Home Daerah Pemkab Sumenep Ajukan Tambahan Tambang Fosfat, FKMS: Harus Ada Kajian dan penelitian

Pemkab Sumenep Ajukan Tambahan Tambang Fosfat, FKMS: Harus Ada Kajian dan penelitian

SHARE
FKMS saat melakukan audiensi di Kantor Bappeda Sumenep, Foto:Istimewa

POJOKSURAMADU.COM, Sumenep – Pemerintah Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur berencana mengajukan tambahan lokasi tambang fosfat

Rencana itu disampaikan dalam rapat pembahasan review Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tahun 2013 – 2033 dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur beberapa waktu lalu.

Sembilan Kecamatan yang direncanakan pemerintah untuk tambahan lokasi tambang fosfat, yaitu Kecamatan Pasong-Songan, Batuan, Pragaan, Batang-Batang, Dungkek, Talango, Saronggi.

“Termasuk Kecamatan Dasuk dan Kecamatan Rubaru,” kata Kepala Bappeda Sumenep, Yayak Nurwahyudi saat audiensi dengan FKMS, Kamis (21/1/2021)

Saat ini kata dia, sudah 8 kecamatan masuk  draf RTRW yang akan dijadikan tambang fosfat, yaitu Kecamatan Batu Putih, Ganding, Manding, Lenteng, Guluk-Guluk, Bluto, dan Kecamatan Arjasa serta Kecamatan Gapura.

Baca Juga:  Puluhan Paus Pilot Terdampar di Pantai Modung Dikubur

“Apabila disetujui dalam pembahasan nanti, jumlahnya ada 17 kecamatan di Kabupaten Sumenep yang akan menjadi lokasi pertambangan fosfat,” ucapnya.

Akan tetapi menurut dia, pembahasan kapasitas tambang nantinya akan dibahas dalam proses dan tahapan perizinan dan juga pihaknya belum melakukan kajian secara mendalam mengenai daya tampung dan daya dukung lingkungan.

“Jadi masih ada kajian-kajian yang kami ajukan, nanti akan ada proses perizinan itulah akan dinyatakan layak berapa persen, berapa ton dan berapa hektare yang layak ditambang,” pungkasnya

Baca Juga:  Semprot Disinfektan, Polres Sampang Terjunkan Mobil Water Cannon

Dikonfirmasi terpisah, koordinator FKMS, Abdul Mahmud, menyayangkan tidak adanya kajian yang mendalam mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Katanya, daya dukung perlu dipertimbangkan dalam perencanaan tata ruang wilayah, agar mampu mendukung aktivitas pemanfaatan lahan secara berkelanjutan.

“Bappeda Sumenep bukan berdasarkan kajian atau penelitian terhadap dampak lingkungan hanya berdasarkan pada kajian potensi alam yang itu dilakukan oleh beberapa penelitian,” ujarnya.

Harus ada kajian holistik dan komprehensif mengenai perencanaan tambang fosfat tersebut agar tidak merusak lingkungan dan merugikan masyarakat.

“Kami mengusulkan harus ada kajian penelitian terhadap dampak lingkungan,” pintanya (Bambang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here