Pojoksuramadu.com – Aceh dan Sumatera masih belum pulih. Banyak warga terpaksa berjalan jauh demi mendapatkan makanan yang sedikit. Banyak jalanan yang terputus masih belum diperbaiki. Seutas sling baja menjadi akses warga di sembilan desa terdampak. Sebagian diantara korban bencana meninggal bukan karena banjir itu sendiri tetapi karena kelaparan.
Mereka adalah saudara kita yang sangat membutuhkan pertolongan. Mereka adalah rakyat seperti kita yang memiliki pemerintah yang semestinya melindungi dengan penuh amanah.
Fakta Terkini Daerah Bencana
Per 27 Desember 2025 menurut laman detiknews.com, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menetapkan korban meninggal di Aceh 511 orang, di Sumatera Utara 365 orang, dan di Sumatera Barat 262 orang. Secara keseluruhan totalnya ada 1.138 orang. Sementara orang hilang di daerah bencana tersebut mencapai 163 orang. Jumlah pengungsi di Aceh ada 429.557, di Sumatera Utara 10.354 pengungsi, dan Sumatera Barat 9.935 pengungsi.
Banyaknya korban tersebut ditambah dengan sulitnya memenuhi hajat hidup mendorong masyarakat Aceh melakukan aksi pengibaran bendera putih sejak akhir November 2025 sebagai tanda ketidaksanggupan dan berharap pemerintah Indonesia menetapkan status bencana nasional. Namun sayangnya, aksi ini tidak berhasil membuat pemerintah bersegera tanggap menetapkan status tersebut.
Oleh karena itu, seratusan massa aliansi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) melakukan aksi di depan Masjid Abu Daud Beureueh di Kota Beureunun pada Kamis, 25 Desember 2025. Hal ini sebagaimana dilansir serambinews.com. Tuntutan utama mereka adalah mendesak penetapan bencana nasional terhadap bencana Aceh dan Sumatera. Dengan penetapan ini diharapkan penanganan dan penyaluran bantuan dapat optimal dan cepat.
Menanti Peran Negara
Dalam Undang-undang nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dengan alokasi anggaran BNPB sebesar Rp1,43 triliun pada 2025 dan proyeksi Rp 490 miliar pada 2026. Angka ini kurang untuk menutupi kebutuhan pemulihan pasca bencana.
Disamping itu, masyarakat yang antusias dalam memberikan bantuan bergerak sendiri-sendiri. Negara tidak melakukan pengorganisasian mobilisasi masyarakat. Parahnya, ada pihak-pihak yang sibuk memperbaiki citra pemerintah dan merendahkan juga mempropaganda negatif para pemberi bantuan dari kalangan konten kreator.
Sistem kapitalisme yang menjadi pokok persoalan yang menjadikan pemerintah mengambil kebijakan yang berdasar kalkulasi ekonomi, efisiensi anggaran, tanpa melihat urgensi pengeluaran anggaran pascabencana, apalagi pencegahan bencana.
Sistem demokrasi kapitalisme telah membentuk mindset kepemimpinan para pemangku kebijakan. Mereka menjadikan jabatan dalam politik dan pemerintahan adalah previlege. Mereka begitu tunduk pada pemilik modal yang mendanai mereka hingga sampai pada kursi jabatan tersebut. Akibatnya, sistem inilah yang melahirkan penguasa-penguasa abai terhadap urusan rakyatnya.
Kepemimpinan dalam Islam
Alimaamu roo’in wa huwa masuuulun an ro’iyyatihi. Demikianlah sabda Rasulullah. Artinya adalah pemimpin itu memiliki tanggung jawab sebagai pengurus semua urusan rakyat.
Dalam sistem Islam, jabatan pemerintahan bukanlah previlege melainkan tugas berat yang menuntut pertanggungjawaban di dunia bahkan di akhirat, dihadapan sang Pemilik kehidupan ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dengan mindset ini, para pemimpin menjalankan kepemimpinannya sesuai dengan Allah tetapkan dalam syariat Islam.
Dalam penanganan bencana, negara dalam sistem Islam yakni Khilafah akan menggerakkan semua potensi sumberdaya. Baik itu pemasukan negara baitul mal dari fa’i, kharaj, jizyah, maupun hasil kepemilikan umum untuk menangani bencana dengan cepat, terpusat, dan terkoordinasi. Jika tidak cukup, maka akan dipungut dhoribah kepada orang-orang kaya untuk menutupi kebutuhan mendesak penanganan bencana.
Pemimpin dalam Islam memastikan terpenuhinya semua kebutuhan pokok korban bencna , mulai dari pangannya, papannya, sandangnya, juga fasilitas umum. Mobilisasi masyarakat akan diorganisir dengan amanah dan bukan sekedar imbauan yang tanpa arah atau malah sibuk membuat drama.
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya (dalam kesusahan). Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa melepaskan satu kesusahan dari seorang Muslim, maka Allah akan melepaskan satu kesusahan darinya di hari kiamat.
(HR. Bukhari, no. 2442 dan Muslim, no. 2580)
وَااللهُ فِى عَوْنِ اْلعَـبْــدِ مَـا كَا نَ اْلعَـبْـدُ فِى عَـوْنِ أَخِـیْھِ ـ رواه مسلم
Artinya : “Dan Allah senantiasa menolong hambanya selama hamba Nya itu menolong Saudaranya”(HR. Muslim)
Selain itu, pemimpin dalam Islam akan memikirkan pula cara-cara pencegahan bencana agar tidak terulang kembali. Para ahli ekologi dan yang berkaitan dikumpulkan untuk duduk bersama membahas kemaslahatan umat ini. Semua ini dilakukan atas dasar ketaqwaan kepada Allah, karena sedikit saja keterlambatan dianggap sebagai kelalaian yang sangat berat pertanggungjawabannya dihadapan Allah. [] Penulis : Naila


