Kepergian Ratu Elizabeth II menjadi salah satu momen paling menyentuh dalam sejarah keluarga Kerajaan Inggris. Tidak hanya menjadi kehilangan besar bagi bangsa Inggris dan dunia, wafatnya sang ratu juga meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dekatnya. Salah satu yang paling terpukul atas kabar duka tersebut adalah Pangeran Harry, cucu kesayangan sang ratu.
Hubungan Spesial Antara Pangeran Harry dan Ratu Elizabeth II
Meskipun kehidupan Pangeran Harry belakangan ini kerap menjadi sorotan media karena keputusannya mundur dari tugas kerajaan bersama sang istri, Meghan Markle, hubungan emosional antara Harry dan Ratu Elizabeth II tetap hangat dan penuh kasih. Kedekatan ini bahkan telah terjalin sejak masa kecil Pangeran Harry. Ratu Elizabeth dikenal sebagai nenek yang penuh perhatian, dan Pangeran Harry tumbuh dengan banyak kenangan hangat bersamanya.
Ratu Elizabeth II bukan hanya seorang pemimpin negara bagi Harry. Ia adalah sosok nenek yang hangat, bijaksana, dan menjadi tempat berbagi cerita, terutama saat keluarga kerajaan berada dalam tekanan media dan sorotan publik.
Kesedihan Mendalam Seorang Cucu
Setelah wafatnya sang ratu, banyak media di Inggris dan internasional mencatat bagaimana Pangeran Harry menunjukkan kesedihan yang sangat mendalam. Dalam beberapa pernyataan publik, ia mengungkapkan betapa besar rasa kehilangannya, terlebih karena beberapa waktu terakhir keduanya jarang bertemu akibat perbedaan jarak dan situasi pribadi yang dihadapi Harry di Amerika Serikat.
Namun, walau berjauhan secara fisik, rasa cinta dan penghormatan Harry terhadap sang nenek tak pernah luntur. Dalam momen-momen kebersamaan keluarga, ia selalu mengenang wajah sang nenek dengan penuh haru. Bahkan, Harry mengatakan bahwa dirinya sering teringat Ratu Elizabeth II setiap kali menatap wajah putri kecilnya, Lilibet Diana.
Lilibet: Nama yang Sarat Makna
Nama anak kedua Harry dan Meghan Markle, Lilibet Diana, bukanlah nama yang dipilih secara sembarangan. “Lilibet” adalah nama panggilan masa kecil Ratu Elizabeth II yang digunakan oleh keluarga dekat, termasuk oleh suami tercintanya, Pangeran Philip. Panggilan ini berawal dari ketidakmampuan Ratu Elizabeth kecil dalam mengucapkan namanya sendiri, sehingga ia menyebut dirinya “Lilibet”, dan keluarga pun ikut menggunakan nama panggilan tersebut.
Dengan menamai anak keduanya “Lilibet”, Pangeran Harry menunjukkan rasa hormat dan cinta mendalam kepada sang nenek. Nama ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan keluarga, tetapi juga simbol kedekatan emosional antara generasi lama dan baru dalam keluarga kerajaan. Nama tengah “Diana” pun tak kalah berarti, karena merupakan penghormatan kepada mendiang ibunya, Putri Diana.
Kehadiran Lilibet Diana Mountbatten-Windsor dalam keluarga kecil Harry seolah menjadi jembatan spiritual antara masa lalu dan masa depan, antara kenangan dan harapan.
Komentar Publik dan Media
Pemilihan nama Lilibet sempat menimbulkan beragam reaksi di kalangan publik dan pengamat kerajaan. Ada yang mengapresiasi langkah Harry sebagai bentuk penghormatan yang manis, sementara sebagian lainnya menilai bahwa penggunaan nama panggilan pribadi ratu dianggap terlalu personal.
Namun, di balik kontroversi tersebut, yang jelas adalah bahwa Pangeran Harry memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan sang nenek. Dalam berbagai wawancara, ia tak segan mengungkapkan bahwa Ratu Elizabeth selalu memberikan dukungan dan pengertian di tengah tekanan yang dihadapi Harry dan Meghan, terutama saat mereka memutuskan keluar dari lingkaran utama kerajaan.
Peran Ratu dalam Kehidupan Harry
Ratu Elizabeth II dikenal sebagai sosok pemimpin yang disiplin dan penuh tanggung jawab, namun bagi Harry, ia juga merupakan panutan dalam hal nilai-nilai keluarga dan kemanusiaan. Bahkan saat hubungan Harry dan keluarganya sempat merenggang, sang ratu tetap menjaga komunikasi dengan cucunya.
Dalam surat pernyataan resmi yang dirilis Harry setelah kematian sang ratu, ia menuliskan:
“Nenekku tercinta, terima kasih atas segala nasihatmu, senyummu yang hangat, dan waktu-waktu berharga yang kita habiskan bersama. Kami akan selalu mengenangmu, dan Lilibet akan tumbuh mengenalmu lewat cerita-cerita indah yang kami bagi.”
Ucapan tersebut menjadi bukti bahwa meskipun jarak dan dinamika kehidupan membuat mereka tak selalu bersama, kasih sayang dalam keluarga tetap menjadi fondasi yang tak tergoyahkan.
Warisan yang Tak Terlupakan
Kepergian Ratu Elizabeth II menandai akhir dari sebuah era panjang dalam sejarah Inggris dan dunia. Namun, warisan yang ditinggalkannya tetap hidup, baik dalam nilai-nilai kenegaraan maupun dalam ikatan keluarga yang hangat.
Pangeran Harry, sebagai salah satu pewaris generasi muda, kini membawa sebagian dari semangat sang ratu ke dalam kehidupan barunya. Melalui putrinya, Lilibet, kenangan tentang sang nenek akan terus hidup dan diteruskan ke generasi berikutnya.
Duka atas kepergian Ratu Elizabeth II masih membekas, terutama bagi Pangeran Harry yang kehilangan sosok nenek sekaligus panutan dalam hidupnya. Namun, cinta dan kenangan indah yang mereka bagi tidak akan pernah pudar. Dengan menamai putrinya Lilibet, Harry telah menunjukkan bahwa meskipun sang ratu telah tiada, namanya akan terus hidup dalam keluarga dan di hati para cucunya.


