Pojoksuramadu.com – Pelajaran matematika kerap menjadi tantangan tersendiri bagi anak-anak sekolah dasar. Metode mengajar konvensional yang berfokus pada hafalan rumus sering membuat siswa jenuh dan takut saat dihadapkan pada soal hitungan. Kondisi ini ditemui oleh tim KKN Kelompok 04 Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) saat mendampingi siswa-siswi di SDN 1 Tebul, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan.
Melalui program bimbingan belajar selama 10 hari, tim KKN mengidentifikasi beberapa siswa seperti Karel, Ibra, dan Akmal yang sudah lancar membaca namun mengalami hambatan pada operasi hitung pembagian. Mereka cenderung sekadar menebak jawaban atau mengandalkan hitungan jari tanpa paham konsep dasarnya. Untuk mengatasinya, mahasiswa menerapkan Individualized Education Program (IEP) atau Program Pembelajaran Individual (PPI) melalui pendekatan fisik yang interaktif.
Pendampingan diawali menggunakan media konkret stik es krim untuk menanamkan pemahaman bahwa pembagian adalah proses “pengurangan berulang sampai habis”. Siswa diajak mengambil dan membagi stik secara fisik ke dalam wadah-wadah kecil. Hasilnya luar biasa: tingkat kelancaran berhitung siswa yang awalnya hanya 35% melesat hingga 80% saat dibimbing dengan media stik es krim.

Setelah konsep dasar terbentuk, pembelajaran dilanjutkan dengan Monolitung (Monopoli Hitung). Melalui papan permainan warna-warni dan kartu soal interaktif, kecemasan matematika siswa berubah menjadi antusiasme belajar. Pada hari ke-10, kelancaran berhitung siswa mencapai puncaknya hingga 90%.
Sebagai bentuk keberlanjutan, tim KKN UTM menyusun modul rekam jejak perkembangan siswa untuk diserahkan kepada pihak SDN 1 Tebul sebagai panduan pendampingan khusus. Inovasi sederhana ini membuktikan bahwa dengan media yang tepat dan menyenangkan, anak-anak dapat dengan mudah menaklukkan ketakutannya terhadap matematika.


