KKN atau kuliah kerja nyata adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh perguruan tinggi sebagai bentuk pengaplikasian salah satu point Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat.
Universitas Trunojoyo Madura sebagai satu-satunya perguruan tinggi negeri di Madura yang masih menerapkan kegiatan KKN sebagai bentuk komitmen kampus dalam menciptakan mahasiswa-mahasiswi yang unggul, tangguh, dan mandiri dalam membangun desa yang ada di Madura.
Pada pelaksanaan KKN semester Genap 2025 ini, Universitas Trunojoyo Madura mengirimkan kembali ratusan mahasiswa untuk pengabdian masyarakat ke beberapa daerah seperti Sumenep, Bangkalan, Pamekasan, Blitar, Batu, dan Magetan. Universitas Trunojoyo Madura bekerjasama dengan salah satu Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia untuk memberikan pembekalan tentang ekonomi digital dengan harapan supaya masyarakat desa lebih sadar akan kemajuan teknologi di dunia ini.
Misi Ekonomi Digital ini dibawa dan diterapkan dalam perencanaan program kerja KKN Universitas Trunojoyo Madura. Salah satunya adalah KKN kelompok 13. KKN kelompok 13 membawa misi ekonomi digital ini dengan menyasar pada beberapa UMKM yang ada di Desa Legung Barat, Sumenep.
Dalam pelaksanaannya, KKN UTM Kelompok 13 terjun langsung dalam kelompok UMKM dan memperkenalkan secara langsung tentang Qris termasuk keunggulan, cara pembuatan hingga cara kerja Qris beserta bagaimana cara menarik hasil penjualan ke dalam rekening pribadi.
Baca juga : KKN 11 UTM Edukasi Pembibitan dan Ubah Limbah Sapi Jadi Pupuk Kandang di Desa Ponjanan Barat
Beberapa pelaku UMKM tertarik dengan keunggulan dan merasa dengan adanya Qris, usaha yang mereka miliki dapat mengikuti perkembangan zaman akan kemajuan teknologi dan lebih mempermudah masyarakat desa Legung Barat, Sumenep dalam proses transaksi jual-beli. Salah satu sample kemudahan transaksi dalam berbisnis disampaikan langsung oleh ibu Aisyah, pelaku UMKM yang memiliki usaha jual-beli kosmetik.
Ibu Aisyah bercerita bahwa sebelumnya beberapa pelanggan pernah menanyakan kesediaan Qris dalam tokonya, namun sangat disayangkan karena saat itu dirinya tidak paham dalam pembuatan Qris sehingga tidak dapat memberikan pelayanan yang memuaskan.
“Iya dek, saya tuh sering ditanya-tanya sama beberapa perempuan beli. Bu disini bisa bayar pakai Qris atau engga. Sering saya ditanyain begitu dek, tapi karena saya gak paham sama Qris makanya saya tidak menyediakannya. Tapi kan sekarang udah punya ya dek, saya jadi gak bingung lagi kalau ada yang tanyain” Ungkap ibu Aisyah
Antusias dalam pembuatan Qris tidak hanya ditunjukan oleh ibu Aisyah, pak Rahmat pemilik usaha rental PS di Desa Legung Barat juga mengungkapkan rasa senangnya terhadap usaha pengenalan dan pembuatan Qris yang dilakukan oleh kelompok KKN 13. Beliau menyampaikan bahwa program kerja yang dilakukan sangat bagus dan dapat membantu improvisasi usaha yang dilakukan.

“Sebenernya saya sudah sering memakai qris untuk beberapa transaksi pembayaran, namun untuk qrisnya sendiri saya belum punya. Kalau masnya mau bantu bikinin itu akan sangat membantu saya banget untuk usaha saya ke depannya nanti”. Ucap Pak Rahmat
Dengan adanya pengenalan dan pembuatan Qris pada beberapa UMKM Desa Legung Barat dapat menjadi pintu awal dalam pemerataan digitalisasi keuangan dalam berbisnis, sehingga terjadi perataan ekonomi digital baik di kota hingga ke desa-desa.


