Pamekasan – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 08 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengadakan kegiatan sosialisasi bertema “Inofasi Pemanfaatan Limbah Batang Tembakau sebagai Pestisida Nabati Ramah Lingkungan” di Desa Sana Tengah, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan, pada Kamis (17/7).
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah petani lokal, Masyarakat setempat, dan perwakilan kelompok tani. Sosialisasi ini merupakan salah satu program kerja dari mahasiswa KKN yang bertujuan mengedukasi masyarakat desa agar mampu mengolah limbah hasil pertanian, khususnya batang tembakau, untuk dijadikan produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomis.
Menurut Penanggung Jawab Program kerja ini, Zahra Najma Atika, program ini dilatarbelakangi oleh banyaknya limbah batang tembakau yang selama ini dibiarkan menumpuk atau dibakar setelah panen, yang tidak dimanfaatkan secara optimal. Padahal, terdapat kandungan nikotin alami dalam batang tembakau yang memiliki potensi sebagai bahan dasar pestisida nabati dan dapat digunakan untuk mengendalikan hama tanaman secara lebih aman dan ramah lingkungan.
“Kami melihat potensi besar dari batang tembakau yang selama ini tidak dimanfaatkan dengan baik. melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan solusi sederhana dan berbiaya rendah kepada para petani, agar mereka lebih mandiri dalam pengelolaan pertanian tanpa terlalu bergantung pada pestisida kimia,” jelas Farhan.
Sosialisasi berlangsung interaktif, yang dibuka dengan pemaparan materi dari mahasiswa KKN dari program studi Agroteknologi dan Teknologi Industri Pertanian. Dalam sesi ini, peserta dikenalkan pada konsep pestisida nabati, keunggulan dibanding pestisida kimia, serta cara-cara sederhana untuk membuatnya di rumah.
Setelah pemaparan materi, peserta diajak untuk langsung mempraktikkan cara pembuatan pestisida nabati berbahan batang tembakau. Proses pembuatan dimulai dari pencacahan batang tembakau, setelah dicaca dilakukan penjemuran hingga kering, kemudian perebusan, lalu penyaringan dan pencampuran dengan larutan sabun cair. Hasil akhirnya dapat disemprotkan ke tanaman yang terserang hama seperti ulat, kutu daun, atau belalang.

Praktik Pembuatan Pestisida Dari Limah Batang Tembakau Bersama Petani
Bapak Haqi, salah satu petani yang mengikuti kegiatan ini, mengaku antusias dan bersemangat mencoba inovasi ini.
“Biasanya batang tembakau cuma dibakar saja. Baru tahu ternyata bisa dipakai buat usir hama. Kalau memang berhasil, ini bisa sangat membantu karena tidak perlu beli pestisida mahal lagi,” ungkapnya.
Perwakilan kelompok tani, Bapak Nasih, juga menyambut baik kegiatan sosialisasi ini. Menurutnya, inovasi seperti ini sejalan dengan kebutuhan masyarakat desa yang mayoritas berprofesi sebagai petani.
“Kami sangat terbantu dengan kegiatan dari adik-adik mahasiswa ini. Harapannya nanti bisa dibuat pelatihan lanjutan dan hasilnya dibagikan ke para petani lain di desa Sana Tengah,” tuturnya.
Salah satu pemateri, Risma Indah Sari, menjelaskan bahwa batang tembakau mengandung nikotin yang dapat membunuh hama seperti ulat grayak, kutu daun, dan belalang.
“Dengan teknik perebusan hingga mendidih , kemudian disaring dan dicampur sedikit sabun cair, setelah dingin larutan ini bisa langsung digunakan untuk menyemprot tanaman namun lebih baik difermentasi beberapa hari untuk hasil yang lebih maksimal. Tidak perlu alat khusus, bisa memakai botol bekas atau alat semprot sederhana,” jelas Risma di hadapan peserta.
Kegiatan ditutup dengan diskusi santai dan sesi tanya jawab mengenai keluh kesah yang dialami petai di Desa Sana Tengah. Kegiatan ini mendapat respon positif dari masyarakat dan Program ini juga menjadi bagian dari tujuan mahasiswa KKN dalam mewujudkan Desa Sana Tengah yang mandiri secara pertanian dan ramah lingkungan.
Dengan adanya program seperti ini, mahasiswa berharap pemanfaatan limbah pertanian tidak lagi dianggap sepele, melainkan menjadi peluang ekonomi baru sekaligus kontribusi terhadap pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Program ini menjadi bagian dari komitmen mahasiswa KKN 08 UTM dalam mendukung pertanian berkelanjutan berbasis kearifan lokal. Mereka berharap ke depan, inovasi ini bisa diperluas ke desa-desa lain, terutama di daerah sentra tembakau, agar pemanfaatan limbah pertanian menjadi solusi ekologis sekaligus peluang ekonomi baru bagi masyarakat.


