Bancaran, 29 November 2025 — Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Trunojoyo Madura menemukan fakta mengejutkan selama pelaksanaan intervensi komunitas di Kelurahan Bancaran. Selama satu semester pendampingan, permasalahan terbesar yang berhasil dipetakan adalah kebiasaan warga yang masih sering membuang sampah sembarangan serta praktik membakar sampah di sekitar pemukiman.
Dalam kegiatan sosialisasi, salah satu warga secara terbuka mengakui bahwa ia sering membakar sampah karena tidak tersedia tempat pembuangan sampah yang memadai. Ia juga berharap agar mahasiswa UTM dapat memberikan solusi nyata agar kebiasaan tersebut dapat dihentikan.
Mengangkat tema “Dari Kebiasaan Lama ke Aksi Nyata: Bancaran Siap Berubah”, sosialisasi ini tidak hanya memberikan edukasi mengenai bahaya sampah, tetapi juga membawa misi khusus dari perspektif ilmu psikologi. Intervensi yang dilakukan bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat, mulai dari pola pikir (mindset), kebiasaan sehari-hari, hingga komitmen kolektif dalam menjaga lingkungan. Mahasiswa menjelaskan bahwa perubahan perilaku adalah proses yang memerlukan edukasi, pemahaman risiko, dukungan sosial, serta contoh konkret yang dapat diterapkan langsung di rumah.
Materi yang disampaikan mencakup pemilahan sampah, pengolahan sampah organik menjadi kompos, pengurangan sampah rumah tangga, hingga pengenalan metode pengelolaan sampah yang lebih sehat tanpa perlu dibakar. Melalui pendekatan psikologis, warga diajak memahami bahwa perubahan kecil yang konsisten dapat menciptakan dampak lingkungan yang besar.
Kegiatan ini juga berjalan seiring dengan program kerja Lurah Bancaran tahun 2026, yang merencanakan pembangunan Bank Sampah serta pengembangan budidaya maggot sebagai solusi jangka panjang dalam pengelolaan sampah organik. Sinergi antara mahasiswa, warga, dan pemerintah kelurahan diharapkan mampu mempercepat terciptanya perubahan perilaku yang lebih ramah lingkungan.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan adanya dukungan kebijakan kelurahan, Bancaran diharapkan dapat keluar dari status “darurat sampah” dan bertransformasi menjadi wilayah yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Hal ini dapat dimulai dari perubahan perilaku warganya sendiri.


