kerja Sama

Kirim Tulisan

Home

ic_fluent_news_28_regular Created with Sketch.

Berita

ic_fluent_phone_desktop_28_regular Created with Sketch.

Teknologi

Wisata

Pendidikan

Bisnis

Keislaman

ic_fluent_incognito_24_regular Created with Sketch.

Gaya Hidup

Sosial Media

Kreatif! Mahasiswa Unisri Dorong UMKM Baru di Desa Jimus Lewat Inovasi Krupuk Lele

Pojoksuramadu.com – Inovasi dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di pedesaan menjadi salah satu kunci dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Kehadiran mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) seringkali membawa angin segar dengan menghadirkan ide-ide kreatif yang mampu mengoptimalkan potensi lokal. Hal ini pula yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta ketika mereka mengadakan program pengabdian masyarakat di Desa Jimus, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten.

Desa Jimus sejak lama dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki kekayaan sumber daya perikanan air tawar. Mayoritas warganya menggantungkan hidup dari budidaya ikan, seperti nila dan bawal. Hasil panen tersebut umumnya dijual dalam kondisi segar di pasar-pasar tradisional. Namun, dengan pola pemasaran yang masih terbatas, keuntungan yang diperoleh warga kerap belum maksimal. Dari sinilah muncul gagasan baru untuk menciptakan produk olahan yang memiliki nilai tambah, yakni krupuk lele.

Program KKN mahasiswa Unisri menghadirkan pelatihan khusus bagi para ibu rumah tangga di Dukuh Sawahan, Desa Jimus, agar mereka bisa mengolah lele menjadi camilan gurih yang berpotensi menjadi ikon kuliner lokal. Upaya ini bukan hanya sekadar memberi keterampilan baru, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi terbentuknya UMKM berbasis potensi desa yang berkelanjutan.

Baca juga : Mahasiswa UPN Veteran Jatim Gelar Kerja Bakti Bersama Kelurahan Dr. Sutomo sebagai Penutup Kegiatan KKN

Potensi Desa Jimus dalam Bidang Perikanan

Jika dilihat lebih dekat, Desa Jimus memiliki kondisi geografis yang mendukung untuk sektor perikanan. Air yang melimpah serta kultur masyarakat yang terbiasa memelihara ikan menjadikan desa ini sebagai salah satu sentra penghasil ikan air tawar di Klaten. Akan tetapi, selama ini pemasaran produk ikan masih sederhana.

Ikan nila dan bawal biasanya dijual langsung dalam kondisi segar tanpa melalui proses pengolahan lebih lanjut. Padahal, jika diolah menjadi produk turunan, nilai ekonominya bisa meningkat berkali-kali lipat. Dari kondisi inilah mahasiswa KKN Unisri berinisiatif memperkenalkan inovasi berbasis ikan lele yang kemudian dikembangkan menjadi produk camilan krupuk lele khas Desa Jimus.

Pemilihan ikan lele sebagai bahan utama juga cukup strategis. Dagingnya yang padat, gurih, serta memiliki aroma khas membuatnya cocok diolah menjadi produk kering. Berbeda dengan nila dan bawal yang umumnya lebih enak dikonsumsi langsung, lele justru lebih fleksibel dijadikan olahan tahan lama.

Pelatihan dan Pendampingan Produksi Krupuk Lele

Pelatihan dan Pendampingan Produksi Krupuk Lele
Pelatihan dan Pendampingan Produksi Krupuk Lele

Program yang diberi judul “Pendampingan dan Pelatihan Kewirausahaan Berbasis Olahan Ikan Lele” resmi digelar pada tanggal 15 Agustus 2025. Sekitar 35 ibu-ibu rumah tangga, terutama dari kelompok PKK Dukuh Sawahan, mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusias.

Dalam sesi pelatihan, peserta diajak untuk memahami langkah demi langkah dalam mengolah ikan lele hingga menjadi krupuk siap goreng. Prosesnya dimulai dari membersihkan ikan, menggiling dagingnya, lalu mencampurkannya dengan tepung dan bumbu sederhana. Setelah itu, adonan dicetak, dikukus, dijemur, dan siap digoreng.

Kelebihan dari metode ini adalah tidak membutuhkan peralatan canggih. Proses produksi bisa dilakukan di rumah masing-masing dengan modal yang relatif kecil, sekitar Rp100.000 saja. Dengan modal tersebut, para ibu sudah bisa mencoba memproduksi krupuk lele dalam skala rumahan.

Selain pelatihan teknis, para peserta juga mendapatkan materi tambahan mengenai dasar-dasar kewirausahaan. Mereka diajarkan cara mengelola modal usaha, menghitung biaya produksi, menentukan harga jual yang kompetitif, serta strategi pemasaran sederhana di lingkungan sekitar.

Baca juga : 45 Hari KKN secara Mandiri, Hariz Temukan Makna Pendidikan dan Kebersamaan di Madrasah

Antusiasme dan Hasil Uji Coba Produk

Salah satu momen menarik dalam pelatihan adalah ketika hasil uji coba krupuk lele dicicipi bersama. Rasanya gurih, renyah, dan sangat cocok dijadikan camilan keluarga. Bahkan menurut pengakuan beberapa peserta, cita rasa krupuk lele ini berpotensi untuk dipasarkan lebih luas.

Seorang tokoh masyarakat setempat, Bu RT Dukuh Sawahan, mengungkapkan kekagumannya. “Rasanya gurih sekali, cocok dijadikan camilan untuk keluarga. Kalau bisa diproduksi massal, tentu akan jadi peluang usaha yang bagus bagi warga,” tuturnya.

Kegiatan ini tidak hanya memberi pengalaman baru, tetapi juga membuka wawasan ibu-ibu tentang peluang bisnis dari bahan lokal yang selama ini kurang dimanfaatkan.

Peluang UMKM dan Dampak Ekonomi

Dengan semakin berkembangnya minat masyarakat terhadap produk kuliner unik, krupuk lele memiliki potensi besar untuk menjadi produk unggulan Desa Jimus. Produk ini bisa dipasarkan di warung-warung desa, pusat oleh-oleh khas Klaten, hingga ditawarkan secara online.

UMKM berbasis olahan ikan lele ini bukan hanya menambah variasi produk kuliner lokal, tetapi juga bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi keluarga. Dengan keterampilan yang relatif mudah dipelajari, ibu-ibu rumah tangga dapat ikut berkontribusi dalam meningkatkan perekonomian desa.

Dampak ekonomi yang ditimbulkan tidak hanya berhenti pada skala rumah tangga. Jika dikelola secara serius, usaha ini bisa berkembang menjadi skala industri kecil menengah. Dengan adanya branding yang tepat, krupuk lele khas Desa Jimus bahkan bisa menembus pasar regional dan nasional.

Baca juga : TIM KKN UNDIP Rancang Sistem Pengkabutan Otomatis Berbasis Sensor dan Timer Digital untuk Dukung Petani Jamur di Dusun Kebonkliwon

Dukungan Komunitas dan Harapan ke Depan

Keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan kuat komunitas lokal, khususnya kelompok PKK. Semangat kebersamaan yang ditunjukkan para ibu-ibu menjadi modal sosial penting dalam menjaga keberlanjutan usaha.

Kerja sama antarwarga juga diharapkan bisa memunculkan kelompok usaha bersama. Dengan demikian, produksi krupuk lele tidak hanya dikerjakan individu, tetapi menjadi gerakan kolektif yang mampu memperkuat UMKM Desa Jimus.

Harapan besar juga muncul dari pihak mahasiswa Unisri. Mereka ingin agar program ini tidak berhenti sebatas ide atau kegiatan sementara, melainkan benar-benar berkembang menjadi usaha yang berkesinambungan. Dengan manajemen yang baik dan pemasaran yang tepat, krupuk lele dapat menjadi identitas kuliner sekaligus produk ekonomi andalan desa.

Kesimpulan

Inovasi sederhana sering kali menjadi solusi nyata dalam menjawab tantangan ekonomi masyarakat desa. Apa yang dilakukan mahasiswa Unisri di Desa Jimus membuktikan bahwa dengan kreativitas, bahan lokal seperti lele dapat disulap menjadi produk bernilai tinggi.

Melalui pelatihan pembuatan krupuk lele, ibu-ibu rumah tangga tidak hanya mendapatkan keterampilan baru, tetapi juga kesempatan untuk mengembangkan usaha mikro. Jika terus didukung dengan manajemen yang baik, krupuk lele berpotensi besar menjadi ikon UMKM Klaten yang mampu bersaing di pasar luas.

Inisiatif ini sekaligus menjadi contoh nyata bahwa pemberdayaan masyarakat melalui program KKN dapat membawa dampak positif bagi pembangunan ekonomi desa. Dari Desa Jimus, harapan lahirnya UMKM baru semakin terbuka, membawa kesejahteraan dan kemandirian bagi warganya.

Penulis: Shifa Nurul Khatimah

Artikel Terkait :

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Postigan Populer

spot_img