Home Opini Penghancur itu Bernama Narkoba

Penghancur itu Bernama Narkoba

SHARE
Gambar ilustrasi

Oleh: Rahmi Ummu Atsilah, Pemerhati Publik

Narkoba rupanya masih menjadi momok penghancur generasi yang menakutkan. Peredaran dan dampaknya sudah sangat meresahkan. Mudahnya mendapat bahan berbahaya tersebut membuat penggunanya meningkat tajam. Laki-laki, perempuan, anak-anak hingga dewasa, orang biasa maupun terkenal, akan kecanduan bila mencoba mencicipinya.

Meski ada beberapa jenis yang diperbolehkan dipakai untuk keperluan pengobatan dengan pengawasan dokter, namun tetaplah bahayanya lebih besar. Bahaya narkoba bagi hidup dan kesehatan, di antaranya dapat mengakibatkan dehidrasi, halusinasi, menurunkan tingkat kesadaran, kematian, hingga gangguan kualitas hidup.

Berdasarkan penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) di 2017, jumlah penyalahgunaan narkoba di Indonesia mencapai lebih dari 3 juta orang pada kelompok usia 10 hingga 59 tahun. Mirisnya, kalangan pelajar dan mahasiswa menyumbang angka pengguna narkoba sebesar 27 persen di Indonesia.(www.idntimes.com)

Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin mengatakan angka pengguna narkoba di Indonesia terus naik dalam dua tahun terakhir berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) sejak 2017 sampai 2019.

“Angka penyalahgunaan narkoba di Indonesia tahun 2017 sebesar 3,3 juta jiwa dengan rentang usia 10 sampai 59 tahun. Tahun 2019 naik menjadi 3,6 juta,” kata Ma’ruf saat memberikan pidato di Acara Hari Anti-Narkotika Nasional, (CNN Indonesia, 26/6/2020).

Sementara di daerah, Polsek Masalembu, polres Sumenep, Madura, Jawa Timur berhasil ungkap kasus narkotika jenis sabu-sabu di wilayah Kepulauan Maselumbu Sumenep.
Dari hasil pengungkapan kasus tersebut, petugas berhasil mengamankan seorang perawat, warga Dusun Ambulung, Desa Sukajeruk, Kecamatan Masalembu, Sumenep. (POJOKSURAMADU.COM, 31/10/20).

Sekalipun penangkapan pelaku dan pengedar sudah sering diberitakan, namun kasus pun terus bermunculan. Ibarat peribahasa “mati satu tumbuh seribu”. Ternyata banyak sekali alasan dan motifnya. Seperti sebagai gaya hidup, pengaruh komunitas, mengobati stress, menghilangkan rasa sakit, lambang pemberontakan, agar lebih percaya diri,.menambah nyali, supaya dianggap dewasa, ketergantungan, dan motif ekonomi.

Baca Juga:  5 Manfaat Mengetahui Kesehatan Mental Sejak Remaja

Harga sebutir ekstasi memang lumayan tinggi, apalagi ekstasi impor dari Belanda sebagai pusat ekstasi dunia. Kenikmatan mengkonsumsi diiringi dengan besarnya putaran uang tadi membuat seseorang yang ekonominya “kalut” terkadang rela menjadi pengedar narkoba demi mendapatkan uang dalam jumlah besar dan waktu yang singkat. Kenapa demikian? Pola hidup kapitalisme seperti saat ini, akan sulit meninggalkan apa pun yang diakui sangat menggiurkan dan berpeluang mendatangkan limpahan rupiah.

Karenanya, keberadaannya seolah dipertahankan. Masih adanya pemakai malah semakin meningkat jumlahnya, menjadikan yang berpandangan materialisme menganggap barang ini masih dibutuhkan. Maka jadilah barang haram yang merusak ini tetap diproduksi dan diedarkan. Tidak peduli dengan bahaya yang mengancam. Yakni rusaknya generasi yang akan datang.

Pangkal penyebab maraknya penyalahgunaan narkoba ini, adalah lemahnya keimanan terhadap nilai agama, yang jelas-jelas melarang menggunakan zat berbahaya yang merusak akal tersebut. Keimanan pula yang bisa mencegah seseorang untuk mendapatkan kekayaan dari jalan yang tidak halal seperti menjadi produsen dan pengedar misalnya.

Maka penting bagi setiap keluarga berupaya untuk meningkatkan keimanan serta menjaga keharmonisan, sehingga setiap anggotanya menjauhi hal-hal negatif yang merusak.

Selain itu masyarakat yang tidak menjalankan fungsi sebenarnya sebagai kontrol sosial menambah tumbuh suburnya penggunaan narkoba. Sudah semestinya masyarakat menggalakkan kepedulian sosial, saling tolong-menolong dan melakukan perbaikan terhadap penyimpangan sosial yang terjadi. Hal ini membutuhkan keseragaman pemikiran dan perasaan di tengah masyarakat serta aturan padu yang mengikat.

Hal lain yaitu negara yang tidak memberi sanksi tegas dan terkesan tebang pilih baik terhadap pemakai, pengedar, maupun produsen berbagai jenis narkoba ini. Selain sanksi yang tegas, sudah semestinya negara menyelenggarakan sistem ekonomi yang berkeadilan, menyelesaikan hak-hak kepemilikan, pengelolaan dan pendistribusian kekayaan sumber daya alam yang begitu melimpah.

Baca Juga:  Jadi Budak Sabu, Dua Pemuda di Surabaya Diringkus Polisi

Sehingga apa yang semestinya dikelola oleh Negara untuk kemakmuran rakyat tidak diberikan kesempatan bagi investor asing untuk memiliki, mengeksplorasi dan mengelolanya. Hal yang justru membuat rakyat makin sengsara di negerinya sendiri.ibarat ayam mati di lumbung padi.

Pengelolaan kekayaan alam serta pendistribusiannya yang tepat ini, akan membuat perekonomian kita kuat dan mampu mengakomodasi segala hajat hidup rakyat. Maka persoalan ekonomi tidak akan lagi terjadi di negeri yang sebenarnya kaya raya ini.

Hal ini akan menekan bahkan menghilangkan kriminalitas dengan alasan kesulitan ekonomi. Negara semacam ini sebenarnya telah dicontohkan Rasulullah saw. Dalam Islam yang sempurna. Masyarakat yang Islami dan peduli juga memiliki kebiasaan saling mengingatkan pun lahir dalam peradaban Islam.

Generasi saat ini adalah harapan di masa yang akan datang. Namun, mustahil lahir generasi pemimpin manakala anak-anak dan remaja masa kini sudah dirusak racun narkoba. Mereka yang sudah diserang candu narkoba telah dibunuh masa depannya. Alih-alih menjadi pilar peradaban, mereka justru menjadi beban keluarga dan masyarakat yang ada di sekitarnya.

Bahkan boleh jadi menjadi ancaman bagi lingkungannya. Yakni ketika kecanduannya mendorong mereka melakukan tindak kejahatan lain, seperti menjadi pengedar narkoba yang siap mencari mangsa baru, mencuri, merampok, bahkan membunuh demi uang untuk mendapatkan barang haram tersebut.

Sudah semestinya setiap elemen mulai dari keluarga, masyarakat, dan negara memperhatikan hal-hal yang mendorong terwujudnya generasi gemilang. Masalah narkoba tidak mungkin selesai tuntas selama sistem yang melahirkannya tetap diterapkan, yakni sekulerisme-kapitalisme.

Karenanya, sampai kapan pun ancamannya terhadap nasib generasi bangsa akan senantiasa ada. Solusi menyelamatkan generasi dari bahaya narkoba hanya bisa kembali mengaca kepada ajaran Islam. Wallahu a’lam bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here