Home Madura Aktivis ke Bea Cukai: Pengusaha Rokok jangan Dijadikan ATM Berjalan

Aktivis ke Bea Cukai: Pengusaha Rokok jangan Dijadikan ATM Berjalan

SHARE
Komunitas Monitoring dan Advokasi saat menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Bea Cukai Madura, Foto:Pojoksuramadu.com

POJOKSURAMADU.COM, Pamekasan – Aktivis menilai maraknya peredaran rokok ilegal di Pamekasan diduga lantaran ada campur tangan dari Bea Cukai Madura. Bahkan, Bea Cukai Madura dituding menjadikan beberapa perusahaan rokok sebagai mesin ATM berjalan.

“Kami geram karena bea cukai madura justru menjadikan beberapa perusahaan sebagai mesin ATM berjalan,” terang Ketua Aktivis Komunitas Monitoring dan Advokasi (Komad) Pamekasan, Zaini Werwer.

Zaini juga menyayangkan beberapa pertanyaan saat aksi demonstrasi pada Kamis, (05/03) kemarin, justru tidak mendapatkan jawaban yang sesuai. Pihaknya kecewa lantaran Bea Cukai Madura tidak langsung menjawab pada subtansi pertanyaan para demonstran.

Baca Juga:  Produk IKM Madura Sukses Masuk Pasar Retail Modern

“Jawabannya muter-muter, jadi lebih baik kami bawa kasus ini ke Kementerian RI pusat, atas ketidak tegasan dan profesionalisme dalam menjungjung program pemerintah dalam menggempur peredaran rokok ilegal di Madura,” terang Zaini.

Zaini menyoroti kinerja Bea Cukai Madura yang tak pernah menetapkan seluruh tersangka dari barang bukti jutaan rokok bodong yang disita cukai. Bahkan, dari mayoritas rokok yang disita tak ada satupun ada mesin linting yang juga ikut dijadikan barang bukti.

Baca Juga:  Komitmen Berantas Narkoba, Lapas Kelas II A Pamekasan Gandeng TNI-Polri

“Disitulah indikasi adanya main mata antara Pihak Bea Cukai dengan pengusaha rokok,” ujar Zaini.

Sementara itu, Humas Bea dan Cukai Madura, Zainul Arifin, mewakili dari jajaran pimpinan Bea dan Cukai, Berdalih jika pihaknya mempunyai semangat yang sama dalam pemberantasan rokok non cukai di Pamekasan. Namun, minimnya kapasitas SDM yang ada di Bea Cukai saat ini, membuat pihaknya kewalahan untuk menertibkan sehingga tidak semua daerah bisa tersisir.

“Pegawai kami hanya 45 orang. Sementara yang mau diawasi se-Madura. Kami kewalahan,” ucap Zainul. (Hasibuddin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here