kerja Sama

Kirim Tulisan

Home

ic_fluent_news_28_regular Created with Sketch.

Berita

ic_fluent_phone_desktop_28_regular Created with Sketch.

Teknologi

Wisata

Pendidikan

Bisnis

Keislaman

ic_fluent_incognito_24_regular Created with Sketch.

Gaya Hidup

Sosial Media

Karhutla Berulang, Sejahtera Perempuan dan Generasi Terhalang

Pojoksuramadu.com – Viral potongan video rapat Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah dimana di dalamnya ada pernyataan Kadisdik Kalteng Muhammad Reza Prabowo soal dampak libur sekolah terhadap dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), peliburan sekolah akibat kabut asap berpotensi membuat dapur MBG dan kantin sekolah berhenti beroperasi (detikNews.com, 1-9-2026). Sesaat setelah viral, Muhammad memberi klarifikasi, sekaligus meminta masyarakat untuk lebih bijak, tidak memotong video begitu saja sebab pembahasannya sebenarnya jadi disalah artikan.

Tanpa viralnya video itu sebenarnya rakyat sudah cukup mengelus dada saking lambatnya penanganan pemerintah, dengan arogan menolak bantuan asing sebagaimana bencana alam yang menimpa Sumatra awal tahun lalu, dan hingga kini belum beres juga. Begitu pentingnya MBG sehingga nyawa mereka yang berkalang kabut dan asap kebakaran dianggap remeh temeh?

Dokter spesialis paru dan pernapasan Dr. Dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), M.Pd.Ked, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama bagi kelompok rentan antara lain ibu hamil, anak-anak, balita, lansia, hingga penderita penyakit kronis saluran napas dan jantung seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), penyakit jantung, dan gagal jantung (antaranews.com, 26-8-2026).

Kalimantan Selatan, salah satu wilayah yang terdampak menunjukkan tak hanya hewan endemik yang terpanggang, namun perempuan harus menghadapi beban ganda, selain mengalami gangguan kesehatan reproduksi/kehamilan, mereka masih harus mengurus anggota keluarga yang sakit di tengah kelangkaan air bersih dan rusaknya sumber penghidupan harian.

Dan meski seringnya perubahan cuaca ekstrem menjadi kambing hitam penyebab Karhutla, nyatanya peristiwa terbakarnya mayoritas tanah gambut itu terus berulang akibat pembukaan lahan massif, bukan oleh penduduk adat yang memang punya kebiasaan membuka lahan untuk berladang, karena luasan areanya tak seluas yang hari ini terbakar. Jelas titik api berada di kawasan konservasi bahkan terdaftar di satu perusahaan tertentu. Ini menunjukkan tidak ada samasekali unsur alami, melainkan rekayasa. Sementara respons pemerintah sebatas pemadaman di hilir tanpa menghenntikan pemicu utama di hulu. Beberapa kamera amatir bahkan menangkap sosok pembawa bibit sawit untuk ditanam. Masihkah yakin jika ini bukan ulah tangan manusia?

Kapitalisme Tak Mengenal Halal Haram

Pertanyaannya, siapa yang hari ini begitu mengabulkan permintaan pemilik modal jika bukan negara? Seribu alasan akan tercipta jika asas manfaat yang menjadi landasan. Karhutla lahir dari sistem kapitalisme yang mengizinkan pembentukan lahan secara masif demi keuntungan korporasi, tanpa memedulikan keselamatan manusia dan ekosistem. Padahal ketika manusia memperturutkan hawa nafsu, merajakan rasa tamak, dampaknya luar biasa.

Beban krisis sosial dan kesehatan diserahkan begitu saja kepada keluarga, tanpa dukungan berarti dari negara jelas membuat perempuan, sebagai bagian paling rentan dalam hirarki masyarakat terpaksa menanggung beban domestik yang makin berat (merawat anak/balita yang sakit akibat asap), sementara jaminan perlindungan lingkungan dan kesehatan dari negara sangat minim.

Kekuasaan di tangan nyatanya hanya membuat pemerintah memosisikan diri sebagai pemadam kebakaran dan pemberi imbauan medis (seperti memakai masker atau stayed indoor). Ini sama saja membiarkan masa depan kesehatan generasi terus terancam setiap tahun.

Pemimpin Periayah Hanya Dalam Islam

Hutan adalah kepemilikan umum (mikiyyah Al-ammah) secara syariat haram diprivatisasi baik oleh individu maupun kelompok. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. ,“Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal, yaitu padang rumput, air dan api.“ (HR.Abu Dawud). Yang membuat sesuatu tersebut sebagai kepemilikan umum (al-milkiyah al-âmmah), dan mencegah individu tertentu untuk memilikinya, tidak lain karena semua manusia sangat membutuhkannya. Sehingga ia menjadi fasilitas publik yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat selamanya. Bahkan sebuah komunitas akan tercerai-berai untuk mencarinya jika sesuatu itu sangat sedikit atau habis.

Disinilah peran negara yang sangat krusial, dengan kekuasaan di tangannya memberikan jaminan agar kepemilikan umum itu tetap bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Islam secara tegas mengharamkan segala bentuk tindakan yang membahayakan dan merusak alam. Rasulullah Saw. juga bersabda, “Imam (pemimpin) adalah ra’in dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Maknanya negara Khilafah bertindak sebagai pelindung (junnah) dan pengurus (raa’in), kewajiban memberikan jaminan jaring pengaman kesehatan, fasilitas medis berkualitas gratis, serta pasokan air bersih bagi perempuan dan anak-anak, sehingga beban domestik keluarga tidak makin terhimpit saat bencana ada dalam kewenangannya.

Khilafah wajib menindak tegas dan memberikan sanksi berat (ta’zir) kepada pelaku perusakan lingkungan/pembakar hutan. Dan di saat yang sama, negara harus menghentikan seluruh izin eksplorasi lahan yang merusak ekosistem demi menjamin kualitas hidup generasi mendatang. Semua ini hanya bisa diselesaikan ketika sistem kapitalisme dicabut dan diganti dengan syariat Islam mulia. Allah swt.berfirman, Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” (TQS Al Madinah:50). Wallahualam bissawab.

Artikel Terkait :

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Postigan Populer

spot_img