kerja Sama

Kirim Tulisan

Home

ic_fluent_news_28_regular Created with Sketch.

Berita

ic_fluent_phone_desktop_28_regular Created with Sketch.

Teknologi

Wisata

Pendidikan

Bisnis

Keislaman

ic_fluent_incognito_24_regular Created with Sketch.

Gaya Hidup

Sosial Media

Latar Belakang Sebutan Kacong dan Hubungannya dengan Harga Diri Bagi Warga Madura

Oleh : Abdurrohman 63, PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AL IBROHIMY GALIS BANGKALAN

Madura adalah sebuah pulau di Jawa Timur yang tidak hanya dikenal dengan keberanian dan kerja keras masyarakatnya, tetapi juga dengan budaya, tradisi, serta nilai-nilai kehormatan yang masih dijunjung tinggi sampai saat ini. 

Di antara banyak istilah yang berkembang dalam masyarakat Madura, sebutan kacong adalah salah satu yang menarik untuk dibahas. Istilah ini tidak hanya berfungsi sebagai panggilan sehari-hari, tetapi juga sarat dengan makna sejarah, sosial, dan budaya yang berkaitan erat dengan harga diri masyarakat Madura.

Latar Belakang Sebutan Kacong

Secara umum, kacong dalam bahasa Madura berarti “anak laki-laki” atau “pemuda”. Dalam kehidupan sehari-hari, istilah ini digunakan untuk menyebut anak laki-laki dengan nada akrab, terutama oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Namun, dalam perkembangan sejarah dan budaya Madura, kacong juga merujuk pada pelayan atau pembantu laki-laki yang melayani tuan rumah atau majikannya.

Menurut Achmad Zaini dalam bukunya Budaya Madura: Antara Etnisitas dan Nasionalisme (2011), kacong pada zaman dulu bahkan bisa menjadi simbol loyalitas. Ia.menulis:

“Para kacong yang bekerja untuk bangsawan atau tuan tanah kadang diperlakukan sebagai anggota keluarga sendiri, bukan hanya sebagai pelayan.”

Dalam konteks masa lalu, khususnya pada masa kerajaan dan kolonial, para kacong biasanya bekerja di rumah para bangsawan atau orang kaya. Mereka tidak hanya bertugas melayani secara fisik, tetapi juga belajar tentang tata krama, keberanian, loyalitas, dan kadang-kadang juga ilmu bela diri.

Namun demikian, seiring berjalannya waktu, makna ini mulai bergeser. Banyak orang mulai menggunakan istilah kacong dengan konotasi negatif, yaitu merujuk pada seseorang yang berada di lapisan sosial bawah, atau bahkan dipakai untuk merendahkan harga diri seseorang dengan maksud mengejek atau menghina. Inilah yang kemudian membuat istilah kacong menjadi sangat sensitif jika tidak digunakan dengan tepat.

Makna Harga Diri bagi Warga Madura

Untuk memahami mengapa sebutan kacong bisa berhubungan erat dengan harga diri masyarakat Madura, kita perlu melihat bagaimana orang Madura memaknai kehormatan atau harga diri. Dalam budaya Madura, harga diri atau yang dikenal dengan istilah “ajâl diri” merupakan nilai yang sangat fundamental. Ada sebuah ungkapan populer: “Lebbi bagus pote tolang, tak pote atè”(Madura red). (Lebih baik putih tulang daripada putih mata, lebih baik mati daripada menanggung malu)

Ungkapan ini menunjukkan betapa seriusnya masyarakat Madura dalam menjaga kehormatan diri mereka. Harga diri dalam masyarakat Madura bukan hanya tentang kehormatan pribadi, tetapi juga menyangkut nama baik keluarga, komunitas, dan bahkan kampung halaman. Segala bentuk penghinaan, baik secara lisan maupun tindakan, yang dianggap merendahkan martabat seseorang dapat memicu perasaan tersinggung yang mendalam, bahkan bisa berujung pada konflik serius.

Hubungan Sebutan kacong dengan Harga Diri

Dalam konteks ini, penyebutan kacong secara sembarangan bisa menjadi masalah besar. Ketika sebutan ini digunakan untuk menyebut seorang anak atau pemuda dengan nada yang wajar, orang Madura biasanya tidak mempermasalahkannya. Namun, jika istilah ini diucapkan dengan maksud merendahkan atau mengejek, maka akan dianggap sebagai penghinaan terhadap martabat seseorang.

Sebagai contoh, dalam sebuah kasus yang terjadi di Bangkalan pada 2019, seorang pemuda terlibat perkelahian karena disebut “kacong” oleh temannya dengan nada menghina di depan umum. Saksi menyebut bahwa nada ucapan itu menunjukkan maksud merendahkan, seolah menyamakan dirinya dengan budak. Perkelahian itu bahkan sempat memicu keributan antar-keluarga sebelum diselesaikan secara adat oleh tokoh masyarakat setempat.

Kejadian serupa juga dilaporkan di Pamekasan pada 2021, ketika seorang siswa SMP tersinggung dan menolak berbicara dengan gurunya setelah dipanggil “kacong” di kelas. Dalam wawancara dengan media lokal, siswa tersebut berkata:

“Kalau saya dipanggil kacong sama orang tua di rumah tidak apa-apa, tapi kalau di depan teman-teman dengan maksud mengejek, saya malu.”

Dari contoh-contoh nyata ini terlihat jelas bahwa bagi orang Madura, harga diri bukanlah hal kecil yang bisa diabaikan. Bahkan sebuah kata sederhana seperti kacong bisa memantik emosi apabila diucapkan dengan maksud atau nada yang salah.

Sebutan kacong sebagai Simbol Ambivalen

Menariknya, dalam masyarakat Madura sendiri, istilah kacong bersifat ambivalen artinya bisa bermakna positif maupun negatif, tergantung konteks dan intonasi penggunaannya. Ketika digunakan dengan nada sayang atau dalam lingkup keluarga, sebutan kacong terasa hangat dan bersahabat. Orang tua sering memanggil anak laki-lakinya dengan sebutan ini untuk menunjukkan kasih sayang. Dalam seni budaya Madura, seperti ludruk atau tarian tradisional, istilah ini juga kadang muncul untuk menggambarkan sosok pemuda yang gagah dan bertanggung jawab.

Namun, sebaliknya, ketika digunakan dengan maksud meremehkan, sebutan ini bisa menjadi bentuk penghinaan. Hal inilah yang membuat masyarakat Madura sangat peka terhadap cara orang lain berbicara kepada mereka. Dalam penelitian Yuliana (2020) berjudul Pragmatisme “Bahasa dalam Masyarakat Madura”, disebutkan bahwa:

“Kata ‘kacong’ menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah kata netral bisa menjadi ofensif bila diucapkan tanpa memperhatikan konteks sosial dan psikologis lawan bicara.”

Refleksi: Pentingnya Memahami Budaya Lokal

Fenomena ini mengajarkan kita pentingnya memahami budaya lokal dalam berkomunikasi. Istilah-istilah yang mungkin terdengar biasa dalam satu budaya, bisa memiliki makna yang sangat berbeda dalam budaya lain. Dalam masyarakat Madura, yang sangat menjunjung harga diri dan kehormatan, semua ucapan kita sebaiknya disampaikan dengan penuh hormat dan pertimbangan.

Sebagai generasi muda, kita harus lebih bijak dalam menggunakan kata-kata, apalagi di era media sosial yang memungkinkan semua orang berbicara kepada siapa saja. Kesadaran budaya semacam ini juga merupakan bagian dari pendidikan karakter, yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga bagaimana bersikap hormat terhadap sesama manusia. Orang Madura mengajarkan kita bahwa menjaga ucapan berarti menjaga martabat diri sendiri dan orang lain.

Penutup

Sebutan kacong dalam masyarakat Madura bukanlah sekadar panggilan biasa, melainkan istilah yang kaya akan sejarah, nilai, dan makna budaya. Dalam konteks tertentu, kacong melambangkan pengabdian, kepercayaan, dan kasih sayang. Namun dalam konteks lain, ia bisa menjadi simbol penghinaan yang melukai harga diri seseorang. Oleh sebab itu, pemahaman yang tepat mengenai istilah ini sangat penting, terutama bagi mereka yang berinteraksi dengan masyarakat Madura.

Harga diri bagi warga Madura bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang keluarga, komunitas, dan warisan budaya. Menghormati harga diri mereka berarti juga menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Kita semua, sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang majemuk, perlu belajar untuk lebih peka terhadap budaya-budaya lokal agar komunikasi kita menjadi lebih santun, harmonis, dan penuh penghargaan.

Sebagaimana pepatah Madura mengatakan:

“ajhe’  aomong sakarebbeh, sakabbinnah riah bedeh kennengah ben bektonah.” (Jangan bicara sembarangan, semuanya ada tempat dan waktunya.)

Semoga kita semua dapat menjaga lisan kita, memahami budaya sesama, dan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai harga diri dalam kehidupan bermasyarakat.

Artikel Terkait :

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Postigan Populer

spot_img