Pembentukan pola pikir dan pola sikap banyak dibentuk oleh pengajaran yang diberikan seorang guru. Saat profesi guru memainkan peran sentral dalam pembangunan suatu bangsa, jadilah bangsa tersebut maju dan beradab. Sebagaimana yang terjadi di negara Jepang atau Korea Selatan, yang sesaat setelah mengalami keterpurukan dengan cepat melesat maju karena begitu memerhatikan profesi guru.
Di Indonesia, nyatanya profesi guru ini tidak banyak diminati. Menurut survey Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia, hanya ada 11 persen dari generasi muda yang tertarik menjadi guru (wantimpres.com, 25/11/2025). Di sisi lain, kebutuhan guru nasional sebenarnya sangat besar yakni 50.000 orang per tahun. Profesi ini memang tidak menjanjikan kesejahteraan di negeri ini. Ditambah lagi, beban tugas yang semakin menumpuk di pundak para guru.
Belumlah mencapai kesejahteraan dalam kehidupan keluarga kecilnya, tak jarang para guru dihadapkan masalah dalam aktivitas mengajarnya. Seperti yang baru ini terjadi pembulian yang dilakukan para siswa terhadap seorang guru di sebuah sekolah unggulan Purwakarta (bandung.kompas.com,20/04/2026). Dalam video yang beredar, nampak seorang siswa perempuan diikuti teman-temannya mengacungkan jari tengah yang biasa diartikan sebagai tanda kebencian di belakang seorang ibu guru yang akan meninggalkan kelas.
Krisis adab yang terus berulang semacam itu sudah banyak terjadi di sekolah dengan berbagai bentuk, baik yang unggulan maupun tidak. Hal ini menunjukkan profesi guru tidak diberikan perhatian yang besar oleh negara, seakan di ‘sia-sia’. Guru dibiarkan sendiri mendidik generasi sementara negeri ini malah membebani dengan tugas administratif dan gaji yang tidak sebanding dengan perjuangan para guru. Beginilah konsep negara kapitalis yang aturannya hanya terfokus untuk mementingkan para pemilik modal sementara aspek pembangunan perdaban mulia disisihkan.
Dalam Islam, profesi guru sangat dimuliakan. Guru diberikan perhatian besar baik dalam hal kesejahteraan maupun tugas khusus dalam membangun pola pikir dan pola sikap yang benar. Diharapkan para guru mampu mencetak generasi pemimpin peradaban. Beberapa dalil tentang kemuliaan profesi guru, diantaranya:
Pertama,
وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ .
Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 5027]
Mengajar adalah aktivitas pokok seorang guru. Mulianya guru yang mengajar Al-Qur’an secara khusus disampaikan dalam hadits ini, sebab Al -Qur’an adalah pedoman hidup manusia. Rasulullah telah mencontohkan bagaimana cara hidup bersama Al-Qur’an yang luar biasa bisa mengarahkan kehidupan manusia kepada peradaban yang mulia. Oleh karenanya, disamping mengajarkan tahsin dan tajwid, juga diajarkan kandungan apa yang ada di setiap ayat dalam Al-Qur’an. Dengan begitu, pengajaran Al-Qur’an akan membekas dalam setiap jiwa dan menjadi dasar berbikir dan bersikap sehingga jiwanya hidup tergerak untuk menjadikan bumi tempat ia berpijak ini selaras dengan Al-Qur’an.
Kedua,
Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, hadits dari sahabat Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).
Setiap kata dan laku guru dapat menjadi contoh. Guru yang senantiasa menjaga dirinya tetap dalam kebenaran , kemudiaan diikuti oleh para anak didiknya, dia mendapatkan pahalanya juga. Semua guru yang mengajarkan ilmu baik ilmu agama maupun ilmu kehidupan seperti matematika, pengetahuan alam dan sosial, bahasa, dan informatika, adalah amal kebaikan yang begitu besar kebaikannya jika di kemudian ahri apa yang diajarkan itu diserap oleh para anak didiknya untuk membangun kemajuan kehidupan ini. Oleh karenanya, agar tidak hanya menjadi kepuasan intelektualitasan semata , maka dalam mengajarkan teori juga dibutuhkan penyambungan dengan kehidupan nyata. Dengam begitu akan tergambar amal kebaikan apa yang bisa di lakukan untuk pembangunan peradaban manusia dari pemahaman ilmu tersebut. Ini termasuk ibadah yang mendapatkan pahala disisi Allah. Gurulah yang mula memberikan pemahaman ini, sungguh mulia, bukan?
Ketiga,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
Pada dasarnya, Allah-lah yang memberikan kefaqihan dalam diri seseorang. Gurulah yang menjadi perantara ilmu itu bisa sampai pada dirinya. Ilmu-ilmu yang mampu terserap dan membekas pada anak didik , akan bermanfaat karena dibawa terus selama hidupnya. Misalnya, guru yang mengajarkan membaca dan berhitung usia dini begitu penting sekali. Kemampuan dasar ini sangat dibutuhkan untuk membuka jendela kehidupan yang memngantarkan anak didik membangun kehidupannya dan masyarakatnya menggapai kemajuan. Mulia sekali guru yang mengajarkannya.
Keempat,
Hadits Al-Arbain An-Nawawiyah #34
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 49]
Di zaman yang penuh dengan problematika saat ini, dibutuhkan lisan-lisan yang jujur untuk memenangkan suara kebenaran. Aktivitas berbicara adalah aktivitas yang sangat melekat pada profesi guru. Tetaplah untuk terus menyampaikan yang benar, karena ucapan guru sangat bisa menjadi inspirasi bagi anak didiknya. Jika lemah mengucap kebenaran saat ini, apa yang akan diucapkan generasi setelah ini, begitulah kalimat masyhur dari seorang guru, syaikh Taqiyuddin An-Nabhani.
Kemuliaan guru ini akan semakin bersinar saat negara juga memahami kemuliaan ini. Selama asas sebuah negara adalah kapitalisme, maka hanyalah materi yang diperjuangkan dalam setiap kebijakannya. Tidak peduli apakah generasi memiliki pola pikir dan pola sikap yang benar atau tidak. Peduli hanya pada bagaimana pendidikan bisa menghasilkan cuan untuk para pemilik modal. Jauh dari berpikir kesejahteraan rakyatnya, termasuk kesejahteraan gurunya.
Semoga negeri ini segera bangun dan berbenah dari tipuan sistem kapitalisme yang memenjarakan fitrah manusia, sebagai hamba Allah dengan segenap potensi besarnya membangun peradaban yang mulia. []


