117 tahun Indonesia bangkit dari keterpurukan 80 tahun berlalu dan sangsaka berkibar bebas dibumi pertiwi reformasi tiada henti namun bagaimana dengan bentala edukasi, Di Negeri ini pesantren bukan hanya sekadar ruang menempa agama, akan tetapi jauh lebih dari pada itu rumah bagi peradaban, tempat nilai, adab, dan ilmu berbaur dalam keseharian yang sederhana.
Dari sujud hingga diskusi kitab yang selalu berdenyt ritme keikhlasan dan ketekunan dalam kehidupan santri. Iroisnya di tengah hiruk – pikuknya media modern, ksederhanaan hanya ditafsir secara keliru.
Suatu waktu lalu media menyoroti dan menampilkan segelintir potongan kehidupan santri dengan cara yang tidak adill. Sujud yang bermakna sebagai bentuk ketundukan pada tuhan justru diplintir sebagai bahan visual semata bahkan menjadi bahan yang mengundang tawa.
Seotol ssu yang menjadi simbol kesederhanaan dari mandirinya seorang santri dan kebersamaan, dipotong dipersepsikan seolah – olah bernuansa ganjil, sehingga timbul kontroversi bkan karna fakta yang salah, tapi cara pandang yang keliru
Ironinya media yang menjadi sumber pengetahuan jembatan pengetahuan, justru menjadi kaca benggala menjadi pemantul realitas secara terdistori. Nilai – nilai luhur pesantren, kesantunan, ketaatan dibungkus dengan bumbu sensasi dan terkekeh yang seolah dunia santri hanya kehidupan yang aneh dan lucu. Padahal di balik tembok pesantren, pergulatan panjang antara ilmu dan iman, antara disiplin dan pengabdian.
Letak kesalahannya bukan hanya pada framing tetapi juga soal empati. Dalam tiap cercah potongan yang ditayangkan, ada wajah – wajah muda – mudi yang menempa ilmu, ada guru yang mencuahlan ilmu tanpa pamrih, Namun hal itu seakan hilang ditelan algoritma tontonan, framing buan hanya merendahkan tetapi menciptakan kontroversi dan juga skat antar masyarakat dan pesantren.
Bangsa yang berakar pada tradisi keilmuan dan nilai-nilai religius, mestinya menolak bentuk narasi tunggal yang mendistorsi citra pesantren. Sujud tidak dapat direduksi sebagai simbol ketundukan terhadap sesama manusia, melainkan merupakan manifestasi tertinggi dari penghambaan kepada Tuhan.
Demikian pula, susu tidak semestinya ditafsirkan sebagai lambang keluguan, tetapi sebagai representasi kesederhanaan, kemandirian, dalam kehidupan santri. Sementara itu, salah paham yang dibiarkan tanpa klarifikasi epistemik akan melahirkan jarak kultural antara pesantren dan masyarakat, mengikis penghormatan terhadap warisan moral yang telah lama menopang peradaban bangsa.
Arus deras digitalisasi dan konstruksi informasi yang serba cepat, media maupun masyarakat dituntut mereformulasi cara pandang terhadap realitas pesantren. Pesantren tidak seharusnya diposisikan sebagai entitas marginal, tetapi sebagai pusat produksi ilmu dan nilai yang mengintegrasikan rasionalitas dengan spiritualitas.
Sebelum memberi penilaian berdasarkan tayangan visual atau narasi yang parsial, penting untuk mengedepankan empati epistemik dan perspektif moral. Sebab, di balik setiap sujud tersimpan perjuangan intelektual dan spiritual; di balik segelas susu terkandung makna kebersamaan dan kemandirian; dan di balik setiap salah paham, senantiasa terbuka ruang untuk rekonsiliasi makna serta pemulihan cara pandang.
Penulis: Siti Nurul Jannah


