kerja Sama

Kirim Tulisan

Home

ic_fluent_news_28_regular Created with Sketch.

Berita

ic_fluent_phone_desktop_28_regular Created with Sketch.

Teknologi

Wisata

Pendidikan

Bisnis

Keislaman

ic_fluent_incognito_24_regular Created with Sketch.

Gaya Hidup

Sosial Media

Bank Sentral Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 4,7%-5,5%

Bank Indonesia (BI) melalui Gubernur Perry Warijyo memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 berada di kisaran 4,7% hingga 5,5%. Proyeksi ini di-sampaikan dalam berbagai ke-sempatan resmi sebagai bagian dari asesmen BI terhadap kon-disi makroekonomi global dan domestik terkini.

Angka tersebut mencerminkan optimisme yang hati-hati (cautious optimism) di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, seperti perlambatan ekonomi dunia, tensi geopolitik, serta arah kebijakan bank sentral utama dunia yang belum sepenuhnya longgar.
Proyeksi ini juga sejalan dengan kerangka teori pertumbuhan ekonomi yang banyak digunakan oleh Perry Warijyo dalam melihat prospek Indonesia secara struktural dan berkelanjutan.

Dalam berbagai forum, Perry Warijyo sering merujuk pada teori pertumbuhan ekonomi neoklasik dan endogen sebagai kerangka analisis utama. Teori neoklasik menekankan peran akumulasi faktor produksi-modal (K), tenaga kerja (L), dan teknologi (A) dalam mendorong output (Y). Sementara itu, teori pertumbuhan endogen menekankan pentingnya inovasi, kualitas institusi, stabilitas makro-ekonomi, serta sumber daya manusia sebagai pendorong pertumbuhan jangka panjang.

BI menilai, untuk mencapai pertumbuhan di kisaran 4,7%-5,5%, Indonesia perlu terus memperkuat ketiga pilar tersebut: akumulasi modal, peningkatan produktivitas, dan inova-si ekonomi.

Dari sisi permintaan, pertum-buhan akan ditopang oleh kon-sumsi rumah tangga yang tetap kuat, investasi yang meningkat
serta kinerja ekspor yang masih kompetitif di tengah perlambatan global. Sementara dari sisi penawa-ran, BI menekankan pentingnya reformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi ekonomi, hilirisasi industri, dan digitalisasi.

Kebijakan moneter BI akan tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi terutama inflasi yang rendah dan stabil, nilai tukar yang ter-kendali, serta stabilitas sistem keuangan. Stabilitas ini merupa-kan prasyarat penting agar pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung berkelanjutan.

Perry Warijyo menegaskan, pertumbuhan ekonomi bukan semata soal angka, tetapi juga kualitas. Pertumbuhan harus inklusif, berkeadilan, dan mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

Risiko terhadap proyeksi ini tetap ada. Ketidakpastian geopolitik, volatilitas pasar keuangan global, perubahan iklim, hingga perlambatan ekonomi Tiongkok menjadi faktor yang perlu di waspadai. Namun, dengan fundamental ekonomi domestik yang relatif kuat, BI yakin Indonesia memiliki ruang untuk tumbuh lebih tinggi.

Ke depan, sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, dan reformasi struktural menjadi kunci. BI akan terus berkoordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi sekaligus mendorong transformasi struktural.

Proyeksi pertumbuhan 4,7%-5,5% adalah target yang realistis namun menantang. Dengan kebijakan yang tepat dan kerja sama seluruh pemangku kepentingan, Indonesia dapat mencapai pertumbuhan yang kuat, stabil, dan berkelanjutan.

Teori Pertumbuhan Ekonomi Perry Warjiyo (Perspektif BI)

Penulis : Jefri Awaluddin

Artikel Terkait :

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Postigan Populer

spot_img