Pamekasan — Mahasiswa KKN 11 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) gelar sosialisasi pembibitan cabai dan bawang merah, serta pembuatan pupuk kandang dari kotoran sapi di Desa Ponjanan Barat, Kecamatan Batumarmar, Kabupaten Pamekasan.
Sosialisasi ini dilaksanakan selama 3 hari dan dihadiri oleh 6 dusun, serta perangkat desa. Sosialisasi dimulai pada tanggal 10 Juli sampai dengan 12 Juli 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di balai desa dan di rumah pamong dusun.
Mengacu pada mata pencaharian utama masyarakat Desa Ponjanan Barat yang sebagian besar merupakan seorang petani, Mahasiswa KKN 11 UTM menggelar sosialisasi ini sebagai usaha untuk mewujudkan pertanian yang berkelanjutan. Selain itu, sosialisasi ini juga bertujuan untuk pemberdayaan dan meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat lokal.
Komoditas utama di Desa Ponjanan Barat adalah tanaman cabai dan bawang merah. Berdasarkan hasil bincang-bincang dengan pamong dusun dalam kunjungan silahturahmi, diketahui terdapat kendala dalam budidaya tanaman cabai dan bawang merah di Desa Ponjanan Barat.
“Tanaman cabai di sini tumbuhnya tidak maksimal, Dik. Daunnya kuning kemudian jadi keriting. Orang sini menyebutnya sebagai penyakit kuning. Sudah dikasih obat macam-macam tapi ya tetap seperti itu. Kalau bawang merah itu seringnya umbi yang busuk,”ujar Bapak Saifuddin selaku pamong Dusun Tengah.
Hal tersebut melatarbelakangi Mahasiswa KKN 11 UTM untuk menggelar sosialisasi tentang pembibitan cabai dan bawang merah. Selain itu, adanya limbah sapi yang menumpuk di tiap rumah masyarakat desa, memberi inspirasi bagi Mahasiwa untuk berinovasi yaitu mengubah kotoran sapi menjadi pupuk kandang untuk campuran media tanam dalam pembibitan cabai dan bawang merah.
Kegiatan sosialisasi dilakukan secara interaktif antara pemateri dan masyarakat desa. Larisa Salsabilla selaku pemateri utama memberi pertanyaan kepada warga terkaitkendala dalam budidaya cabai dan bawang merah. Masyarakat memberi timbal balik dengan menjawab demikian, yaitu adanya penyakit kuning pada cabai dan busuk umbi pada bawang merah.
Menanggapi hal tersebut, pemateri menjelaskan secara ilmiah terkait penyakit yang menyerang tanaman cabai dan bawang merah beserta cara mengatasinya, yang kemudian dijelaskan ulang menggunakan bahasa Madura oleh Hidayatun Safitri selaku translator yang bertugas.
Pemateri juga memberi penjelasan terkait asal bibit yang dapat menjadi awal dari menularnya penyakit pada tanaman. Melanjuti hal itu, pemateri memaparkan cara pembibitan tanaman cabai dan bawang merah menggunakan pupuk kandang sebagai media tanam. Selain itu, dipaparkan juga terkait cara pengelolaan kotoran sapi menjadi pupuk kandang dengan menggunakan EM4 Pertanian, air cucian beras, dan air biasa sebagai larutan probiotik.
Sebelumnya, masyarakat mengaku telah menggunakan kotoran sapi sebagai pupuk. Namun, kotoran sapi tersebut langsung diaplikasikan pada lahan pertanaman tanpa melalui pengelolaan terlebih dahulu.
“Biasanya memang menggunakan pupuk kandang dari kotoran sapi, tapi ya tidak diolah, jadi langsung diaplikasikan ke lahan,” ujar salah satu masyarakat peserta sosialisasi.
Pemateri menjelaskan jika kotoran sapi yang tidak diolah terlebih dahulu dapat menjadi sarang penyakit untuk tanaman, sehingga perlu dilakukan pengelolaan agar siap diaplikasikan ke tanaman.
Tidak hanya sebatas materi, cara pembuatan pupuk kandang dari kotoran sapi dan cara pembibitan tanaman juga langsung dipraktikkan di depan. Pada sesi praktik, sebagian besar masyarakat terlihat berdiri dan mendekat untuk melihat lebih jelas proses praktiknya. Beberapa masyarakat juga aktif mengajukan pertanyaan untuk pemateri. Hal itu menunjukkan, bahwa masyarakat mempunyai antusiasme yang tinggi pada program ini.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan masyarakat dapat membuat pupuk kandang sapi dan pembibitan tanaman secara mandiri, agar dapat mengoptimalkan praktik pertanian di Desa Ponjanan Barat.
Melanjuti program sosialisasi ini, Mahasiswa berencana untuk membantu pembangunan Koperasi Desa atau Kopdes di Desa Ponjanan Barat dengan mengusulkan pupuk kandang sapi dan bibit cabai sebagai produknya. Dengan adanya koperasi desa, diharapkan dapat membangun Desa Ponjanan untuk mencapai kemandirian ekonomi.
Mahasiswa KKN 11 UTM berharap, dengan adanya program ini Desa Ponjanan Barat dapat mewujudkan pertanian berkelanjutan, serta meningkatkan perekonomian Desa.


