Pamekasan – 11 Juli 2025 Kesuksesan program DEM.P.O (Demi Pertanian Organik) yang digagas oleh Mahasiswa KKN Universitas Trunojoyo Madura tak lepas dari dukungan penuh Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Pasean, khususnya melalui kehadiran aktif Bapak Tamam sebagai penyuluh lapangan.
Kegiatan yang diselenggarakan di Balai Desa Dempo Barat ini menjadi momen penting dalam mengedukasi dan menginspirasi para petani untuk mulai mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat penting, di antaranya 10 Kepala Dusun, 10 Ketua Kelompok Tani, Kepala Desa Joko Pranoto, serta perangkat desa lainnya. Forum ini menjadi titik temu yang inklusif antara generasi muda akademik dengan komunitas petani lokal yang selama ini telah menjadi tulang punggung ketahanan pangan desa.
Acara dibuka dengan istighosah yang khusyuk sebagai bentuk spiritualisasi niat dan harapan bersama demi pertanian yang lebih baik. Selepas itu, kegiatan dilanjutkan dengan acara inti berupa sosialisasi Pupuk Organik Cair (POC) Segoro Geni serta demonstrasi alat uji mikroba tanah yang merupakan inovasi teknologi sederhana namun berdampak besar.
Antusiasme dan Dukungan Pemerintah Desa.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Dempo Barat, Joko Pranoto, menyampaikan harapan besar agar keberadaan mahasiswa KKN dengan tema Sesandhingan ini dapat menjadi jembatan strategis antara masyarakat dengan dunia akademik. “Kami berharap program DEM.P.O dapat menjadi pelopor dalam mewujudkan cita-cita ‘Tanah Sehat, Hidup Sehat’ di desa kami,” ungkapnya.
Sementara itu, Bapak Tamam dari BPP Pasean menunjukkan peran aktifnya tidak hanya sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai motivator. Ia menekankan pentingnya semangat dan kemandirian petani dalam beradaptasi terhadap perubahan lingkungan pertanian. “Jangan takut beralih ke pupuk organik, karena itu bukan langkah mundur, melainkan langkah maju yang lebih cerdas dan berkelanjutan,” tegasnya.
Tak hanya mendengarkan, para petani menunjukkan ketertarikan tinggi dengan mengenal lebih jauh kandungan POC Segoro Geni dan bagaimana alat uji mikroba tanah dapat membantu mereka memahami kualitas lahannya sebelum melakukan penanaman.
Alat tersebut dirancang sederhana dengan menggunakan paralon, kabel, lampu indikator, dan colokan listrik, namun memiliki akurasi tinggi dalam mendeteksi kehidupan mikroorganisme tanah. Komentar positif pun datang dari audiens.
Salah satu ketua kelompok tani, Pak Mahfud, menyampaikan, “Saya baru tahu kalau mikroba bisa dilihat dari alat seperti ini. Kami merasa terbantu karena bisa cek kondisi tanah tanpa harus ke laboratorium.” Senada dengan itu, Pak Ros, petani jagung dari Dusun Tengah, mengungkapkan, “Kalau pupuk ini bisa dibuat sendiri dan hasilnya bagus, kenapa tidak? Saya ingin ikut praktiknya nanti.” Jelasnya.
Salah satu hal yang membuat forum ini berbeda dari penyuluhan biasa adalah adanya pendekatan interaktif dan praktik langsung yang akan dilakukan dalam waktu dekat. Direncanakan pada hari Senin, 14 Juli, seluruh peserta akan kembali berkumpul untuk praktik pembuatan POC Segoro Geni sekaligus perakitan alat uji mikroba tanah secara bersama-sama.
Kegiatan ini menjadi upaya konkret untuk mengajak petani tidak hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga pelaku utama dalam transformasi pertanian. Dengan demikian, pendekatan keberlanjutan (sustainability) tidak hanya menjadi jargon, melainkan langkah bertahap yang bisa dirasakan dan dilaksanakan langsung oleh masyarakat.
Inovasi, Kandungan, dan Harapan
Dalam paparannya, tim KKN menjelaskan bahwa POC Segoro Geni dibuat dari kotoran kambing, air kelapa, molase, dan EM4, serta dapat diformulasikan secara mandiri oleh petani tanpa ketergantungan pada industri kimia. Produk ini secara ilmiah menunjukkan komposisi agroekologis yang bersifat sinergis dan multifungsi.
POC Segoro Geni mengandung unsur hara makro esensial seperti nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg), yang berperan sebagai penyusun utama dalam proses fisiologis tanaman, termasuk biosintesis protein, fotosintesis, serta penguatan jaringan vaskular.
Selain itu, ia juga memperkaya tanah dengan unsur hara mikro dalam skala mikrogram per liter, seperti zinc (Zn), boron (B), tembaga (Cu), dan mangan (Mn), yang berperan sebagai kofaktor enzimatik dalam berbagai lintasan metabolisme sekunder tanaman.
Kandungan bahan organik di dalamnya memiliki kadar karbon organik (C-organik) tinggi yang mendukung peningkatan agregasi tanah, meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK), dan mendorong restorasi struktur tanah pasca-degradasi akibat pemupukan kimia jangka panjang.
Lebih lanjut, keberadaan mikroorganisme indigenous dalam POC Segoro Geni, terutama kelompok bakteri pelarut fosfat dan fungi mikoriza, memiliki kontribusi ekologis dalam mempercepat mineralisasi bahan organik serta memfasilitasi penyerapan nutrisi secara lebih efisien
Komponen tambahan berupa enzim dan senyawa metabolit sekunder hasil ekskresi mikroba seperti vitamin, asam organik, dan hormon tumbuh (auksin dan sitokinin alami) menjadikan POC ini sebagai biofertilizer yang tidak hanya menutrisi, tetapi juga memodulasi pertumbuhan tanaman secara holistik.
Dengan keberhasilan pelaksanaan program DEMPO tahap awal ini, banyak harapan muncul dari kalangan kelompok tani agar edukasi dan pendampingan dapat terus berlanjut. Tidak sedikit yang menyampaikan keinginan agar kegiatan ini menjadi agenda tahunan desa, atau bahkan direplikasi di dusun lain yang belum mendapatkan sosialisasi serupa.
Program DEMPO terbukti bukan hanya membangun kesadaran, tetapi juga menyatukan kolaborasi antara teknologi tepat guna, pendekatan sosial budaya, dan kekuatan gotong royong masyarakat desa. Dengan demikian, POC Segoro Geni bukan hanya pupuk, tetapi simbol kemandirian dan harapan baru bagi petani DempoBarat.


