Bangkalan, 7 Juli 2025 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 06 Universitas Trunojoyo Madura menggelar kegiatan Sosialisasi UMKM Melalui Penerapan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) di Desa Bandang Dajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan selama masa KKN, dengan fokus pada pemberdayaan ekonomi masyarakat desa melalui teknologi digital.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan literasi digital bagi pelaku UMKM, khususnya dalam hal penggunaan sistem pembayaran non tunai berbasis QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).
Dalam era serba digital ini, pemahaman terhadap sistem pembayaran digital menjadi sangat penting agar pelaku usaha tidak tertinggal dari perkembangan zaman. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap dapat mendorong UMKM untuk lebih terbuka terhadap pemanfaatan teknologi dalam proses transaksi.
Dalam pelaksanaannya, tim KKN 06 UTM mendatangi langsung toko-toko milik pelaku UMKM yang tersebar di desa tersebut. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pendekatan personal agar para pelaku usaha merasa lebih nyaman dan terbuka saat menerima penjelasan.Kegiatan ini juga dilandasi oleh kesadaran bahwa banyak pelaku UMKM di pedesaan yang belum sepenuhnya memahami manfaat atau cara kerja QRIS.
Kegiatan ini kami berhasil melakukan sosialisasi ke 11 toko yang telah diberikan edukasi tentang bagaimana cara menggunakan dan mendaftarkan QRIS sebagai bentuk penerapan digitalisasi transaksi, agar transaksi jual beli di warung atau toko kecil pun bisa lebih praktis dan modern.
Tidak hanya menjelaskan konsep dasar, mahasiswa juga melakukan pendampingan langsung, mulai dari membuka aplikasi, memasukkan data, hingga toko tersebut mendapatkan kode QR resmi.

Mahasiswa juga membantu dalam proses pendaftaran melalui aplikasi resmi serta menjelaskan manfaat dan cara penggunaannya. Edukasi ini penting untuk memastikan para pelaku UMKM tidak hanya paham secara teori, tetapi juga dapat langsung mengaplikasikannya dalam kegiatan jual beli sehari-hari. Hal ini membuktikan bahwa sosialisasi tidak berhenti di penyuluhan, melainkan juga pada aksi nyata di lapangan.
Kegiatan ini dilaksanakan atas kerja sama dengan Bank Indonesia sebagai bentuk dukungan terhadap program digitalisasi UMKM yang dicanangkan pemerintah. Bank Indonesia sendiri selama beberapa tahun terakhir terus mendorong masyarakat untuk mengadopsi QRIS, dengan harapan menciptakan ekosistem transaksi digital yang merata, tidak hanya di kota-kota besar, tetapi juga hingga ke desa-desa.
“Saya jadi tahu ternyata daftar QRIS itu mudah, dan bisa langsung digunakan untuk jualan,” ujar Bu Siti, salah satu pelaku UMKM pemilik warung sembako di Desa Bandang Dajah. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi yang dilakukan berjalan dengan baik, karena para pelaku usaha merasa terbantu dan langsung merasakan manfaatnya.
Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga memberikan dampak nyata dan langsung dirasakan oleh masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro.
Para pelaku UMKM merasa terbantu karena tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga langsung merasakan manfaat dari penerapan teknologi QRIS dalam transaksi harian mereka.
Dengan adanya pendampingan secara langsung, pelaku usaha menjadi lebih percaya diri untuk beradaptasi dengan sistem pembayaran digital, yang sebelumnya mungkin terasa asing atau sulit dijangkau.
Koordinator kegiatan, Bayu dan Nia, menyampaikan bahwa pendekatan langsung ke toko-toko UMKM dirasa sangat efektif untuk menjangkau pelaku usaha kecil di desa. Dalam kondisi tertentu, penyampaian informasi melalui media digital sering kali tidak efektif di desa. Oleh karena itu, hadir langsung dan menyampaikan informasi secara tatap muka dengan pelaku usaha menjadi metode yang paling efektif.
“Kegiatan ini kami lakukan untuk membantu UMKM agar lebih siap menghadapi era digital,” ujar mereka. Kesiapan UMKM dalam menghadapi transformasi digital sangat bergantung pada akses informasi dan pendampingan secara berkelanjutan, dan program ini hadir sebagai jembatan antara pelaku usaha dan teknologi.
Diharapkan kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak pelaku usaha mikro lainnya di pelosok desa. Dengan semangat gotong royong dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan lembaga keuangan, digitalisasi UMKM bukan lagi hal yang sulit dicapai.


