kerja Sama

Kirim Tulisan

Home

ic_fluent_news_28_regular Created with Sketch.

Berita

ic_fluent_phone_desktop_28_regular Created with Sketch.

Teknologi

Wisata

Pendidikan

Bisnis

Keislaman

ic_fluent_incognito_24_regular Created with Sketch.

Gaya Hidup

Sosial Media

Sejarah Pangeran Macan Putih dari Blega Bangkalan Madura

BANGKALAN – Meskipun Blega, sebuah kecamatan di Kabupaten Bangkalan, menyimpan kisah sejarah yang penuh dinamika, dari konflik antar wilayah hingga perlawanan terhadap penjajahan, nyatanya peninggalan-peninggalan sejarah di daerah ini nyaris tak terurus. Minimnya perhatian dari pihak terkait membuat situs-situs historis di Madura, khususnya Blega, kian terpinggirkan dari catatan sejarah nasional.

Padahal, jika masyarakat mulai menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan daerahnya sendiri, langkah konkret yang bisa dilakukan adalah merawat, mengenalkan, dan mempromosikan situs-situs tersebut. Salah satu tempat bersejarah yang masih dapat dijumpai adalah Makam Pangeran Macan Pote, yang terletak di Kampung Karang Kemasan, Blega.

Pangeran Macan Pote atau Patih Macan adalah salah satu tokoh legendaris Kerajaan Blega. Di masa lalu, Blega berada di bawah pengaruh Kerajaan Arosbaya yang dipimpin oleh Pangeran Pratanu (juga dikenal sebagai Ki Lemah Duwur). Setelah wafatnya Pangeran Pratanu, kekuasaan Arosbaya diteruskan oleh putranya, Pangeran Tengah (1592–1620). Di waktu yang hampir bersamaan, tahta Blega dipegang oleh Pangeran Blega (1593–1624).

Hubungan antara dua kerajaan ini awalnya berjalan baik. Namun, insiden keterlambatan pembayaran upeti oleh Pangeran Blega memicu ketegangan. Pangeran Tengah yang merasa kedudukannya dilecehkan, mengirim utusan lengkap dengan pasukan bersenjata untuk menagih upeti ke Blega.

Melihat iring-iringan prajurit bersenjata memasuki wilayah perbatasan, dua penjaga kerajaan Blega langsung melaporkannya kepada sang pangeran. Merasa terancam, Pangeran Blega mengutus Patih Macan Pote untuk menghadang mereka.

Terjadi ketegangan antara Patih Macan dan pasukan Arosbaya yang bersikeras masuk ke Blega. Ketika negosiasi gagal, Patih Macan berseru, “Langkahi dulu mayatku kalau ingin masuk!” Pertempuran pun pecah. Legenda menyebutkan bahwa Patih Macan menjelma menjadi dua ekor macan putih dan bersama dua pengawalnya berhasil memukul mundur pasukan Arosbaya.

Namun, serangan balasan datang dengan jumlah pasukan jauh lebih besar dan lebih brutal. Menurut cerita, pasukan Arosbaya menyerbu tanpa ampun, bahkan menyerang rakyat sipil. Dalam keadaan darurat, Pangeran Blega kembali memerintahkan Patih Macan untuk memimpin perlawanan. Meski dalam posisi tidak siap, pasukan Blega yang dipimpin Patih Macan, termasuk tokoh spiritual Kiai Panombak, bertempur habis-habisan.

Cerita rakyat menyebutkan bahwa dalam pertempuran ini muncul keajaiban: seorang prajurit Blega menunggang “gidang”, mainan kuda dari anyaman bambu, yang konon berubah menjadi kuda perang sungguhan. Beberapa tokoh penting gugur dalam pertempuran ini, salah satunya Pangeran Kambeng yang makamnya kini berada di Desa Sabbeggen.

Tak hanya Makam Pangeran Macan Pote yang menjadi saksi sejarah, tapi juga beberapa situs lain seperti Makam Pangeran Kenong di Desa Nyormanis—tempat peristirahatan prajurit penabuh kenong saat perang, Makam Pademaran yang konon milik penjaga penerangan saat pertempuran, hingga Makam Pangeran Gidang Tengah di Desa Blega Oloh.

Pangeran Siding Gili, saudara tertua Pangeran Blega yang memimpin pasukan Arosbaya, dikisahkan melarikan diri ke selatan setelah kalah perang. Ia menetap di sebuah pulau yang kemudian dikenal sebagai Pulau Gili Mandangin, di wilayah Sampang saat ini.

Motif dari konflik ini sebenarnya lebih dalam dari sekadar uang upeti. Pangeran Blega dipercaya memiliki misi dakwah untuk menyebarkan agama Islam di Blega, sedangkan Pangeran Siding Gili yang beragama Buddha merasa hal itu sebagai bentuk pembangkangan.

Nasib tragis menimpa Pangeran Macan Pote bukan di medan laga, melainkan lewat tipu muslihat. Konon, Pangeran Tengah menghadiahkan jubah kebesaran kerajaan kepada Patih Macan sebagai simbol perdamaian. Namun, tanpa sepengetahuan Pangeran Blega, Macan Pote mengenakan jubah itu, yang ternyata telah diolesi bulu buah biyeh (buah berbulu yang menyebabkan rasa gatal luar biasa). Tak kuasa menahan rasa gatal yang menggila, Macan Pote terus menggaruk tubuhnya hingga berdarah dan akhirnya wafat karena kehabisan darah.

Masyarakat setempat percaya, peristiwa itu adalah simbol dari politik devide et impera (pecah belah) yang menjadi bagian dari dinamika kekuasaan di masa Dinasti Cakraningrat. Cerita ini masih hidup hingga kini, diwariskan secara lisan dan menjadi bagian dari identitas sejarah masyarakat Madura, khususnya Blega dan sekitarnya.

Artikel Terkait :

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Postigan Populer

spot_img