Pamekasan, 1 Juli 2025 – Suasana Balai Desa Waru Timur, Kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan, Madura, tampak semarak pada Selasa pagi. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 27 dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menggelar kegiatan pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC) yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang pemanfaatan limbah rumah tangga sebagai bahan ramah lingkungan untuk mendukung pertanian berkelanjutan.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam menjawab permasalahan lingkungan sekaligus mendukung sektor pertanian lokal yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat setempat.
Kegiatan yang berlangsung dengan antusias ini dihadiri langsung oleh Kepala Desa Waru Timur beserta perangkat desa, perwakilan dari Kecamatan Waru, sejumlah kelompok tani, dan warga sekitar. Kehadiran berbagai elemen masyarakat ini menunjukkan tingginya minat terhadap inovasi pertanian yang ramah lingkungan.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Waru Timur menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa KKN Universitas Trunojoyo Madura yang telah membawa ilmu bermanfaat dan aplikatif ke tengah masyarakat desa. “Kami sangat berterima kasih atas kegiatan ini. Semoga ilmunya bisa terus diterapkan oleh para petani di sini,” ujarnya.
Pelatihan ini mengusung konsep sederhana namun berdampak besar, yakni memanfaatkan limbah organik yang sering dianggap tidak berguna menjadi produk bernilai tinggi. Limbah buah dan sayur yang biasanya dibuang begitu saja, serta air bekas cucian beras yang kerap terbuang percuma, kali ini disulap menjadi bahan utama dalam pembuatan pupuk organik cair.

Dalam proses pembuatannya, limbah organik tersebut dicampur dan difermentasi bersama larutan Effective Microorganism 4 (EM4), yaitu larutan yang mengandung bakteri baik untuk mempercepat proses penguraian bahan organik. Campuran ini kemudian disimpan dalam wadah tertutup selama 10 hari hingga menghasilkan pupuk cair yang siap digunakan.
Selama pelatihan berlangsung, para peserta diajak untuk terlibat langsung dalam proses pembuatan pupuk, mulai dari pemilahan limbah organik, pencampuran bahan, hingga pengemasan awal.
Mahasiswa KKN yang bertindak sebagai fasilitator menjelaskan setiap tahapan dengan bahasa yang mudah dipahami dan diselingi dengan tanya jawab interaktif, sehingga suasana pelatihan terasa hidup dan komunikatif.
Tak sedikit peserta yang mencatat dengan tekun dan mengabadikan proses tersebut untuk dipraktikkan kembali di rumah maupun lahan pertanian mereka.
Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian terhadap masalah limbah rumah tangga yang kerap kali menjadi sumber pencemaran lingkungan.
Dalam proker ini kelompok KKN 27 ingin menunjukkan bahwa sampah bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari sampah itu kita bisa menciptakan sesuatu yang bermanfaat, terutama bagi para petani. Pupuk organik cair ini selain mudah dibuat, juga aman untuk lingkungan dan dapat meningkatkan kesuburan tanah secara alami.
Manfaat dari pupuk organik cair ini tidak hanya dirasakan dari segi keberlanjutan lingkungan, tetapi juga dari sisi ekonomi masyarakat.
Dengan memproduksi pupuk sendiri dari limbah yang tersedia di sekitar rumah, para petani dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang harganya semakin tinggi.
Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pertanian organik sebagai solusi jangka panjang dalam menjaga produktivitas pertanian tanpa merusak ekosistem.
Tak hanya memberikan pelatihan, mahasiswa KKN juga membagikan booklet panduan pembuatan pupuk organik cair agar masyarakat dapat mengulang prosesnya secara mandiri.
Mereka juga menawarkan pendampingan lanjutan bagi warga atau kelompok tani yang tertarik mengembangkan produksi POC dalam skala lebih besar.
Beberapa warga bahkan mengusulkan agar kegiatan semacam ini bisa rutin diadakan dengan menggandeng pihak desa dan kecamatan.
Kegiatan pelatihan ini menjadi salah satu highlight dari rangkaian program kerja KKN Kelompok 27 Universitas Trunojoyo Madura di Desa Waru Timur.
Dengan semangat kolaboratif antara mahasiswa dan masyarakat, kegiatan ini diharapkan mampu menciptakan efek domino dalam perubahan pola pikir masyarakat tentang pengelolaan limbah dan pertanian ramah lingkungan.
Apa yang dilakukan hari ini bukan sekadar mencampur bahan organik dalam wadah, tapi juga menanamkan kesadaran baru akan pentingnya menjaga bumi dari lingkup yang paling dekat yaitu dari rumah sendiri.
Di akhir acara, suasana keakraban semakin terasa ketika peserta bersama mahasiswa KKN melakukan sesi foto bersama sambil menunjukkan hasil fermentasi yang telah disiapkan.
Semangat gotong royong, edukasi, dan kesadaran lingkungan yang dibangun dalam kegiatan ini menjadi contoh konkret bahwa perubahan besar bisa dimulai dari tindakan kecil yang konsisten.
Dengan keberhasilan kegiatan ini, diharapkan Desa Waru Timur bisa menjadi pionir dalam pengelolaan limbah berbasis masyarakat yang produktif dan berkelanjutan di wilayah Madura.


