Mengapa? Apa yang membuatku tak layak dicatat sebagai pecinta Allah?”

Malaikat menjawab,
“Engkau memang rajin beribadah. Namun semua itu hanya berpusat pada dirimu sendiri. Kau merasa bangga, merasa lebih dari orang lain. Padahal di sekitarmu, ada yang sakit, kelaparan, dan kesusahan—tetapi kau tidak peduli. Tak kau jenguk, tak kau tolong.”

Lalu malaikat melanjutkan,
“Bagaimana bisa seseorang mengaku mencintai Allah, jika ia tidak peduli kepada ciptaan-Nya?”

Kesadaran yang Terlambat

Perkataan itu seakan petir menyambar di siang hari. Abu bin Hasyim tersadar: selama ini ia hanya fokus kepada hubungan vertikal (hablum minallah), tapi lalai terhadap hubungan horizontal (hablum minannas).

Ibadah kepada Allah memang penting, tetapi cinta kepada sesama adalah bukti nyata cinta kepada Sang Pencipta.

Pelajaran Berharga dari Kisah Abu bin Hasyim

Kisah ini mengajarkan kita bahwa ibadah tidak cukup hanya berupa ritual pribadi. Ibadah yang murni adalah ibadah yang juga menyentuh kehidupan sosial—menolong yang lemah, menyayangi sesama, serta tidak merasa lebih baik hanya karena sering beribadah.

Jangan pernah merasa bangga dengan salat tahajud, puasa, zikir, jika semua itu hanya menjadikan diri kita merasa suci sendiri dan lupa bahwa Allah mencintai hamba yang juga mencintai sesamanya.

Jaga Dua Sisi Ibadah:

  1. Hubungan dengan Allah (Hablum Minallah)
  2. Hubungan dengan manusia (Hablum Minannas)

Tanpa kedua hal itu, ibadah bisa kehilangan makna sejatinya.

Penutup
Semoga kisah tentang Abu bin Hasyim ini bisa menjadi cermin bagi kita semua. Mari benahi cara kita beribadah, tidak hanya fokus pada diri sendiri, tapi juga membuka hati untuk peduli kepada sekitar. Karena cinta kepada Allah bukan hanya dibuktikan dengan tahajud, tapi juga dengan kepedulian dan kasih terhadap sesama.

Artikel Terkait :

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Postigan Populer

spot_img