POJOKSURAMADU.COM – Pagi itu, pemandangan sekolah ada yang berbeda. Para siswa yang biasanya diantar oleh ibunya atau jasa ojek, diantar oleh ayahandanya. Setelah ada pertemuan guru dan wali murid banyak para ayah tersadar akan perannya begitu besar dan memberi kesan tersendiri bagi anak-anaknya.
Jutaan Anak mengalami Fatherless
Saat ini para pemerhati generasi sedang mencari cara menuntaskan masalah ketiadaan peran ayah disisi anak atau dikenal istilah fatherless. Seperti yang diberitakan di banyak media, jutaan anak Indonesia mengalami fatherless, ketiadaan peran ayah baik secara biologis maupun psikis.
Dari data mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (Susenas BPS) Maret 2024 ditemukan bahwa jumlah anak Indonesia yang fatherless setara 20,1 persen dari total 79,4 juta anak berusia kurang dari 18 tahun. Dari 15,9 juta anak fatherless, 4,4 juta anak tinggal di keluarga tanpa ayah. Sementara itu, 11,5 juta anak lain tinggal bersama ayah dengan jam kerja lebih dari 60 jam per minggu atau lebih dari 12 jam per hari (detik.com, 17/10/2025).
Apakah fenomena ini terjadi begitu saja, tiba-tiba tanpa ada sebab? Tentu tidak. Generasi fatherless tidak lahir dari ruang hampa, tapi buah sistem kapitalisme sekuler.
Sistem kapitalisme ini merampas hubungan hangat antara ayah dan anak dengan menyibukkan ayah dalam pusaran tuntutan kehidupan yang semakin mencekik. Lapangan pekerjaan yang kurang bagi sosok-sosok ayah, harga bahan makanan pokok semakin meningkat, biaya kesehatan juga pendidikan yang tidaklah murah , ditambah lagi gaya hidup baik di dunia nyata apalagi di dunia maya yang begitu menggoda. Sang ayah tertekan dalam kondisi yang jauh dari ideal sehingga menyebabkan kesulitan memberikan nafkah yang layak bagi keluarga dan kesulitan pula memberikan waktu kebersamaan dengan keluarga.
Baca juga : Ketika Mahligai Pernikahan Tak Lagi Janjikan Bahagia
Adapun sistem kehidupan yang sekuler memisahkan agama dari kehidupan. Artinya, mengingat Allah sebagai pencipta dan pengatur kehidupan lepas dari aktivitas manusia hari ini. Akibatnya, bekerja nonstop mencari dunia atau beraktivitas semata untuk meraih kenikmatan dunia. Selanjutnya, jiwa terasa hampa bagai mayat yang berjalan tanpa arah yang diombang ambingkan oleh arus zaman yang menjauhkan dari ketundukan terhadap syariat Allah. Padahal, ketenangan didapat disaat mengingat Allah dan kebersamaan bersama keluarga.
Fatherless kemudian menjadi salah satu buah dari sistem kapitalisme sekuler. Fungsi qawwam dalam diri para ayah, baik sebagai pemberi nafkah dan pemberi rasa aman bagi anak telah sengaja dikebiri. Banyak respon kemudian bermunculan dari dari berbagai kalangan menanggapi kondisi fatherless ini. Baik dari yang mengalami maupun pandangan para ahli.
Peran Ayah dalam Islam
Ada sebuah surat dalam Al-Qur’an yang menggambarkan keteladan seorang ayah. Namanya surat Luqman. Ya, Luqman. Seorang ayah yang penuh perhatian kepada anaknya. Pendidikan tauhid berikut syariat Islamnya diberikan dengan penuh cinta. Ia begitu sadar betul bahwa seorang ayah ada untuk menjadi qowwam (pemimpin) yang nantinya bertanggung jawab di hadapan Allah atas keluarga yang menjadi tanggungannya. Tidak hanya tentang nafkah lahir tapi juga nafkah batin.
Disamping ayah, sosok Ibu juga punya peran penting bagi anak. Keberadaannya begitu vital didalam pengasuhan, penyusuan, pendidikan, dan pengaturan rumah tangga.
Dalam Islam juga menempatkan negara sebagai support dalam menjalankan peran ayah dalam hal . Negara wajib membuka lapangan kerja dengan upah yang layak. Jaminan kehidupan seperti kesehatan dan pendidikan diberikan secara cuma-cuma bukan sistem asuransi. Dengan demikian hal pokok kehidupan layaknya manusia terpenuhi sehingga para ayah memiliki cukup waktu untuk membersamai anak-anaknya.
Selain itu, Islam juga memberikan syariat Islam seputar anak yang tidak memiliki anak secara biologis karena meninggal dunia ataupun perceraian. Syariat Islam itu adalah perwalian. Jika karena meninggal dunia, maka yang menjadi wali bagi anak adalah saudara laki-laki ayahnya. Jika karena perceraian, posisi wali tetap pada ayahnya.
Islam telah memberikan jalannya untuk menyelesaikan permasalahan fatherless ini. Cara-cara Islam ini bisa dipraktekkan jika sistem pemerintahan Islam diterapkan dengan sempurna. Sistem ini yang akan mencerabut akar masalah yang sesungguhnya yaitu sistem kapitalisme sekuler. Jika benar ingin menuntaskan masalah fatherless ini, maka apakah cara selain dari Islam yang kita ambil?
Penulis :Naila


