kerja Sama

Kirim Tulisan

Home

ic_fluent_news_28_regular Created with Sketch.

Berita

ic_fluent_phone_desktop_28_regular Created with Sketch.

Teknologi

Wisata

Pendidikan

Bisnis

Keislaman

ic_fluent_incognito_24_regular Created with Sketch.

Gaya Hidup

Sosial Media

Sekulerisme, Akar Masalah Memburuknya Mental Remaja

POJOKSURAMADU.COM – Kesehatan mental remaja hari ini kian membahayakan, betapa tidak, belum selesai kasus-kasus kekerasan dan kriminalitas dengan remaja sebagai pelakunya, publik kembali dikejutkan dengan aksi seorang remaja pelaku peledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara (nasional.kompas.com, 10-11-2025).

Juru Bicara Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana, mengatakan pelaku membawa tujuh peledak, empat di antaranya meledak di lokasi. Mirisnya, peledakan dilakukan di lingkungan masjid sekolah saat sedang berlangsung salat Jumat, akibatnya banyak korban luka berjatuhan.

Pelaku yang juga siswa SMAN 72 menurut AKBP Mayndra kerap mengunjungi komunitas daring khususnya di forum dan situs darknet sebelum melancarkan aksinya, situs itu memuat video atau foto terkait perang, pembunuhan hingga aksi-aksi sadis lainnya.

Teman-teman pelaku justru menolak anggapan ada bullying, justru mereka memang enggan berteman dengan pelaku karena menunjukkan tanda-tanda penyuka kekerasan. Tak bisa diajak berkomunikasi secara normal, beberapa saksi mengatakan perubahan perilaku itu terjadi paska perceraian orangtuanya.

Tak berhenti di Jakarta, sebelumnya terjadi kebakaran di Pesantren Babul Maghfirah, Kabupaten Aceh Besar, Jumat, 31 Oktober 2015, diduga karena ulah seorang santri kelas 12, yang sering jadi sasaran bully atau perundungan.

Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Joko Heri Purwono mengatakan motif pelaku murni karena sakit hati sering menerima perlakuan yang tak menyenangkan. Pelaku yang tak tahan mendapat perundungan kemudian melampiaskan dengan membakar pesantren. Meski tidak ada korban jiwa, tetapi pihak pesantren mengalami kerugian material akibat bangunan asrama terbakar (cnnindonesia.com, 6-11-2025).

Sekulerisme Akar Persoalan Beruntunnya Tindak Kriminal

Pemisahan agama dari kehidupan ( sekulerisme) menjadikan perilaku manusia tanpa kontrol, tak ada rasa takut ketika melakukan kejahatan sebab yang mereka pahami setiap tindakan tidak dilihat orang, mereka lupa ada Allah pemilik jiwa dan penguasa alam semesta. Bullying menjadi sesuatu yanb lumrah dikerjakan oleh sebagian orang kepada yang lain hanya untuk menunjukkan siapa yang kuat dan siapa yang lemah, siapa yang berkuasa dan siapa yang harusnya menjadi budak.

Perilaku bullying menggejala di berbagai daerah, bukti sebagai problem sistemik dalam pendidikan, sehingga butuh penyelesaian yang lebih komperehensif. Sekulerisme juga memengaruhi tayangan media sosial yang tanpa filter berarti, padahal hari ini tak mungkin menghilangkan penggunaan media sosial sebagai bagian dari kemajuan teknologi dan kebutuhan masyarakat untuk dipenuhi secara cepat.

Banyak kejadian depresi hingga bunuh diri di dunia ini akibat pengaruh media sosial. Bahkan bullying malah menjadi tren setter konten di media sosial, para pengunggah yang sekalius pelaku tak lagi merasa takut mempertontonkan perilaku kekerasan dan tak terpuji, sebab ada pasar yang mencarinya. Artinya, di tengah masyarakat pun ada komunitas penyuka konten nyeleneh.

Ketika sekulerisme terus subur diterapkan, maka perilaku manusia akan semakin mengarah pada krisis adab dan hilangnya fungsi pendidikan. Dan kita pun melihat, pendidikan kita berkutat pada pergantian kurikulum setiap kali berganti menteri. Anak didik seolah jadi kelinci percobaan kurikulum, yang diakhir output hanya diarahkan pada pekerjaan, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Target capaian hanya pada angka akademik, prestasi kompetesi tanpa target jelas kecuali pengumpulan sertifikat, medali, piala, beasiswa atau pun biaya pendidikan. Sementara hati dan akal generasi tak pernah digarap secara serius hingga berakhir pada kondisi rapuh dan mudah patah.

Generasi hari ini tidak tumbuh dalam alam perjuangan sebab dipupuk dengan suasana pragmatis. Visi misinya kabur, padahal negeri ini mayoritas beragama Islam. Agama yang sepanjang sejarah dunia mampu memimpin dengan peradaban mulia, namun kini malah dibuang, dianggap tidak layak karena pengaruh opini penjajah laknatullah.

Generasi Islam Pioner Peradaban Mulia

Islam sebagai agama yang sempurna, tentu memiliki syariat atau seperangkat aturan tentang kehidupan, khususnya pendidikan. Dimana tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk kepribadian Islam, yaitu pola sikap dan pola pikir senantiasa bersandar pada akidah Islam.

Proses pendidikan secara talaqiyan fikriyan, yaitu tatap muka murid dan guru secara efisien dan efektik setiap harinya, sehingga yang terjadi bukan hanya tranfer pemahaman dan ilmu tapi juga terjadi pembinaan intensif. Siswa melihat guru sebagai teladan, demikian pula siswa belajar adab dan akhlak secara konsisten.

Pendidikan terselenggara dengan akses mudah dan biaya terjangkau bahkan gratis dari negara. Hal yang hari ini langka, oleh karenanya, sistem pendidikan Islam sangat memungkinkan muncul potensi luar biasa tidak hanya dari anak-anak orang kaya, tapi juga keluarga miskin, bukan hanya anak-anak pejabat tapo juga rakyat biasa.

Kurikulum berbasis akidah Islam yang menjadi kuncinya, kita pasti mengenal siapa Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Mush’ab bin Umair, dan Usamah bin Zaid. Para pemuda ini memiliki peran penting dalam menyebarkan Islam, meskipun usia mereka masih sangat muda, karena mereka terinspirasi oleh nilai-nilai Islam dan kepemimpinan Rasulullah saw.

Posisi Rasulullah tidak hanya sebagai Rasul utusan Allah, tapi beliau juga sebagai kepala negara. Dan menyiapkan generasi terbaik adalah tugas beliau, maka di sinilah dalil jelas bahwa negara wajib menjadi penjamin utama pendidikan, pembinaan moral umat, dan perlindungan generasi dari kezaliman sosial.

Jaminan negara ini tidak berhenti menjadi kebijakan negara pada masa Rasulullah saja, tapi berlanjut setelah beliau wafat, dilanjutkan oleh kepemimpinan pengganti beliau yaitu Khulafaur Rasyidin dan Khalifah-Khalifah selanjutnya pemimpin keKhilafahan selanjutnya.

Sudah saatnya kita menjadi penggerak perubahan sistem, membuang sistem sekuler yang batil dan menggantinya dengan sistem yang sudah Allah tetapkan, agar kita mendapatkan keberkahan dunia akhirat, sebagaimana firman Allah swt. yang artinya, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-A’raf Ayat 96). Wallahualam bissawab.

Artikel Terkait :

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Postigan Populer

spot_img