SUMENEP, 4 Juli 2025 Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang tergabung dalam kelompok 17 Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2025 melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan digital marketing dan pendampingan pembuatan sistem pembayaran online. Kegiatan ini berlangsung di Desa Bicabbi, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, dan menjadi salah satu program unggulan yang dirancang untuk mempercepat adaptasi UMKM lokal terhadap perkembangan teknologi digital.
Kegiatan pelatihan yang dilaksanakan di balai desa tersebut dihadiri oleh pelaku usaha lokal, ibu-ibu PKK, serta tokoh masyarakat. Para peserta diajak untuk mengenal dan mempraktikkan langsung strategi pemasaran berbasis digital, mulai dari pembuatan akun media sosial bisnis, teknik fotografi produk sederhana menggunakan ponsel, hingga penyusunan konten promosi yang menarik. Dalam kesempatan ini, mahasiswa juga memperkenalkan penggunaan platform gratis seperti Canva, WhatsApp Business, dan Instagram Shop.
“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan literasi digital masyarakat desa, khususnya pelaku UMKM, agar mampu memasarkan produk secara lebih luas dan efisien,” ujar Vito Abi Pranata, Koordinator KKN Desa Bicabbi. Ia menambahkan bahwa banyak pelaku UMKM yang masih mengandalkan pemasaran secara konvensional, padahal potensi produk lokal sangat besar jika ditunjang dengan strategi digital yang tepat.
Selain pelatihan pemasaran digital, mahasiswa juga memberikan pendampingan pembuatan sistem pembayaran online berbasis QR Code melalui program QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). QRIS adalah sistem pembayaran digital yang terintegrasi, yang memungkinkan transaksi non-tunai hanya dengan memindai satu kode QR, sehingga lebih praktis dan aman.
Melalui kerja sama dengan agen layanan keuangan digital di wilayah setempat, mahasiswa membantu pelaku usaha dalam proses registrasi dan verifikasi data untuk mendapatkan QRIS. Langkah ini sangat diapresiasi oleh masyarakat, karena selama ini banyak yang belum mengetahui manfaat dan cara pembuatan QRIS, meskipun sebagian besar masyarakat sudah menggunakan dompet digital seperti GoPay, OVO, dan DANA.
“Saya sangat senang bisa belajar bagaimana memasarkan kue dan keripik saya lewat internet, dan sekarang juga bisa menerima pembayaran lewat HP,” ujar Bu Anisa, salah satu peserta pelatihan. Ia mengaku selama ini hanya mengandalkan penjualan dari mulut ke mulut, dan berharap metode baru ini bisa meningkatkan penjualannya.
Para mahasiswa juga melakukan simulasi langsung penggunaan QRIS dengan menjual produk hasil olahan warga, seperti keripik pisang, sambal botol, dan jajanan khas Madura. Produk-produk ini kemudian dipromosikan melalui akun media sosial yang telah dibuat selama pelatihan, sebagai bagian dari praktek nyata pemasaran digital dan transaksi daring.
Kegiatan ini merupakan bagian dari tema besar KKN UTM 2025, yaitu “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Teknologi Digital dan Inovasi Pangan Lokal”. Melalui pendekatan langsung dan kolaboratif, mahasiswa tidak hanya menjadi fasilitator, tetapi juga mitra masyarakat dalam proses transformasi menuju desa yang lebih mandiri dan berdaya saing digital.
Program ini diharapkan tidak berhenti pada masa KKN saja, melainkan bisa berkelanjutan melalui pendampingan daring serta kerja sama lintas sektor. Mahasiswa juga tengah menyiapkan modul pelatihan dan video tutorial sederhana agar masyarakat tetap bisa belajar mandiri setelah program selesai.
Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi antara mahasiswa dan warga, Desa Bicabbi kini mulai menunjukkan geliat baru dalam menghadapi era digital. Kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa teknologi bukan hanya milik kota, tapi bisa diakses dan dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk di pelosok desa.


