Pojoksuramadu.com – Di zaman dengan arus informasi saat ini, perempuan menghadapi tantangan utama berupa pemikiran yang mengaburkan fitrahnya. Pemikiran kapitalis, materialistis, hedonis, dan sekuler menyebar di berbagai saluran informasi baik di dunia maya maupun dunia nyata. Pengaruh dari pemikrian ini sangat besar terhadap cara perempuan bersikap kepada dirinya, suaminya, mendidik anak-anaknya, keluarga besarnya, juga masyarakatnya.
Di Sampang sendiri menurut data pengadilan agama kabupaten Sampang, tercatat 1290 perempuan berstatus janda yang mana 70% nya karena gugat cerai. Selain faktor internal keluarga, faktor ekonomi juga menyebabkan kasus ini terjadi. Tingkat kemiskinan di Kabupaten Sampang masih menjadi yang tertinggi di Jawa Timur, yaitu sebesar 20,83 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dari rata-rata provinsi Jawa Timur. Beban perempuanpun bertambah dengan turut berjuang menyelematkan ekonomi keluarganya.
Problem demikian terjadi di berbagai titik daerah di Indonesia. Di saat yang sama, kasus depresi, kekerasan , pelecehan masih terjadi terhadap kaum perempuan. Meskipun sudah banyak perempuan memahami alur pengaduan sehingga tren laporan pengaduan terjadi peningkatan, belum ada solusi signifikan yang menuntaskannya. Bunuh diri, buang bayi, dibunuh, dilecehkan, masih saja terjadi.
Beberapa penyebabnya adalah kurangnya ketaqwaan individu, normalisasi kemungkaran di tengah masyarakat, lemahnya hukum, dan tidak diterapkannya Islam dalam pengaturan kehidupan khususnya penempatan peran perempuan dan laki-laki.
Dalam Islam, laki-laki dan perempuan sama-sama dipandang sebagai makhluk ciptaan Allah yang mengemban Amanah sebagai khalifah fil ardl sehingga sama-sama bertanggungjawab dalam menjaga bumi ini sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Ada ganjaran di setiap amal perbuatan masing-masing. Ada kalanya memiliki hak dan kewajiban yang tidak sama sesuai dengan potensi unik dalam individu laki-laki juga dalam individu perempuan sendiri.
Islam menempatkan perempuan dalam posisi yang mulia yakni ummun wa robbatul bait. Inilah tugas pokok perempuan menjadi ummun yakni ibu yang melahirkan generasi penerus perjuangan Rasulullah menyelamatkan umat dari berbagai bentuk kekufuran dan kemungkaran. Menjadi robbatul bait yakni pengurus rumah tangga yang memastikan semua urusan di dalam rumah berjalan dengan baik, nyaman, tenteram sehingga anggota keluarga dapat maksimal beribadah kepada Al-khaliq.
Di sisi lain, perempuan juga dibolehkan untuk bekerja di ranah publik dengan memperhatikan koridor syariat agar kemuliaannya tetap terjaga. Jika diniatkan Ikhlas untuk membantu suami menafkahi keluarga misalnya, maka insyaAllah ini ada oahaa besar yang menanti. Terlebih di zaman sekarang peran perempuan sama dengan laki-laki untuk bahu membahu mendidik masyarakat menangkal dari segala bentuk pemikiran batil agar tercipta kehidupan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Salah satu pemikiran yang semestinya ditangkal adalah standar ganda yang dilabelkan kepada perempuan. Satu sisi perempuan dituntut mampu memikul berbagai hal yang sebenarnya ada tugas laki-laki didalamnya. Sisi satunya , perempuan dicap buruk disaat ia bisa mandiri apa-apa bisa sendiri tanpa laki-laki. Ide feminisme semacam kesetaraan gender sedikit banyak bersesuaian dengan fakta ini. Dalam menyikapi ini, hendaknya perempuan tidak menelan mentah-mentah sehingga bisa mengaburkan perannya yang sejati.
Mindset yang harus dimiliki perempuan adalah menyadari bahwa kemuliaan hanya ada pada Islam. Allah telah memuliakan perempuan dengan seperangkat aturan dalam Islam. Oleh karenanya, janganlah mencari-cari kemuliaan di luar Islam. Perempuan bukanlah hamba nafsu, hamba laki-laki, hamba materi, tetapi hamba Allah. Standar yang dipilih semestinya hanyalah standar Islam yang dengannya ia akan kuat berdiri di segala kondisi karena ia menyadarkan kepada Sang Maha Menciptakan dia, Pengatur alam ni, Sang Maha Kuat, Al-Qowiyy.
‘Ala kulli hal, menjadi perempuan zaman sekarang harus kuat. Senantiasa belajar untuk ikhhlas dalam menjalani semua peran. Senantiasa belajar memahami bagaimana Islam memberikan aturan mulia untuknya. Senantiasa bersama dengan circle yang sholih agar keikhlasan tetap terjaga tidak terpaksa, sehingga teraih keberkahan dalam kehidupan.


