Sampang, Madura – Di tengah tingginya angka pernikahan dini yang masih menjadi bayang-bayang kelam bagi masa depan generasi muda di Kabupaten Sampang, sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Trunojoyo Madura hadir membawa harapan baru.
Mereka adalah Andi Wijoyo Kusomo, Moh. Wakidun Akmal Sulthonik, Mastina Dwita Alya, Ananda Maliya Khusna, dan Selfia Ananda Putri—lima mahasiswa yang tergabung dalam satu misi sosial: membangun kesadaran remaja tentang pentingnya menunda pernikahan demi masa depan yang lebih sehat dan sejahtera Melalui program bertajuk
“Pendidikan Berbasis Teman Sebaya (Peer Education) dalam Upaya Menekan Angka Pernikahan Dini Terhadap Dampak Kesejahteraan Sosial Anak”, mereka menggandeng SMPN 4 Sampang sebagai mitra kegiatan.
Sekolah ini dipilih bukan tanpa alasan—berdasarkan data dan observasi, SMPN 4 Sampang termasuk wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap praktik pernikahan dini, ditambah minimnya akses terhadap edukasi kesehatan reproduksi dan kesejahteraan anak.
Program ini tidak berhenti pada penyampaian materi, melainkan menghidupkan kelas dengan metode kreatif.
Para siswa diajak berdiskusi santai, berbagi pengalaman, hingga bermain peran tentang bagaimana cara menolak ajakan menikah dini. Dari sana lahir pemahaman sederhana namun kuat “Bahwa setiap anak berhak melanjutkan sekolah, mengejar cita – cita, dan menikmati masa remaja tanpa harus terbelenggu oleh pernikahan dini.
Dengan semangat yang membara dan kepedulian yang tulus, mereka hadir bukan hanya sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai sahabat yang membimbing siswa untuk saling mendukung dan menjaga satu sama lain.
“Anak SMP lebih percaya pada temannya sendiri. Itu sebabnya kami menekankan model Peer Education, agar mereka bisa saling mengingatkan ketika ada resiko yang mengarah ke pernikahan dini”, tutur salah satu anggota kelompok KKNT.
Baca juga : Mahasiswa KKNT Hadirkan Pohon Impian di SMPN 4 Sampang: Menumbuhkan Harapan Lewat Kreativitas
Melalui sesi diskusi terbuka, permainan edukatif, dan simulasi interaktif, para siswa diajak untuk memahami bahwa masa depan mereka terlalu berharga untuk dikorbankan oleh keputusan yang terburu-buru.
Mereka belajar mengenali tekanan sosial, memahami hak-hak anak, dan membangun keberanian untuk berkata “tidak” terhadap pernikahan dini.
Kegiatan dikemas juga dalam permainan seperti permainan ular tangga maupun permainan yang mengyunakan website wordwall.
Mahasiswa KKNT tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menciptakan hubungan yang hangat dan setara, sehingga pesan-pesan penting tentang kesehatan reproduksi dan kesejahteraan sosial anak dapat diterima dengan lebih terbuka.
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah. Kepala Sekolah SMPN 4 Sampang, Muhammad Wahyudi, S.Pd., menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif mahasiswa yang telah membangun pendekatan edukatif yang relevan dengan karakter siswa.
“Kami merasa sangat terbantu oleh Pendekatan edukasi teman sebaya ini membuat pesan-pesan penting lebih mudah diterima oleh siswa, karena mereka merasa lebih nyaman dan terbuka saat berdiskusi dengan teman sebayanya,” ujarnya.
Program ini tidak hanya menyasar peningkatan pengetahuan siswa tentang risiko pernikahan dini, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif guru dan tenaga pendidik sebagai mitra dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif.
Program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Trunojoyo Madura yang dilaksanakan di SMPN 4 Sampang tidak hanya menjadi wadah pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, tetapi juga membawa dampak ganda yang signifikan.
Hal ini ditegaskan oleh Dosen Pembimbing Lapangan, Indra Jaya Kusuma Wardhana, S.Sos., M.Sosio., yang turut memantau langsung jalannya kegiatan.
“Mahasiswa tidak hanya belajar mengabdi, tapi juga menjadi agen perubahan sosial. Sementara itu, siswa mendapat pengetahuan baru yang melindungi mereka dari risiko kehilangan hak pendidikan dan masa depan,” ungkapnya.
Kini, SMPN 4 Sampang bukan lagi sekadar tempat belajar akademik. Sekolah ini telah bertransformasi menjadi ruang tumbuhnya kesadaran baru—bahwa generasi muda Madura berhak menjalani masa remajanya dengan bahagia, sehat, dan sejahtera, bebas dari jerat pernikahan dini yang kerap membatasi mimpi dan masa depan mereka.
Dengan keterlibatan aktif guru, siswa, dan mahasiswa KKNT, SMPN 4 Sampang menjadi contoh nyata bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai di atas kertas, tetapi juga tentang bagaimana membekali anak-anak dengan pengetahuan dan keberanian untuk menjaga hak-hak mereka—terutama hak untuk menunda pernikahan dan melanjutkan pendidikan.
Gerakan ini menjadi titik awal perubahan sosial yang lebih luas. Di tengah tantangan budaya dan tekanan sosial yang masih kuat, SMPN 4 Sampang berdiri sebagai simbol harapan bahwa anak-anak Madura bisa tumbuh dalam lingkungan yang mendukung, terlindungi, dan penuh semangat untuk meraih masa depan yang lebih baik.


